Piagam Rekor MURI Tari Topeng Indramayu Ditambah, Ada untuk Masyarakat yang Berpartisipasi
Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) akhirnya menambah piagam piagam penghargaan atas pemecahan rekor MURI tari topeng kelana terbanyak dalam rangka Hari Jadi ke-495 Indr ...

INDRAMAYU – Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) akhirnya menambah piagam piagam penghargaan atas pemecahan rekor MURI tari topeng kelana terbanyak dalam rangka Hari Jadi ke-495 Indramayu. MURI menambah satu piagam yang diberikan kepada masyarakat Indramayu.
Kontroversi piagam MURI sebelumnya terjadi karena dalam piagam hanya tertera nama Bupati Indramayu, Nina Agustina. Sebagian masyarakat tidak setuju karena peserta tari topeng berlatih dan membeli atau menyewa kostum sendiri untuk pemecahan rekor tersebut.
MURI kemudian mengumumkan penambahan piagam penghargaan melalui instastory di akun instagram @muri_org. MURI mengunggah penghargaan atas rekor tersebut menjadi dua piagam pada Senin (17/10/2022).
Satu piagam ditujukan kepada Masyarakat Indramayu sebagai pendukung Pagelaran Tari Topeng Kelana Terbanyak sebanyak 7.891 penari.
Dan satu piagam lainnya ditunjukan kepada Bupati Indramayu Nina Agustina sebagai pemrakarsa penciptaan rekor Pagelaran Tari Topeng Kelana Terbanyak.
Dalam postingannya, MURI mengucapkan selamat serta apresiasi setinggi-tingginya atas capaian tersebut kepada Masyarakat Indramayu dan Bupati Indramayu.
MURI juga menulis pesan untuk terus berjuang mengobarkan semangat kebanggaan nasional bersama MURI.
Di sisi lain, dianugerahkannya piagam penghargaan untuk Masyarakat Indramayu disambut baik oleh masyarakat.
Mereka mengaku puas dengan penghargaan tersebut. Mengingat, pada piagam sebelumnya ramai diperbincangkan di media sosial karena menuai pro kontra.
Dalam postingan yang beredar, mayoritas masyarakat mengaku sudah mengeluarkan uang pribadi untuk membeli perlengkapan. Pada piagam sebelumnya, masyarakat merasa tidak memiliki atas pemecahan rekor tersebut.
"Alhamdulillah, setidaknya masyarakat jadi bisa merasakan memiliki atas capaian pecah rekor tersebut," ujar salah seorang warga di Keluruhan Lemahabang, Rian (29), Selasa (18/10/2022).
Warga lainnya, Lia (39), mengaku jika seharusnya masyarakat dan peserta yang turut berjuang meraih rekor MURI juga perlu diapresiasi. Jika tidak didukung ribuan peserta yang rela merogoh uang pribadi untuk membeli kostum tari topeng, tidak mungkin rekor tersebut bisa dicapai.
"Bisa dibayangkan Indramayu ini kan luas, kasihan masyarakat yang jauh-jauh datang ke lokasi acara itu untuk ongkos saja kan berapa, belum sewa atau beli kostum dan biaya selama proses itu," ujar dia.
Seperti diketahui, Pemecahan rekor MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) tari topeng terbanyak di Indramayu, Jawa Barat menuai kontroversi. Sebagian masyarakat mempersoalkan piagam MURI yang hanya tertulis nama Bupati Indramayu, Nina Agustina.
Di media sosial, banyak warganet yang menyampaikan kekesalannya karena pada piagam MURI tidak menyebut nama masyarakat Indramayu. Padahal, masyarakat sudah susah payah berlatih dan membeli atau menyewa kostum dengan uang pribadi.
Pro kontra piagam penghargaan ini pun turut ditanggapi oleh kalangan akademisi di Kabupaten Indramayu.
Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan Polindra, Emin Haris mengatakan, dibalik pro kontra itu, penghargaan tersebut patut diapresiasi bersama karena sebagai upaya melestarikan budaya.
Namun begitu, penulisan penganugerahan atas nama Bupati Indramayu Nina Agustina kemungkinan menjadi pemicu polemik itu terjadi di tengah masyarakat.
"Karena sebagian masyarakat juga ikut mendukung, mereka berkontribusi bersama (memecahkan rekor), kalau namanya justru menjadi personality Bupati mungkin ini menjadi kontroversi," ujar dia kepada TIMES Indonesia, Senin (17/10/2022).
Emin Haris menyampaikan, penganugerahan atas nama Bupati Indramayu Nina Agustina sebenarnya sah-sah saja. Namun, alangkah lebih baiknya penganugerahan itu dituliskan dengan diberikan kepada Pemerintah Kabupaten Indramayu atau Kabupaten Indramayu.
Sehingga, masyarakat yang ikut berkontribusi juga bisa merasakan memiliki penghargaan MURI yang berhasil dipecahkan secara bersama-sama.
"Secara umum sah-sah saja. Tapi secara moral ya ada yang merasa terciderai karena masyarakat juga sama-sama ikut antusias," ujar dia.
Terlebih kata Emin Haris, pemecahan rekor MURI tersebut atas dasar inisiatif masyarakat yang ingin ikut berkontribusi. Mereka menggunakan biaya pribadi untuk membeli atau menyewa perlengkapan tari topeng.
Termasuk transport untuk datang ke lokasi yang juga ditanggung pribadi. Ia juga menyarankan, jika memungkinkan piagam penghargaan tersebut direvisi sehingga tidak menimbulkan polemik.
Terkait polemik yang saat ini terjadi, kata Emin Haris, mesti menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah kedepannya, yakni apabila ada rekor lainnya yang berhasil dipecahkan.
Di sisi lain, Dosen AMIK Purnama Niaga Indramayu, Hadi Santosa berpendapat, ketika penghargaan hanya menyebut nama secara personal tanpa ada titel jabatan publik, itu berarti penghargaan untuk personal yang bersangkutan.
Namun, apabila ada titel jabatan publiknya, maka penghargaan itu atas nama institusi yang diwakilkan olehnya.
"Apalagi dicantumkan pesertanya di situ seperti kata-kata penari. Sebenarnya artinya penghargaan itu diberikan untuk Kabupaten Indramayu (dalam hal ini diwakili oleh Bupati Nina Agustina) dengan melibatkan para penari topeng," ujar dia.
Ia juga menyampaikan, beberapa penulisan penghargaan lainnya yang serupa dengan penghargaan tersebut dilakukan oleh beberapa instansi atau daerah lain.
Dalam hal ini, menurut Hadi Santosa, jika ada masyarakat yang merasa tidak puas dengan penghargaan tersebut, pihak yang semestinya dikritik adalah pembuat piagam.
"Misal, mengapa bukan Kabupaten Indramayu saja," ujar dia.
Seperti diketahui rekor MURI dengan menggelar tari topeng kelana terbanyak berhasil dipecahkan dalam rangka Hari Jadi ke-495 Indramayu pada Sabtu (15/10/2022). Tercatat sebanyak 7891 penari topeng kelana melaksanakan tari topeng di sepanjang Jalan Ahmad Yani Indramayu. Jumlah tersebut telah melampaui target peserta yang ditetapkan oleh panitia sebelumnya yaitu 6001 penari.
Gelaran dalam memecahkan rekor MURI tari topeng kelana tersebut melibatkan penari dari berbagai kalangan baik dari siswa SD hingga SMA, ASN di lingkungan Pemkab Indramayu serta masyarakat umum. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

