Advertisement
Peristiwa Daerah

Alasan Ada Orang Berani Melakukan Bom Bunuh Diri, Berikut Penjelasan Psikolog

Aksi bom bunuh diri kembali terjadi. Kali ini aksi tak manusiawi itu dilakukan di Mapolsek Astana Anyar, Bandung, Jawa Barat. Kejadian itu menimbulkan sejumlah korban ter ...

TIMES Indonesia,
Alasan Ada Orang Berani Melakukan Bom Bunuh Diri, Berikut Penjelasan Psikolog
Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Salis Yuniardi. (FOTO: Salis Yuniardi for TIMES Indonesia)
A-AA+

JAKARTA Aksi bom bunuh diri kembali terjadi. Kali ini aksi tak manusiawi itu dilakukan di Mapolsek Astana Anyar, Bandung, Jawa Barat. Kejadian itu menimbulkan sejumlah korban termasuk pelaku yang tewas di tempat.

Kabid Humas Polda Bandung, Ibrahim menyampaikan, ada 9 orang yang terdiri dari 8 anggota kepolisian dan satu orang warga. Lalu satu orang meninggal yaitu pelaku bom bunuh itu sendiri.

Advertisement

"Ada satu orang yang meninggal memang diidentifikasi sebagai pelaku yang membawa peledak (bom)," katanya kepada wartawan.

Pertanyaannya, mengapa ada orang yang berani melakukan bom bunuh diri tersebut? 

Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Cabang Malang, Salis Yuniardi mengatakan, bunuh diri umumnya terjadi akibat dari depresi, dengan pendorong utamanya pemikiran irasional akan hilangnya harapan atau dikenal dengan hopelesness.

"Selain itu bunuh diri juga dapat terjadi akibat dorongan halusinasi atau bisikan-bisikan untuk bunuh diri, umum terjadi pada penderita psikotik, yang akar psikotik juga adalah depresi," katanya kepada TIMES Indonesia, Rabu (7/12/2022).

Pria yang kini penjabat sebagai Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu menjelaskan, pada kasus bom bunuh diri lebih komplek lagi. 

Advertisement

Pertama, kata dia, ada faktor ideologi. Jadi, hal itu lebih bersifat keyakinan yang kukuh. Namun, lanjut dia, apabila ditelusuri ternyata keyakinan bom bunuh diri ini dalam agama apapun ternyata tidak dibenarkan. "Sehingga dapat dikatakan keyakinan atau ideologi yang sesat," jelasnya.

Kedua, dalam banyak kasus bom bunuh diri ternyata juga ditemukan adanya unsur depresi. Ia mengatakan, depresi itu misalnya atas kehidupan personal pelaku seperti sosial ekonomi dan depresi atas jalan perjuangan.

"Yang pelaku yakini tidak dapat terwujud dengan cara lain selain bom bunuh diri," katanya lagi.

Ia juga menyampaikan sejauh ini kurang sependapat pada satu profil psikologi saja. Itu karena beragamnya profil pelaku bom bunuh diri yang pernah terjadi.

Namun demikian, kata dia, pada pelaku bom bunuh diri yang masih remaja atau muda, seringkali ditemukan profil kepribadian yang cenderung kaku.

"Sehingga sekali masuk satu ideologi jadinya radikal, keterampilan sosial kurang luwes, kemampuan problem solving yang terbatas sehingga mudah putus asa termasuk atas kehidupan pribadi maupun jalan perjuangan atau perwujudan ideologi," ujarnya. 

Bom Melekat di Tubuh Pelaku

Sementara itu, dari keterangan Kapolda Jawa Barat, Irjen Suntana, pelaku bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar membawa dua unit bom ke lokasi. Satu bom yang meledak itu diduga melekat di tubuh pelaku.

Sedangkan satu bom lainnya, kata dia, ditemukan di sekitar lokasi dalam kondisi belum meledak.

"Tadi ada satu yang diledakkan pelaku. Dan ada satu yang kita letakkan," katanya dikutip dari Antara.

Kata dia, satu bom yang ditemukan itu kemudian didisposal oleh anggota Gegana Brimob dengan cara diletakkan di tempat yang aman dan terbuka. Proses disposal terjadi sekitar pukul 10.45 WIB. 

Iya juga mengatakan, proyektil dari ledakan bom itu diduga berupa paku tembok hingga Paku payung. Saat ini pihaknya masih melakukan identifikasi bahan peledak yang digunakan pelaku pembunuh diri tersebut.

Ia menyampaikan, kepolisian akan melakukan olah kejadian perkara atau TKP setelah sterilisasi lokasi selesai. Untuk itu ia pun meminta masyarakat menunggu pihaknya mengungkap peristiwa itu maupun identifikasi pelaku pembunuh diri itu sendiri. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Moh Ramli
PenulisMoh RamliPasca Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (2023). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia