Gus Atho': Era Digital Pemuda Bisa Belajar Sejarah Lebih Mudah
'Jas Merah' begitulah kiranya kalimat yang sering digaungkan untuk memotivasi anak muda dalam meneladani jasa para pahlawan Republik Indonesia disetiap momen peringatan H ...

JOMBANG – 'Jas Merah' (Jangan Sekali-kali meninggalkan Sejarah) begitulah kiranya kalimat yang sering digaungkan untuk memotivasi anak muda dalam meneladani jasa para pahlawan Republik Indonesia disetiap momen peringatan Hari Pahlawan.
Tak jarang banyak cara untuk meneladani para pahlawan di era digital seperti saat ini. Seperti halnya yang disampaikan oleh Ahmad Athoillah atau Gus Atho' dalam Seminar Wawasan Kebangsaan yang diselenggaran di Hotel Fatma Jombang, Jum'at (18/11/2022).
Menurut Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur di era digital yang banjir informasi seperti saat ini jauh lebih mudah untuk menggali informasi dan data tentang perjuangan setiap pahlawan Republik Indonesia.

Selain itu, tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan teknologi dan infomasi juga bisa menjadi ladang dakwah atau syiar untuk menyebarluaskan perjuangan para pejuang NKRI.
"Saya yakin, pemuda saat ini juga pandai dalam hal teknologi. Bisa membuat animasi, desain, dan sebagainya. Itu, akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk menokohkan pahlawan Indonesia," terang Gus Atho' dihadapan ratusan pemuda yang mengikuti seminar itu.
Lebih lanjut, Gus Atho' menjelaskan pemuda sekarang jauh lebih enak tak perlu menjadi pejuang untuk menjadi pahlawan. Namun, cukup mengembangkan kreatifitasnya dan memberikan karya terbaiknya untuk Indonesia.
"Pemuda harus mempunyai skill dan kreatifitas. Tak hanya bisabmembaca sejarah perjuangan pahlawan, namun juga harus bisa menerapkannya dikehidupan masyatakat," terangnya.
Perjuangan Ulama Jawa Timur dalam Memperjuangkan Kemerdekaan
Sementara itu, dalam seminar yang wawasan kebangsaan yang mengambil tema besar 'Memperkuat rasa cinta tanah air, dengan meneladani peristiwa Resolusi Jihad dan Hari Pahlawan' dengan pemateri yang pakar dalam bidangnya yakni Mohommad Anang Firdaus Penulis Buku Karomah Sang Wali dan Moch. Faisol Penulis Buku Jejak Laskar Hisbullah.
Dalam materinya, Moch. Faisol memaparkan bagaimana perjuangan ulama Jawa Timur (Jatim) dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah.
Pembahasan tentang Markas Oelama Djawa Timoer (MODT) atau ada juga yang menyebutnya sebagai Markas Besar Oelama Djawa Timoer (MBODT) sejauh ini memang masih terbentur dengan minimnya data. Terutama jika ingin mengetahui besarnya peran KHM Bisri Syansuri.
Selama ini beliau selalu ditulis pernah menjabat sebagai Kepala Staf MODT. Padahal di lembaran biodata saat terpilih menjadi anggota Konstituante 1956, kiprah beliau saat berjuang di masa revolusi, yang ditulis sendiri oleh beliau, sebagai Ketua Umum Markas Pembelaan Hizboellah Sabilillah (MPHS) Djawa Timoer. Sekaligus merangkap di waktu bersamaan sebagai Wakil Ketua Umum MODT.
"Sementara Ketua Umum MODT – nya, justru KH. Wahid Hasyim, bukan beliau," terang pria yang akrab disapa Faisol itu.
Salah satu yang menyebut istilah Markas Besar Oelama Djawa Timoer (MBODT) adalah cucu beliau, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Pada tulisan 26 September 2003, Gus Dur menulis MBODT pertama didirikan pada 1945 yang bermarkas di Wonokromo Surabaya.
Sebagai Komandan adalah KHA Wahab Chasbullah. Sedangkan KHM Bisri Syansuri sebagai Kepala Staf. Tugasnya mengumpulkan logistik terutama bahan makanan bagi para pejuang. Ini merujuk pada masa beberapa saat setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan.
Suasana kota Surabaya semakin panas menjelang kedatangan pasukan Sekutu di bulan September. Badan-badan perjuangan dengan laskar-laskarnya sudah siap berjuang mempertahankan kemerdekaan. Termasuk Laskar Hizbullah dan Barisan Sabilillah.

"Versi lain, MODT pertama kali menempati markas di daerah Blauran gang 1 Surabaya. Untuk markas di Blauran ini, sempat disinggung dalam tulisan di buku karya Ayuhanafiq," paparnya.
Namun, ada juga yang menyebutnya sebagai Markas Kyai bukan Markas Oelama Djawa Timoer. Markas di Blauran ini sudah terkenal sebagai tempat bagi para pejuang berkumpul untuk minta disuwuk oleh kyai-kyai yang ada di situ. Saat pecah perang 10 November 1945, markas di Blauran ini hancur terkena bom pasukan Sekutu.
Menjelang kejatuhan kota Surabaya di akhir bulan November 1945, MODT pindah lagi ke daerah Waru. Tepatnya di sebuah rumah yang saat ini beralamat di Jl. Brigjen Katamso IA Gg. Satria No.181, RT 17 RW 3, Kedungrejo, Waru, Sidoarjo. Tak lama kemudian, di awal 1946 front Sidoarjo pun tidak bisa dipertahankan para pejuang. Sehingga MODT dan MPHS mundur lagi berpindah ke Mojokerto hingga 1947 menjelang Agresi Militer ke-1.
Bangunan eks markas yang di Mojokerto (jl Veteran) sekarang menjadi markas Polisi Militer (Denpom CPYJ) di utara komplek Pendopo Kabupaten Mojokerto. MODT sesuai dengan tugas utamanya adalah mendampingi pasukan Laskar Hizbullah.
Setelah Hizbullah melebur dalam TNI maka MODT secara otomatis ikut bubar. Peran MODT secara langsung terasa ketika terjadi pertempuran di Surabaya dan front pertahanan Surabaya pasca tahun 1945. Tahun 1947 peran MODT sudah tidak terdengar lagi.
Begitu kota Mojokerto jatuh pada Maret 1947, markas berpindah untuk terakhir kalinya ke Jombang sampai awal 1949 ketika kota Jombang juga berhasil direbut Belanda. Bekas markas yang di Jombang belum diketahui sampai saat ini. Kesimpulannya, beliau menjadi Wakil Ketua MODT tahun 1945-1947.
Ada juga versi seperti yang dituliskan dalam buku karya Zainul Milal Bizawie berdasar data di buku Osman Raliby. MODT atau Markas Kyai bertempat di sebuah rumah di Blauran gang V tepatnya di belakang bioskop Kranggan Surabaya. Peran KHM Bisri Syansuri saat memimpin MPHS pada 1947-1949 sempat dituliskan oleh Jenderal AH Nasution.
Sebagai pendukung perjuangan TNI saat itu, KHM Bisri Syansuri selalu berkoordinasi dengan Letkol Kretarto selaku komandan Sub Territorium Militair (STM) Surabaya yang membawahi seluruh pasukan di wilayah eks karesidenan Surabaya.
"Apalagi saat semua kekuatan militer para pejuang berpusat di kota Jombang pada 1947-1949," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


