Advertisement
Peristiwa Daerah

Melihat Kerajinan Ecoprint, Usaha Ibu Muda di Kota Blitar

Melihat Kerajinan Ecoprint, Usaha Ibu Muda di Kota Blitar ... ...

TIMES Indonesia,
Melihat Kerajinan Ecoprint, Usaha Ibu Muda di Kota Blitar
Nina Yaroh melakukan proses membuat kerajinan ecoprint di rumahnya Jl Kelud Kelurahan Kepanjenlor Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar, Selasa (1/11/2022). (FOTO: Sholeh/TIMES Indonesia)
A-AA+

BLITAR Nina Yaroh nampak sibuk mempersiapkan proses membuat kerajinan ecoprint di rumahnya Jalan Kelud, Kelurahan Kepanjenlor, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Selasa (1/11/2022). Selembar kain putih ia letakkan di sebuah meja. Selanjutnya ia menata beberapa daun jati di atas kain putih tersebut.

Kemudian, kain putih dengan daun-daun jati diatasnya itu ia tutup menggunakan kain yang sudah direndam menggunakan pewarna dan diatasnya ditutup lagi menggunakan plastik.

Advertisement

Setelah itu kain digulung dan diikat menggunakan tali rafia. Kain yang sudah digulung dan diikat selanjutnya dikukus lebih kurang selama dua jam.

Nina-Yaroh-2.jpg

"Selesai dikukus, kain dijemur di tempat yang teduh atau istilahnya diangin-anginkan selama tiga hari. Setelah itu, dicuci menggunakan biji lerak," kata Nina menjelaskan proses membuat kerajinan ecoprint.

Ecoprint adalah sebuah teknik pewarnaan dan atau pencetakan menggunakan bahan alami, khususnya bahan tetumbuhan. Begitu juga Nina, ia memanfaatkan daun tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar lingkungannya untuk membuat motif kerajinan ecoprint. Jenis daun tumbuhan yang biasa ia gunakan untuk motif kerajinan ecoprint, yaitu, daun jati, daun jarak, dan daun tabebuya.

"Saya kadang mencari sendiri daun tumbuh-tumbuhan itu ke kebun atau sawah. Tapi ada sebagian daun dari tanaman yang saya tanam sendiri," katanya.

Advertisement

Sejak awal terjadi pandemi Covid-19 pada awal 2020, Nina mulai menekuni kerajinan ecoprint. Sebelum Pandemi ia membuat kerajinan talenan hiasan dinding untuk dikirim ke Bali. Karena waktu pandemi pasar kerajinan di Bali sepi, akhirnya ia membuat kerajinan ecoprint menjadi barang-barang fashion mulai tas, jilbab, kaus, syal, dan kain.

Nina-Yaroh-3.jpg

"Saat pandemi kemarin permintaan kerajinan hiasan dinding berhenti sama sekali. Mungkin karena PPKM, sehingga tidak ada wisatawan datang ke Bali," tambah perempuan 34 tahun ini.

Menurut Nina, ia memilih menekuni kerajinan ecoprint karena bahannya murah dan mudah didapat. Ia memanfaatkan limbah serbuk kayu (grajen) dari perajin kendang untuk pewarna alami kerajinan ecoprint. Ia memanfaatkan limbah kayu nangka, kayu secang, dan kayu mahoni untuk dijadikan pewarna alami Ecoprint.

"Kebetulan di kota Blitar ini kan banyak pengrajin Kendang. Jadi saya dapat serbuk kayu dari beberapa pengerajin Kendang. Dan itupun saya dapatkan secara gratis," jelas Nina.

Nina menjelaskan, proses pembuatan kerajinan ecoprint sangat rumit dan membutuhkan waktu lama. Karena prosesnya yang lama, Nina rata-rata hanya bisa memproduksi 10 lembar kain ecoprint per tiga hari. Ia dibantu dua orang pekerja untuk memproduksi kerajinan ecoprint.

"Saya belajar secara otodidak lewat YouTube. Ya itu tadi karena permintaan kerajinan hiasan dinding sepi, saya harus putar otak supaya tetap punya pemasukan pas pandemi kemarin," tambahnya.

Produk ecoprint milik Nina kini telah mendapatkan banyak perhatian dari masyarakat. Produk kerajinan ecoprint milik Nina yang paling banyak dipesan, yaitu, tas. Biasanya, instansi pemerintah dan perbankan memesan tas ecoprint untuk kegiatan seminar. 

Selain itu, ia juga mendapat pesanan produk kerajinan ecoprint dari luar kota seperti Yogyakarta. Yang terbaru, produk ecoprint Nina baru saja mengikuti Malang Fashion Week mewakili Kota Blitar.

"Untuk kain ecoprint saya bandrol Rp 225.000 per lembar. Sedang untuk produk tas ecoprint mulai harga Rp 74.000 sampai Rp 300.000.  Kaos Rp 150.000, jilbab saya jual dengan harga Rp 85.000, dan syal Rp 150.000," urai Nina, warga Kota Blitar ini. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Muhammad Sholeh
PenulisMuhammad SholehBergabung dengan TIMES Indonesia sejak Februari 2026 dan bertugas di Malang Raya dan sekitarnya. Meliput berbagai isu baik politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis dan peristiwa yang bersifat lokal, nasional, dan internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia