Advertisement
Peristiwa Daerah

Menanam Harapan di Hari Peringatan Mangrove Sedunia

Panas terik matahari menyengat kulit, namun tidak menyurutkan semangat puluhan siswa SDN 15 menanam mangrove di lahan seluas satu hektar di perairan Teluk Palu-Donggala, ...

TIMES Indonesia,
Menanam Harapan di Hari Peringatan Mangrove Sedunia
Siswa SDN 15 Banawa, Kabupaten Donggala, menanam mangrove di hari peringatan mangrove sedunia. Bertempat di perairan Teluk Palu-Donggala, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Selasa (26/7/2022). (Foto: Sarifah Latowa/ TIMES Indonesia)
A-AA+

PALU Panas terik matahari menyengat kulit, namun tidak menyurutkan semangat puluhan siswa SDN 15 menanam mangrove di lahan seluas satu hektar di perairan Teluk Palu-Donggala, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Selasa (26/7/2022).

Siswa siswi ini bersama Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), Komunitas Sahabat Mangrove Tanjung Batu, Pejuang Mangrove Kabonga Kecil dan Pemkab Donggala.

Advertisement

“Saya datang ke sini mau tanam mangrove. Ini sudah sering saya lakukan. Yang saya tau dari mamaku manfaat mangrove ini bisa jadi benteng tsunami. Itu sebabnya, saya mau tanam mangrove supaya bisa melindungi kami disini,” ucap Muhammad Rizaldi salah satu siswa SDN 15 Banawa yang terlibat langsung menanam mangrove.

Siswa-SDN-15-Banawa-b.jpg

Rizaldi adalah salah satu anak Donggala yang turut merasakan bagaimana dasyatnya bencana gempa bumi 28 September 2018 melululantakkan Kota Palu, Sigi dan Donggala.

“Waktu gempa lalu, saya dengan orang tua lari kegunung. Dan kami semua selamat," kata Rizaldi sambil menunjuk ke arah gunung.

Lain halnya dengan Moh Hazrullah, yang juga siswa SDN Banawa ini mengaku, niatnya menanam mangrove agar bisa menikmati hasilnya sebagai bahan makanan.

Advertisement

“Yang saya tau buah mangrove ini bisa dimakan, bisa jadi kue. Saya sudah sering makan kue dari buah mangrove, seperti kue tetu. Makanya saya hari ini ikut batanam mangrove supaya tambah banyak pohon mangrove disini,” ujar Hazrullah polos.

Selain menanam ribuan pohon mangrove, peringatan mangrove sedunia itu juga diramaikan oleh ibu-ibu dari komunitas Pejuang Mangrove dan Sahabat Mangrove Tanjung Batu. Mereka memamerkan aneka ragam hasil olahan mangrove menjadi penganan lokal.

Bahan pangan berbahan dasar mangrove yang dipamerkan antara lain, keripik, kue brownis, tepung, kopi, onde-onde dan masih banyak lagi jenis panganan lainnya.

Rini salah satu anggota Komunitas Pejuang Mangrove mengatakan, mereka baru menyadari bahwa ternyata manfaat mangrove tidak hanya menjadi benteng tsunami di wilayah pesisir melainkan menjadi potensi ekonomi bagi masyarakat pesisir.

“Setelah mendapat pelatihan, kami baru tau ternyata buah mangrove bisa dimakan, bisa jadi obat herbal dan bahan baku membuat skin care. Insya Allah kami akan memproduksi massal penganan dari buah mangrove. Selama ini, kami sudah jual dipasar dan alhamdulillah banyak yang suka,” ujarnya sambil memamerkan kue brownis yang ia buat dari bahan dasar buah mangrove.

Ia berharap, mangrove yang berada di wilayah pesisir Donggala bisa tetap terjaga agar anak cucu mereka bisa merasakan bahwa manfaat mengrove ini begitu luar biasa.

“Kami berharap semakin banyak masyarakat yang sadar untuk tidak menebang mangrove sembarangan sehingga kami tidak kehabisan bahan baku untuk membuat berbagai penganan lokal dari mangrove,” harapnya.

Mangrove dan Manfaatnya

Manajer Program Ekosistem Kelautan Yayasan KEHATI Toufik Alansar, mengatakan mangrove tak hanya menjadi benteng tsunami bagi Donggala yang rawan gempa bumi tetapi, mangrove mendatangkan keuntungan ekonomi bagi masyarakat setempat.

Itu sebabnya, lanjut Toufik, KEHATI, YBB dan  YKL mendorong pemanfaatan hasil mangrove melalui pelatihan-pelatihan kepada komunitas ibu-ibu di daerah pesisir. Pelatihan yang diberikan adalah bagaimana cara mengolah buah mangrove menjadi olahan makanan yang bernilai ekonomi.

“KEHATI sendiri mendorong selain dari sisi keanekaragaman hayati juga ada ketahanan pangan dan kedaulatan pangan. KEHATI tidak ingin ke depan masyarakat kelaparan dilumbung sendirim” ujarnya.

Siswa-SDN-15-Banawa-c.jpg

Selama ini, kata Toufik, masyarakat hanya mengetahui dari berita bahwa mangrove memiliki berbagai manfaat. Namun, tidak pernah mempraktekkannya. Sekarang, masyarakat disini sudah bisa mengolah buah mangrove menjadi bahan makanan dan telah memasarkannya.

“Nantinya, kampanye kebaikan mangrove ini akan dilakukan mak-mak disini yang telah merasakan manfaat mangrove dari sisi ekonomi. Kalau sudah banyak masyarakat yang mengetahui mangrove memiliki manfaat dari sisi ekonomi, otomatis masyarakat setempat akan menjaga dan mencegah kerusakan mangrove.

“Ibu-ibunya bisa memanfaatkan dari sisi pangan, sedangkan bapak-bapak disini kami ajak menanam mangrove. Dengan demikian, keanekaragaman hayati disini bisa terjaga. Itu poin penting yang kami inginkan,” harapnya.

Upaya Mitigasi dan Edukasi

Terkait penanaman mangrove yang dilakukan dalam rangka memperingati hari mangrove sedunia yang jatuh pada tanggal 26 Juli 2022, dengan melibatkan anak-anak sekolah dasar ini merupakan bentuk aksi dan edukasi terhadap anak-anak usia dini agar mengetahui manfaat mangrove.

Menurut Toufik, banyak manfaat yang dapat dirasakan dari program tersebut di beberapa tahun ke depan. Secara fisik, keberadaan hutan mangrove di pesisir merupakan sabuk hijau yang melindungi daratan dari bahaya erosi, abrasi, mengurangi aktivitas pasang surut air laut, dan menahan gelombang air laut dan tiupan angin.

Secara ekologi, tanaman Mangrove juga dapat mengembalikan fungsi-fungsi ekosistem hutan mangrove sebagai daerah pembiakan (spawning ground), dan daerah pembesaran (nursery ground), bagi sejumlah biota laut seperti udang, ikan, kepiting dan kerang–kerangan.

Hal terpenting, dalam program konservasi mangrove merupakan bagian dari program mitigasi perubahan iklim dan pembangunan rendah karbon.

Penanaman mangrove sendiri, didasarkan pada kajian yang menyatakan selain mencegah abrasi, mangrove sangat efektif dalam meredam terjangan tsunami. Hal itu terbukti pada bencana tsunami yang menimpa Teluk Palu pada 28 September 2018 silam.

Dimana daerah yang ditanami mangrove terlindungi dari terjangan tsunami, sehingga tidak mengalami kerusakan yang berarti dibandingkan daerah lain. Tercatat, terjangan tsunami memang beberapa kali menerjang teluk Palu. Dimulai pada tahun 1927, 1930, 1938, dan terakhir di tahun 1966.

Fakta itulah yang mengerakan kepedulian Yayasan KEHATI untuk merestorasi ekosistem mangrove yang telah rusak. Selain sebagai peredam tsunami, keberadaan mangrove diharapkan dapat mengembalikan keanekaragaman hayati di sana.

Secara sosial, kata dia, terbangunnya kesadaran kolektif masyarakat dapat dimulai dari kegiatan penanaman. Kemudian, semangat untuk tinggal di daerah tahan bencana dan terbukanya akses ekonomi, diharapkan dapat menjadi stimulus pelestarian dan eskpansi kawasan mangrove di Teluk Palu Kabupaten Donggala.

Yayasan KEHATI juga akan mendorong ketersediaan bibit plasma nutfah perikanan agar dapat dikelola sebagai pendapatan masyarakat. KEHATI juga menyadari terdapat beberapa masalah dan tantangan dari program konservasi yang tengah dihadapi.

Saat ini, kata dia, laju perusakan luasan ekosistem mangrove yang ada jauh lebih cepat dibandingkan laju pertumbuhan dan rehabilitasi yang dilakukan. Hal ini disebabkan oleh degradasi dan alih fungsi lahan.

Sayangnya, berdasarkan penilaian KEHATI, kesadaran masyarakat dalam melestarikan dan mengelola pemanfaatan mangrove masih rendah. Kebijakan perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan mangrove walaupun sudah ada, pelaksanaanya dianggap masih belum maksimal.

“Berdasarkan pengalaman kami, program konservasi tidak akan berhasil jika tidak ada keterlibatan dan kesungguhan dari semua pihak,” terangnya.

Ia menegaskan, mulai dari masyarakat sampai pemerintah daerah harus memiliki kesadaran dan kemauan dalam menjaga kelestarian mangrove di Teluk Palu Donggala.

“Harus dibangun mindset bahwa mangrove bukan sekedar obyek, namun subyek seperti manusia yang hidup berdampingan dengan masyarakat. Kita jaga mangrove, mangrove jaga kita,” ujar Toufik

Untuk membangun kesadaran masyarakat terutama generasi muda, KEHATI berencana akan membangun laboratoirum alam sebagai pusat pembelajaran bagi siswa sekolah dan umum. Selain mangrove pusat informasi nantinya akan menyediakan informasi dan pengetahuan tentang biodiversitas laut khususnya yang berada di ekosistem mangrove.

Sebelumnya, sudah terdapat fasilitas serupa yang dibangun oleh KEHATI bersama mitra di Kabupaten Majene, yaitu Mangrove Learning Center (MLC). Selain sebagai pusat edukasi, MLC digunakan untuk mengembangkan ekowisata dan pemberdayaan masyarakat. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia