Peristiwa Daerah

Napak Tilas dan Teatrikal Tragedi Gerbong Maut, Ini Cuplikan Kisah Mengenaskan Itu

Rabu, 23 November 2022 - 22:23 | 14.26k
Napak Tilas dan Teatrikal Tragedi Gerbong Maut, Ini Cuplikan Kisah Mengenaskan Itu
Teatrikal dalam rangka memperingati Tragedi Gerbong Maut. (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BONDOWOSOTragedi Gerbong Maut akan selalu menjadi sejarah yang dikenang sebagai salah satu pembantaian pribumi. Tragedi ini berawal di Bondowoso Jawa Timur.

Oleh karena itu, Tragedi Gerbong Maut diperingati setiap Tanggal 23 November. Diantaranya napak tilas hingga teatrikal. Tepat pada Tanggal 23 November 2022, tragedi yang menelan puluhan korban itu genap 75 tahun.

Peringatan Tragedi Gerbong Maut tahun ini dilakukan dengan Napak Tilas dari Lapas Klas IIB Bondowoso menuju Stasiun Kereta Api, kemudian dilanjutkan teatrikal perjuangan menghadapi penjajah yang diperagakan oleh puluhan siswa.

Napak-Tilas-dalam-rangka-Tragedi-Gerbong-Maut.jpgNapak Tilas dalam rangka Tragedi Gerbong Maut. (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)

Vice President PT KAI Daop 9 Jember, Broer Rizal mengatakan, peringatan kali ini dalam rangka mengajak masyarakat Bondowoso terutama pelajar untuk mengenang peristiwa berdarah tersebut. 

Sebab berkat perjuangan pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan, negara kesatuan republik indonesia berdiri tegak hingga kini.

Menurutnya, peringatan kali ini untuk mengedukasi generasi sejak dini mulai anak TK, SD hingga SMA. "Untuk mengenang kembali peristiwa Gerbong Maut," imbuh dia.

Selain itu kata dia, warga setempat juga dapat menambah literasi sejarah Bondowoso di Stasiun Kereta Api Bondowoso. Sebab stasiun ini sudah nonaktif sejak 2004 silam dan kini dimuseumkan.

"Di museum ini kami tampilkan alat-alat kerja baik saat ini maupun jaman dulu," jelas dia.

Stasiun KAI Bondowoso yang kini difungsikan sebagai museum tersebut kini banyak direnovasi.

Hal itu dilakukan untuk memberikan ruang bagi wisatawan, khususnya pelajar tentang sejarah kereta api lintas Kalisat-Bondowoso-Panarukan.

Selain itu juga ada penambahan item, yaknj salah satunya koleksi seragam dinas.

"Ada alat kerja teknis dan ruangan rempah-rempah yang akan diangkut ke pelabuhan," imbuh dia.

Sementara, Humas Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Timur, Alfaviega Septian Pravangasta, untuk jalur Kalisat-Bondowoso-Panarukan saat ini masih sedang dilakukan feasibility study (FS)/studi kelayakan.

Selain itu juga ada empat jalur mati yang lain juga dilakukan studi kelayakan. Yaitu Madiun-Slahung, Klakah - Lumajang - Pasirian, Jombang - Babat- Tuban dan Bangkalan - Sumenep.

Adapun jalur ini masuk dalam prioritas paling utama untuk dilakukan reaktivasi karena sisa prasarana relatif masih ada. "Namun kita masih menunggu hasil akhir dari studi kelayakan," jelas dia.

Cuplikan Singkat Tragedi Gerbong Maut

Tragedi yang memakan banyak korban tersebut, terjadi pada tanggal 23 September 1947 silam. Tragedi berawal dari penangkapan besar-besaran oleh Belanda, terhadap TRI, Laskar, gerakan bawah tanah, dan rakyat kecil, tanpa lagi memperdulikan apakah mereka terlibat dalam perjuangan, atau tidak.

Akibatnya, dalam waktu singkat, penjara di Bondowoso tidak lagi bisa menampung tahanan, yang pada waktu itu mencapai kurang lebih 637 orang.

Kemudian, Tentara Belanda bermaksud memindahkan tahanan, yang masuk ‘pelanggaran berat’ dari Bondowoso ke Surabaya. Belanda menggunakan kereta api, untuk mengangkut tahanan yang akan dipindahkan tersebut.

Pemindahan dibagi menjadi beberapa tahap. Sementara setiap tahap, kereta mengangkut 100 orang. Pengangkutan pertama dan kedua, berjalan lancar, karena gerbong kereta diberi ventilasi seluas 10 sampai 15 cm.

Namun saat pemindahan tahap ketiga, gerbong ditutup rapat, rakyat tidak boleh mendekati gerbong. Akibatnya, semua tahanan menderita kelaparan, dan kehausan. Pemindahan inilah, kemudian disebut sebagai tragedi Gerbong Maut.

Adapun kronologisnya, sebagaimana diceritakan dalam kitab sejarah lama Bondowoso. Sekitar pukul 04:00 WIB, 23 November 1947, para tahanan yang tercatat namanya untuk dipindah ke Surabaya, dibangunkan secara kasar oleh tentara Belanda. Kemudian dikumpulkan di depan penjara.

Sementara rincian tahanan tersebut adalah, 20 orang rakyat Desa, Kelaskaran Rakyat dan Gerakan Bawah Tanah 30 orang, Anggota TRI 30 orang, dan tahanan rakyat serta polisi 20 orang, jadi genap 100 orang.

Sekitar Pukul 05:30 WIB, tahanan tiba di Stasiun Bondowoso, sebanyak 32 orang dimasukan gerbong pertama, yang bernomor GR 5769, gerbong kedua bernomor GR 4416 diisi 30 orang. Sisanya, 38 orang dimasukan gerbong ketiga dengan nomor GR 10152, gerbong ketiga masih baru dan lebih panjang.

Saat para tahanan dimasukkan gerbong, dan pintu dikunci, suasana dalam gerbong jadi gelap, pengap dan panas, meskipun masih pagi.

Pukul 07.30 WIB, kereta mulai bergerak menuju Surabaya. Tepat di Stasiun Taman terjadi peristiwa memilukan. Dimana kiai Samsuri (50), membanting-bantingkan tubuhnya sambil berteriak kepanasan. Gerbong memang sangat pengap, jangankan diisi 30 orang, 10 orang saja terbayang panasnya.

Kemudian, ketika tiba di Stasiun Kalisat, gerbong harus menunggu kereta dari Banyuwangi, sekitar dua jam. Tahanan harus menahan teriknya matahari. Baru sekitar pukul 10.30 kereta berangkat dari Jember menuju Probolinggo.

Setelah kereta meninggalkan Jember di siang hari, suasana dalam gerbong panas luar biasa, karena dinding dan atap gerbong dibuat dari plat baja. Kemudian terjadilah peristiwa di luar batas kemanusiaan, yaitu demi untuk mempertahankan hidupnya, tahanan terpaksa minum air kencing tahanan lain.

Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan sekitar 16 jam, kereta akhirnya sampai di Stasiun Wonokromo. Setelah didata, di gerbong pertama sebanyak 5 orang sakit keras, 27 sehat tapi lemas. Gerbong kedua, 8 orang meninggal, 6 orang sakit keras. Sementara di gerbong ketiga, seluruh tahanan sebanyak 38 orang meninggal semua. Karena gerbong terakhir masih baru, dan tak ada celah untuk udara masuk, dan air saat hujan turun. 

Penderitaan tidak cukup sampai di situ, para tahanan yang sehat, dipaksa mengangkat temannya yang sudah meninggal. Setelah di evakuasi, jenazah kemudian diangkut dengan truk. Jenazah harus diangkut dengan hati-hati, sebab kalau tidak, dagingnya akan mengelupas akibat kepanasan. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

KOPI TIMES