Peristiwa Daerah Tragedi Stadion Kanjuruhan

Cerita Aremania yang Selamat dari Tragedi Stadion Kanjuruhan

Rabu, 05 Oktober 2022 - 06:00 | 55.91k
Cerita Aremania yang Selamat dari Tragedi Stadion Kanjuruhan
Wahyu Efendi, supporter Arema FC berfoto di Stadion Kanjuruhan Malang (4/10/2022). (FOTO: Wahyu Nurdianto)
FOKUS

Tragedi Stadion Kanjuruhan

TIMESINDONESIA, MALANGTragedi Stadion Kanjuruhan menelan ratusan korban jiwa. Empat Aremania, yakni Wahyu, Verdith, Gabrella, dan Achmad menceritakan bagaimana mereka lolos dari kerusuhan tersebut beserta harapan untuk sepakbola Indonesia kedepan.

Tragedi Kanjuruhan pecah setelah Arema FC kalah dari Persebaya Surabaya 2-3 dalam laga Derby Jawa Timur pada lanjutan Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Malang, jumlah korban meninggal dunia dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur hingga Selasa (4/10/2022) berjumlah 131 orang.

Wahyu Effendi, menceritakan kronologi lolos dari tragedi Kanjuruhan. Ia menjelaskan bagaimana posisinya saat berada di tribun 7 hingga keluar stadion.

“Dari awal sudah dilarang ibu, dan sudah memiliki firasat tidak enak, saya ada di tribun 7. Pada saat pertandingan usai, ada 2-3 supporter masuk ke lapangan untuk berfoto dan berniat bertemu pemain untuk mendukung, dan menyemangati. Lalu dihadang oleh polisi dan pihak keamanan dengan kekerasan," ucapnya.

"Jadi banyak suporter yang tersulut emosi, hingga banyak supporter masuk yang tidak terima, banyak supporter yang dipukul, dan ditendang. Hingga ada suara tembakan peringatan dua kali, semua kembali ke tepi, dan lagi-lagi ada yang dipukul pakai tongkat, karena hal itu para suporter membela kawan-kawan lainnya. Setelah itu ada tembakan gas air mata ke tribun 1 secara ngawur,” ungkapnya kepada TIMES Indonesia.

Wahyu melanjutkan bagaimana ia melihat kondisi kerumunan Ketika berusaha keluar dari stadion.

“Saat saya dan rombongan saya berusaha keluar stadion, saya melihat ada ibu dan anak yang tergeletak, saya dan rombongan saya berjumlah 9 orang juga terpencar sendiri-sendiri. Saya melihat banyak wanita, anak kecil yang sesak. Posisi saya bersama satu perempuan yang meminta bantuan. Kalau tidak salah, saya juga melihat suami istri beserta anaknya yang meninggal,” ungkapnya.

Wahyu juga menjelaskan kondisi pintu keluar stadion yang belum terbuka semuanya.

“Keadaan pintu keluar masih banyak yang belum terbuka, salah satu teman wanita saya seusai pertandingan di parkiran muntah-muntah dan matanya merah terkena gas air mata, saya juga menyaksikan salah satu suporter Arema yang sulit berjalan dan pincang," ucapnya.

 Wahyu mengaku trauma dan shock dan sudah lupa detail kejadiannya seperti apa setelah keluar stadion. "Saya dan kawan-kawan sampai rumah sekitar jam 1 dini hari. Alhamdulillah rombongan saya sebanyak 9 orang selamat semua,” ucapnya.

Wahyu menutup kronologi kesaksiannya dengan merasakan rasa duka yang mendalam melihat berita banyaknya pendukung Aremania yang menjadi korban tragedi Kanjuruhan.

Kesaksian kedua diceritakan oleh Verdith Gilardinho yang juga salah satu pendukung Arema FC yang hadir di Kanjuruhan.

Aremania-2.jpgVerdith Gilardinho, supporter Arema FC berfoto di Stadion Kanjuruhan Malang (4/10/2022). (FOTO: Wahyu Nurdianto)

“Saya berangkat dengan adik saya jam 3 sore, tetapi sepanjang perjalanan itu firasat saya sudah tidak enak, saya sempat berhenti beberapa kali karena hujan di kabupaten Malang," ucap Verdith mengawali cerita.

"Setelah pertandingan selesai, saya melihat ada 1-2 orang yang masuk ke lapangan, saya melihat di gate 12 suporter itu ditembaki gas air mata, dan semuannya panik, lalu saya berpencar dengan rombongan."

Di kerumunan yang ditembaki gas air mata, Verdith merasakan bau yang tidak enak, dan membuat mata pedih.

"Saya kesusahan keluar stadion karena sangat berdesak-desakan tapi saya diseret sama adik saya untuk keluar, setelah berhasil keluar saya hanya bertemu 4 teman," urainya.

Verdith sempat panik karena kehilangan adiknya. "Tapi saya kehilangan adik saya yang masih kelas 4 SD, jadi waktu diluar itu saya saling mencari dengan adik saya dulu, akhirnya ketemu. Waktu saya berusaha keluar stadion, saya sempat terkena sikut polisi yang marah karena penonton merobohkan pintu tiket, saya jatuh dan terinjak-injak oleh penonton lain, untungnya dibantu sama Aremania lain.” tuturnya.

Kronologi yang lain juga diceritakan oleh penonton wanita bernama Gabrella Ezra. Ia menjelaskan jika awalnya tidak ada unsur keributan sampai bagaimana keributan terjadi.

Aremania-3.jpgGabrella Ezra, supporter Arema FC berfoto di Stadion Kanjuruhan Malang (4/10/2022). (FOTO: Wahyu Nurdianto)

“Saya awalnya tidak melihat unsur keributan, meskipun ada lempar-lemparan di lapangan waktu masing-masing tim masuk ke ruang ganti tetapi aparat sudah menghadang," ucapnya,

Erza mengatakan, ia sempat kaget karena suara tembakan ke arah tribun 10 dan mengira itu tembakan peringatan. "Lalu saya melihat lapangan penuh dengan penonton dengan membawa bendera dan penuh asap, di situ teman-teman saya sadar bahwa yang ditembakkan adalah gas air mata," ucapmya.

Setelah itu. Erza dan teman-teman memutuskan untuk keluar dari stadion. "Posisi saya digandeng teman saya, Raka. Waktu berusaha keluar itu saya merasa terkena gas air mata, mata saya pedih dan sesak nafas karena berdesakan dan saling dorong-mendorong saat keluar lewat pintu," ucapnya.

"Di posisi depan pintu keluar, saya terhimpit oleh orang di depan saya dan belakang karena saking sulitnya keluar. Sampainya di parkiran, saya sempat terengah-engah dan  merasa tidak kuat karena nafas tidak teratur hingga tertidur di dekat warung. Setelah saya bangun, berbarengan dengan itu terjadi kericuhan di sebelah barat parkiran.” jelasnya.

Senada dengan yang lain, Gabriella menyayangkan penembakan gas air mata yang dilepaskan.

Harapan mengenai bagaimana sepakbola Indonesia kedepan juga diutarakan oleh seorang pendukung Arema FC bernama Achmad Nadzif.

“Harapanku dari buntut tragedi ini adalah pihak penyelenggara sepak bola dan seluruh elemennya yang terlibat ini harus memberikan rasa aman ketika menonton sepak bola teruntuk berbagai kalangan dan lebih memikirkan keselamatannya  juga dari pihak suporterpun khususnya adik dan kakakku yang menonton pertandingan kemarin harus lebih bijaksana dan memahami terkait penanggulangan kondisi chaos yang terjadi kemarin.” tuturnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

KOPI TIMES