Ditangan Orang Kreatif, Akar Kayu Secang Jadi Hiasan Mewah

TIMESINDONESIA, NGAWI – Kayu secang (Caesalpinia sappan) masyhur dikenal sebagai bahan minuman herbal. Tanaman perdu yang kerap diseduh sebagai teh herbal itu dipercaya memiliki banyak manfaat untuk kesehatan.
Tanaman secang banyak ditemukan di kawasan hutan di Kabupaten Ngawi. Masyarakat biasa memanfaatkan secang untuk pewarna merah alami, ataupun diseduh sebagai minuman herbal kesehatan.
Advertisement
Selain untuk keperluan itu, akar tanaman secang juga bisa dijadikan sebagai hiasan rumah. Seperti halnya yang dilakukan Parnianto (59) warga Desa Jogorogo, Kecamatan Jogorogo, Ngawi, yang sudah lama mengolah akar tanaman secang sebagai hiasan rumah.
Parnianto pembuat hiasan dari akar secang. (FOTO: Miftakul/TIMES Indonesia)
"Sejak 2017 suka membuat hiasan dari akar kayu secang," kata Parnianto kepada TIMES Indonesia, Senin (29/8/2022).
Bahan akar tanaman secang didapat Parnianto dari berburu di kawasan hutan tidak jauh dari rumahnya. Saat longgar, Parnianto bisa membawa pulang dua panggul akar kayu secang.
Untuk membuat hiasan akar kayu secang diperlukan imajinasi yang tinggi. Sebab, akar kayu ini memiliki bentuk yang unik. Pola yang terbentuk asli bikinan alam.
Salah satu koleksi hiasan akar kayu secang Parnianto. (FOTO: Miftakul/TIMES Indonesia)
Akar tanaman secang yang sudah didapat, mulanya dibersihkan dari sisa-sisa tanah. Kemudian dihaluskan dengan amplas. Akar yang tidak perlu dapat dipotong, dan disambung atau juga bisa mengikuti pola alami.
"Proses pengerjaan sekitar 10 hari, untuk setiap unitnya," katanya.
Dibentuk Bonsai
Selama membuat hiasan dari akar tanaman secang, Parnianto biasa membuat model tanaman bonsai. Menurutnya, bentuk seperti itu lebih mudah, karena tinggal mengikuti pola alami akar.
Untuk membuat hiasan akar kayu secang model bonsai, bahan yang sudah terbentuk tinggal ditambahkan ornamen semacam dedaunan imitasi. Ornamen itu mudah didapatkan di toko-toko hiasan.
"Misalnya kita bikin seakan-akan pohon besar, ya dipotong, disambung. Sehingga mirip pohon aslinya, semacam bonsai-lah," ujarnya.
Baginya merawat bonsai asli tidak semudah dan semurah hiasan akar kayu secang yang dibuat ala-ala bonsai. Jika bonsai asli bila mati harus dibuang, maka bonsai ala-ala ini lebih awet. Pun demikian jika kotor, tinggal dibersihkan saja.
"Kalau bonsai asli, mati kebuang. Kalau ini, kotor tinggal disemprot, sudah beres. Sudah cakep lagi," ujarnya.
Akar Kayu Secang Tahan Lama
Parnianto menyebut, kayu secang termasuk jenis kayu yang ketahanan dan keawetannya bisa ratusan tahun. Asal dirawat dengan cara yang benar.
"Oleh karena itu yang digunakan kayu secang. Kekuatan dan ketahanannya bisa ratusan tahun. Asal dirawat dengan benar, tidak asal diperoleh, dibentuk, lalu dibiarkan," ujarnya.
Di samping ketahanan dan keawetannya, harga jual hiasan akar kayu secang juga fantastis. Parnianto mematok harga dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk setiap karyanya.
"Kita klasifikasi, kalau tampilannya cakep, bagus itu bisa fantastis harganya. Bisa diatas Rp2 juta," papar pengrajin hiasan dari akar Kayu secang asal Kabupaten Ngawi. (*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Wahyu Nurdiyanto |
Publisher | : Sofyan Saqi Futaki |