Desa Kedungcangkring Penghasil Batik Tertua di Sidoarjo yang Mulai Ditinggalkan
Dusun Kauman, Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, Sidoarjo dikenal sebagai salah satu penghasil batik tulis tertua di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. ...

SIDOARJO – Dusun Kauman, Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, Sidoarjo dikenal sebagai salah satu penghasil batik tulis tertua di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Desa yang terletak di paling selatan Kabupaten Sidoarjo yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pasuruan dikenal sebagai Desa Perajin Batik sejak sebelum Kemerdekaan Indonesia.
Dalam perkembanganya saat ini hanya beberapa pengrajin batik tulis di Dusun Kauman yang masih bertahan melanjutkan usaha batik turun temurun dari keluarga. Salah satunya ialah Lutfi.
Untuk terus mempertahankan usaha turun menurun keluarganya sebagai perajin batik tulis, Lutfi meningkatkan dan memperbanyak ragam motif batik tulis yang diproduksinya.

"Semua perajin batik tulis di Dusun Kauman, Desa Kedungcangkring rata-rata adalah warisan dari turun menurun. Karena batik disini sudah ada sejak zaman Indonesia belum merdeka,” kata Lutfi kepada TIMES Indonesia.
Lutfi mengungkapkan jika batik tulis Dusun Kauman, Desa Kedungcangkring mulai berproduksi sebelum tahun 1940, bahkan dulu pernah masuk balai besar batik Indonesia yang ada di Jogjakarta.
Ciri khas Batik tulis Kedungcangkring mempunyai berbagai motif mulai dari motif bunga cangkring, beras utah atau beras jatuh, motif sisik melek atau mirip dengan sisik ikan bandeng, motif cangkring dan motif krubutan.
Kurang Perhatian Pemerintah Daerah
Pemkab Sidoarjo diharapkan memberi perhatian lebih kepada para perajin batik tulis khas Kota Delta tersebut. Hal itu diungkapkan Lutfi kepada Dewan Pakar DPP Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono saat Pria yang akrab di sapa BHS itu berkunjung ke Perajin Batik tulis di Dusun Kauman, Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, Sidoarjo.
"Pesan saya kepada Pak Bambang Haryo, agar bisa menyampaikan aspirasi kami (perajin batik red) agar Pemerintah Daerah bisa memperhatikan nasib perajin batik tulis khas Sidoarjo ini. Ya selama ini seperti inilah, saya tidak bisa ngomong apa apa. Intinya kita bertahan sendiri," pesan Lutfi kepada Bambang Haryo
Lutfi juga berharap kepada BHS untuk menyampaikan keluh kesah perajin batik kepada pihak terkait di Pemkab Sidoarjo untuk masalah distribusi atau proses penjualan batik tulis khas Sidoarjo ke konsumen luar.

"Tidak adanya pasar induk yang menampung hasil perajin batik tulis kami di Sidoarjo akhirnya banyak yang bangkrut atau gulung tikar. Karena ya mereka kebingungan harus menjual kemana," ungkapnya.
"Saat ini Batik Tulis maupun Batik cap karya saya dikirim ke pasar Bandung dan Makassar, karena ada pihak yang membantu saya memasarkan di sana," sambung Lutfi
Batik Adalah Warisan Budaya Bangsa Indonesia
Sejak 2 Oktober 2009 lalu, organisasi budaya dunia UNESCO telah menobatkan batik sebagai warisan budaya tak benda milik Indonesia. Karenanya, setiap 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional.
Sayangnya masih banyak masyarakat yang belum mengetahui jika 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Hal itu diungkapkan Bambang Haryo saat mengunjungi perajin batik tulis di Dusun Kauman, Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, Sidoarjo.
"Peringatan Hari Batik Nasional seharusnya digelar semarak oleh semua pihak. Pemerintahan, Pendidik dan semua kalangan masyarakat. Batik sempat mau direbut oleh negara Malaysia pada zaman Presiden SBY dulu," kata Bambang Haryo kepada TIMES Indonesia, Jumat (7/10/2022)..
Menurut Bambang Haryo, semua komponen termasuk masyarakat harus memberdayakan, mencintai dan menggunakan batik sebagai karakter Bangsa.
"Orang Indonesia wajib menggunakan Batik. Ini merupakan kebanggaan kita. Masyarakat Dunia seperti Eropa, Amerika dan yang lainnya telah mengakui bahwa Batik adalah salah satu karakter Budaya Bangsa Indonesia," harapnya.
Terkait keluhan perajin batik tulis di Desa Kedungcangkring, Bambang Haryo meminta Pemerintah Kabupaten Sidoarjo serius dalam memperhatikan, mengembangkan perajin batik khas di Sidoarjo.
"Sudah menjadi suatu keharusan Pemerintah Daerah mendukung serta memperhatikan mereka," ungkap Bambang Haryo.
Bambang Haryo ingin batik khas Sidoarjo, seperti batik karya perajin Desa Kedungcangring dikembangkan dan tidak punah. Oleh karena itu pihaknya mendorong Pemkab Sidoarjo menerapkan agar ASN atau Pegawai Negeri Sipil mengenakan baju Batik karya perajin Batik Sidoarjo seminggu dua kali yakni hari Rabu dan Jumat, hal itu sempat ia gaungkan dalam pencalonannya sebagai Bupati Sidoarjo tahun lalu.
"Saya sangat menginginkan batik khas Sidoarjo ini digunakan oleh seluruh komponen di Sidoarjo. Hal itu sebagai upaya menempatkan batik sebagai ciri khas atau ikon Sidoarjo,"jelasnya.
Politisi Partai Gerindra ini juga meminta Pemerintah Daerah dapat lebih memperhatikan pengerajin Batik khas Sidoarjo. Menurut data di lapangan, kebanyakan pengerajin Batik di Sidoarjo menjual Batiknya ke luar daerah.
"Mumpung pengrajin Batik khas Sidoarjo nya masih ada. Pemerintah harus hadir memberikan solusi, agar Batik khas Sidoarjo ini pasarnya tidak di luar daerah. Misalnya, pasar induknya di Sidoarjo wisatawan Sidoarjo kan bisa beli Batik khas sini (Batik Sidoarjo) sebagai oleh-oleh khas daerah," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


