Proyek Pembangunan Pasar Baru Kota Probolinggo Menuai Kritik DPRD
Proyek revilitalisasi Pasar Baru Kota Probolinggo, Jawa Timur, menuai kritik DPRD kota setempat. Selain pemasangan keramik yang dikritik, di pasar itu juga tidak memiliki ...

PROBOLINGGO – Proyek revilitalisasi Pasar Baru Kota Probolinggo, Jawa Timur, menuai kritik DPRD kota setempat. Selain pemasangan keramik yang dikritik, di pasar itu juga tidak memiliki pembuangan air, terutama di stand atau kios. Padahal proyek itu menelan anggaran sebanyak Rp 1,6 miliar.
Tak hanya itu, pengaturan tata letak dinilai asal-asalan. Tempat atau stand penjualan daging ngumpul atau berhadap-hadapan dengan tempat bedak atau kios kue. Dampaknya selain bau tak sedap, kue yang dijual tidak higienis alias tidak memenuhi kesehatan.
Saat dilakukan inspeksi mendadak atau Sidak oleh Komisi III DPRD setempat, ditemukan talang atau tempat penampungan air hujan yang dibangun tahun lalu, bocor akibat kropos. Selain itu, komisi yang diketuai Agus Riyanto itu, menemukan bangunan yang tidak sesuai harapan.

Menurutnya, atap tidak tertutup rapat, sehingga air hujan akan masuk ke dalam pasar. Harusnya, kata Komisi III, atap bangunan pasar sampai ke dinding atau tembok Hotel Siaman. Agar tertutup rapat, sehingga air hujan tidak masuk kedalam pasar, mengguyur atau membasahi stand dan pedagang.
“Loh, kalau ada celah seperti ini, barang dagangan dan penjualnnya basah kuyup. Di sini kan ada kompor, ya enggak bisa nyala kompornya,” kata Agus, yang terlihat kaget dan heran.
Karena itu, Komisi III serempak meminta talang kropos diganti. Begitu pula dengan celah antara atap dengan dinding, harus ditutup agar pedagang aman dari air hujan. Mereka juga meminta, agar Pemkot membuatkan saluran pembuangan air.
“Kalau tidak ada saluran pembuangan, air ikan mau lari kemana? Kalau air ikan nglibet di sini, kan bau. Pasar tidak sehat,” katanya.
Agus dan anggota komisi yang lain juga sepakat, pelaksana proyek atau kontraktor memperbaiki keramik lantai dan bedak yang bermasalah. Komisi III menemukan beberapa keramik yang pemasangannya tidak lengket, masih bergerak saat diinjak.
“Ini juga jangan dipasang seperti ini, jelek. Ujung keramik harus ketemu dengan ujung keramik yang lain,” imbuhnya.
Ditanya anggaran atau biaya perbaikan hasil temuan, Agus menjawab dengan adendum atau sisa anggaran. Dijelaskan, proyek revitalisasi pasar baru tahap II, anggarannya Rp 2 miliar, sedang dikerjakan dengan anggaran Rp 1,6 miliar.
“Kan ada sisa Rp 400 juta, uang itu bisa digunakan untuk perbaikan dan tambahan pekerjaan,” jawabnya.
Dalam kesempatan itu, Agus mengapresiasi kinerja kontraktor dan Dinas PU. Sebab, progresnya melebihi target 8 persen. Target pekerjaan 34 persen, sedang pekerjaan yang sudah diselesaikan 42 persen. Dengan begitu, Komisi III yakin, proyek revitalisasi pasar baru akan selesai sesuai jadwal, yakni 8 November 2022.
Ditempat yang sama, Rahman Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang sekaligus Kabid Cipta Karya pada Dinas PU setempat mengatakan, akan melaksanakan seluruh rekomendasi dan permintaan komisi III. Pihaknya masih akan melaporkan ke atasannya tentang permasalahan yang ditemukan komisi III.
Soal bedak atau kios penjual daging yang berdekatan atau ngumpul dengan pedagang kue, pihaknya akan berkoordinasi dangan OPD terkait, yakni Dinas Koperasi Usaha Mikro Perdaghangan dan Perindustrian (DKUPP).
“Untuk pemindahan pedagang, kami masih akan berkoordinasi dengan DKUPP. Jika semua sudah sesuai standart, maka proyek pembangunan Pasar Baru Kota Probolinggo, ini tidak akan ada kritikan lagi,” kata Agus. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


