Peristiwa Daerah Tragedi Stadion Kanjuruhan

Kesaksian Penyitas Tragedi Stadion Kanjuruhan, Jurnalis Sepakbola Ikut Evakuasi Korban

Jumat, 07 Oktober 2022 - 13:42 | 120.58k
Kesaksian Penyitas Tragedi Stadion Kanjuruhan, Jurnalis Sepakbola Ikut Evakuasi Korban
Aremania mendatangi monumen Patung Singa Tegar di Stadion Kanjuruhan. (Foto: Tria Adha/TIMES Indonesia)
FOKUS

Tragedi Stadion Kanjuruhan

TIMESINDONESIA, MALANG – Teman-teman jurnalis sempat evakuasi dan membantu Aremania. Kalimat tersebut disampaikan Jurnalis Foto TIMES Indonesia, Tria Adha saat bercerita tentang kejadian Tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, pada 1 Oktober 2022.

Tria Adha bercerita bahwa setelah pertandingan Arema FC vs Persebaya Surbaya, dia sempat melakukan pemotretan di sentel ban. Sekitar 5 hingga 8 menit, ia masih mengabadikan momen setelah pertandingan. Ia melihat para Aremania sudah mulai turun ke lapangan, tapi jurnalis TIMES Indonesia ini lebih memilih masuk ke ruang press room untuk persiapan press conference setelah pertandingan. 

"Nah sampai di pressroom, aku balik keluar. Itu karena pemain Persebaya tidak press conference. Aku ambil gambar pemain Persebaya yang segera naik Barakuda," kata Tria, Jumat (6/5/2022).

Setelah selesai memotret, Tria Adha kembali masuk ke ruang press room. Ketika itu, ia samar-samar mendengar suara ricuh dari arah lapangan. 

"Aku sempat keluar di ruang pressroom dan lihat udah chaos. Aku hanya ambil gambar beberapa frame aja, terus chaos itu sudah sampai di depanku," katanya.

Akhirnya, ia lebih memilih masuk lagi ke ruang pressroomm bersama dengan teman-teman jurnalis dari media lainnya. Suasana mencekam turut mewarnai ruangan pers.

"Pintu yang mau masuk ke pressrom itu sempet di tutup dan digedor-gedor, semakin lama semakin banyak yang gedor," kata Tria.

Pintu yang digedor tersebut akhirnya dibuka. Ketika itu, sudah banyak supporter yang berjatuhan dan tergeletak. 

"Aku tidak tahu itu meninggal atau hanya pingsan. Posisiku kaget banget. Banyak juga korban yang digendong masuk cari tim medis," kata Tria.

Setika itu, ruang media penuh dengan korban yang telah meninggal dunia. Para korban tersebut berada di ruang pers, karena di ruang ganti pemain sudah penuh. Ada dua korban yang datang. Rekan-rekan jurnalis sontak memberikan pertolongan pertama untuk membantu para korban.

"Satu sudah tidak sadarkan diri satu masih sadar. Karena sudah genting kita berusaha buat mereka sadar dan kita kipasin biar ada angin,” kata Tria.

"Kita kasih minum yang kita punya. Ketika itu, aku dan 2 orang lain berusaha kipasin 2 korban," kata Tria.

Tria  menyampaikan sekitar 20 menitan, rekan-rekan jurnalis turut mengipasi smbil sesekali melakukan cek denyut nadi kedua korban yang tidak sadar itu. "

"Ada satu mulai enak pernafasannya, korban ini langsung kita minta nyeder tembok," kata Tria. 

Ia mengatakan ada satu yang tetap tidak sadarkan diri. "Satunya tetap tidak sadarkan diri, denyut nadi mulai tipis dan muka mulai membiru lalu meninggal dunia," kata Tria sambil menangis teringat dengan peristiwa itu.

Tria Adha juga bercerita rekan-rekan jurnalis juga banyak yang menggendong korban. Seluruh jurnalis turut bergotong-royong membantu evakuasi para korban.

"Kita jurnalis dan pemain Arema FC turut membantu evakuasi korban hingga ke mobil ambulance," kata Tria Adha.

Seperti yang diketahui, tragedi Stadion Kanjuruhan Malang menewaskan 131 korban. Dalam peristiwa tersebut, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah mengumumkan 6 tersangka. Invetigasi ini terus dilakukan untuk mencari fakta-fakta lain yang belum terungkap.(*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

KOPI TIMES