Bupati Blitar Ajak Generasi Penerus Lestarikan Siraman Gong Kyai Pradah
Bupati Blitar Rini Syarifah mengajak masyarakat untuk menguri uri atau melestarikan Siraman Gong Kyai Pradah. ... ...

BLITAR – Bupati Blitar Rini Syarifah mengajak masyarakat untuk menguri uri atau melestarikan Siraman Gong Kyai Pradah. Itu karena Siraman Pusaka Gong Kyai Pradah adalah upacara khas tradisi yang hanya ada di Bumi Lodoyo Kabupaten Blitar.
Oleh karena itu, siraman atau Jamasan Gong Kyai Pradah merupakan ritual warisan budaya yang harus dilestarikan oleh generasi penerus.
"Kegiatan tradisi budaya merupakan bentuk wujud syukur dan doa kepada Allah SWT. karena sampai saat ini kita masih diberikan nikmat dan keberkahan untuk terus berkarya," kata Bupati Blitar Rini tentang siraman Gong Kyai Pradah.
Siraman Gong Kyai Pradah merupakan ritual budaya yang rutin dilaksanakan oleh masyarakat sekitar Lodoyo di Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar. Ritual ini digelar dua kali dalam setahun yakni setiap 1 Syawal dan Rabiul Awal, bertepatan dengan Maulid Nabi Muhamamd SAW.
Kegiatan Jamasan Gong Kyai Pradah biasanya dihadiri oleh ribuan warga untuk berebut berkah dari air cucian dari Gong Pusaka tersebut. Selama dua tahun terakhir tradisi ini digelar secara tertutup akibat Pandemi Covid-19.

Namun untuk Siraman Gong Kyai Pradah kali ini, Pemkab Blitar menggelar secara terbuka. Artinya boleh dihadiri masyarakat umum secara langsung.
"Saya mengimbau masyarakat tetap mengikuti vaksinasi karena Covid 19 masih ada . Saya juga mengingatkan masyarakat untuk tetap Waspada dengan menjaga kesehatan dan lingkungan tetap bersih dan sehat," urai Bupati Blitar yang akrab disapa Mak Rini itu.
Menurut Mak Rini, Siraman Gong Kyai Pradah dapat kembali menggeliatkan ekonomi masyarakat usai diterpa pandemi. Sebab, upacara siraman ini mendatangkan banyak masyarakat dan pedagang. Tidak hanya dari kabupaten Blitar tetapi juga dari luar daerah.
Ia berharap, dengan adanya upacara tersebut Ekonomi masyarakat semakin tertata dengan baik sesuai visi maju bersama sejahtera bersama dapat terwujud. Sehingga warga masyarakat Kabupaten Blitar bisa aman sejahtera dan bahagia.
"Saya meminta warga yang hadir di siraman gong kyai pradah untuk menjaga kebersihan dan keindahan alun alun lodoyo dan sekitarnya. Supaya warga bisa nyaman di alun alun sambil menikmati kuliner khas lodoyo," tegasnya

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Blitar Suhendro Winarso mengatakan Siraman pusaka Gong Kyai Pradah merupakan salah satu tradisi budaya yang sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kemendikbud RI.
"Tradisi Siraman Gong Kyai Pradah sudah masuk daftar Warisan Budaya Tak Benda dan juga masuk dalam kalender event Jawa Timur. Setelah pandemi ini tentu kegiatan ini juga bisa menggeliatkan perekenomian masyarakat," jelasnya.
Suhendro mengutarakan, prosesi Siraman Gong Kyai Pradah diawali kegiatan adat pada malam sebelumnya. Seperti tirakatan dan selamatan. Sedangkan siraman ini sebagai puncak prosesi merawat Gong Kyai Pradah. Kemudian Gong tersebut dikembalikan ke sanggar untuk disimpan.
"Masyarakat datang karena siraman ini adalah agenda rutin. Siraman Gong Kyai Pradah ini menunjukkan bahwa adat budaya di Blitar ini masih sangat kuat dan kerukunan masih sangat terjaga," tegasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


