Peristiwa Daerah

Pengusaha Agro Milenial Surabaya Bergabung Bersama PT ATM

Minggu, 16 Oktober 2022 - 16:06 | 53.31k
Pengusaha agro Natasya Laurent Santoso bersama sang suami Albertus Hendra Dwianto Tjong, Minggu (16/10/2022). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)
Pengusaha agro Natasya Laurent Santoso bersama sang suami Albertus Hendra Dwianto Tjong, Minggu (16/10/2022). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, SURABAYA – PT Amerta Tani Maju atau PT ATM tak henti menunjukkan komitmen untuk mendukung ketahanan pangan nasional dengan menggaet para pengusaha agro milenial. Salah satunya Natasya Laurent Santoso.

Lulusan SMA Petra 1 Surabaya tahun 2013 tersebut memantapkan diri terjun dan bergabung bersama PT ATM yang bergerak dalam sektor pengembangan Padi Japonica.

Natasya mengaku, memiliki ketertarikan pada bidang pertanian sejak lama karena faktor bisnis keluarga yang telah lama berkecimpung menggeluti usaha hasil bumi.

"Basic keluarga saya memang di bidang hasil bumi sehingga saya dari kecil memang sudah dikenalkan dengan berbagai macam hasil bumi seperti pala, cengkeh, kemiri, merica dan sebagainya. Jadi ada latar belakang pengetahuan itu," ungkap wanita kelahiran Malang tersebut, Minggu (16/10/2022).

Menurut istri Albertus Hendra Dwianto Tjong ini, bidang pertanian adalah pilihan tepat untuk berbisnis karena berkaitan dengan bahan pokok yang selalu dibutuhkan oleh masyarakat.

"Saya lihat bidang pertanian ini bagus prospek ke depannya," ujar alumnus Univ Widya Kartika Jurusan Bisnis Manajemen tersebut.

Karena telah memiliki bekal pengetahuan bisnis pertanian, Natasya Laurent Santoso tak ragu lagi menjadi bagian keluarga besar PT ATM. Karena ia melihat proses kemitraan, masa tanam hingga penjualan penuh tanggung jawab tinggi dari kedua belah pihak. Baik dari petani maupun perusahaan.

Ia bahkan terjun langsung melakukan survey tanah di sejumlah daerah. Mulai dari Trenggalek, Ngawi, dan Bojonegoro.

"Bahkan sudah uji tanam dan hasilnya bagus," tuturnya.

Ia optimistis peluang Padi Japonica masih terbuka lebar dan sangat potensial. Karena padi ini merupakan varietas unggul.

Padi ini memiliki karakteristik lebih tahan lama, tahan rebah, walaupun tingginya mencapai 120 cm. Satu malai padi dapat menghasilkan 300 butir. Jumlah ini terbilang fantastis jika dibandingkan dengan Padi Indica yang secara normal hanya menghasilkan 70-170 butir. Dalam satu hektare, mampu menghasilkan sekitar 10 ton gabah kering sawah (GKS).

Natasya berharap kemitraan bersama PT ATM ini semakin mensejahterakan petani dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Karena Padi Japonica juga memiliki keunggulan kadar glikemik rendah sehingga cocok bagi penderita diabetes.

Vice President Divisi Marketing PT ATM Matthew, menjelaskan, sinergitas tersebut sesuai  dengan program pemerintah untuk mendorong ketahanan pangan nasional dan peningkatan taraf hidup petani.

Konsentrasi perusahaan mengembangkan Padi Japonica atau Padi Jepang melalui kemitraan dan sinergitas bersama pengusaha agro itu bukan tanpa alasan.

Potensi sektor pangan terutama jenis padi-padian di Indonesia memang tak main-main. Total 270 juta penduduk Indonesia mengkonsumsi nasi sebagai sumber karbohidrat utama. Namun sayangnya, angka regenerasi petani masih sangat rendah. Rata-rata anak petani enggan meneruskan mengelola lahan dan memilih pekerjaan di sektor lain.

"Bayangkan, dengan potensi 270 juta penduduk, sekarang kita lihat, anak muda dan yang cakep itu pingin kerja yang kantoran, duduk di AC. Tidak ada yang salah dengan itu, range petani yang saya temui ketika terjun langsung antara usia mereka 55-75 tahun," jelasnya.

Maka dari itu, melalui sistem pertanian yang lebih praktis dan modern, PT ATM mencoba menggaet petani-petani muda maupun pengusaha agro milenial untuk tetap melestarikan dunia pertanian. Apalagi ia juga melihat saat ini banyak anak-anak muda melek isu krisis pangan dan mulai tertarik menjajaki dunia pertanian dengan membuka wawasan agrikultur Indonesia.

"Visi misi PT ATM adalah mengajak petani milenial. Ayo kita beri fasilitas. Karena range yang tua itu, jika tidak ada yang melanjutkan pertanian ini, 15-20 tahun lagi kita bisa import. Itu yang menggelitik bagi saya, itu semua fakta," kata dia. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES