Advertisement
Peristiwa Daerah

Pelestarian Tradisi Toleransi Warga Tengger Bromo

Sejumlah kegiatan budaya yang menjadi tradisi masyarakat suku Tengger, juga menjadi salah satu pendorong dalam menjalin kerukunan dan toleransi.  ...

TIMES Indonesia,
Pelestarian Tradisi Toleransi Warga Tengger Bromo
Sejumlah kegiatan budaya yang menjadi tradisi masyarakat suku Tengger (Foto: Kemenag)
A-AA+

PROBOLINGGO Sejumlah kegiatan budaya yang menjadi tradisi masyarakat suku Tengger, juga menjadi salah satu pendorong dalam menjalin kerukunan dan toleransi. 

Bahkan, beberapa kegiatan religi di suku Tengger kerap menjadi pendorong dan daya tarik wisatawan untuk datang melihat sendiri.

Advertisement

Seperti Hari Yadnya Kasada atau Pujan Kasada. Merupakan hari upacara pemujaan berupa persembahan kepada Sang Hyang Widhi dalam wujudnya sebagai Batara Brahma.

Sebagai salah satu tokoh Tengger Semeru, Digdoyo Djamaluddin P. Pria yang akrab dipanggil Pak Dhe Yoyok ini menuturkan ada sejumlah kegiatan budaya suku Tengger yang semakin diminati wisatawan. 

Selain keunikan yang dilakukan, terdapat nilai-nilai toleransi, gotong royong dan kerukunan yang terjalin di antara masyarakat Tengger Bromo.

Bukan hanya Kasada. Pada hari Yadnya Karo, hal yang sama juga terjadi. Pada saat Yadnya Karo juga diadakan tarian Sodoran untuk memperingati saat manusia lahir, besar dan akhirnya mati.

Suku-Badui-v.jpg

“Yadnya Karo ditahan selama 15 hari, dimulai dari Pers Ping Pitu. Artinya, mengundang arwah leluhur untuk tinggal bersama keluarga sampai Mulihe Ping Pitu. Saat arwah nenek moyang kembali ke Nirwana," ujarnya.

Yoyok menuturkan, selama ini pihak keluarga menyediakan pakaian, sabun, shampo, sikat gigi, pasta gigi serta makanan dan minuman yang diganti setiap hari untuk para leluhur.

 “Dalam 15 hari ini, ada banyak rangkaian acara. Seperti sodoran, tumpeng ageng, sesanding, ojung, nyadran dan lainnya,” jelasnya.

Tidak hanya itu, gerakan tarian juga menggambarkan bahwa manusia harus selalu berpikir, berbicara dan berperilaku baik, serta selalu mengingat Tuhan. 

“Budaya yang padat dan terus dipelihara inilah yang membuat kita, sebagai orang Tengger, selalu mengingat Tuhan. Oleh karena itu, nilai-nilai toleransi, kerukunan dan rasa gotong royong dijunjung tinggi,” jelasnya.

Termasuk acara Gegeni Tengger. Suku Tengger di lereng Gunung Bromo memiliki pertunjukan menarik yang dilakukan setiap tahun. Khususnya Pementasan Gegeni Tengger. Gegeni Tengger berasal dari bahasa Jawa Geni yang berarti api.

Gegeni sendiri merupakan sebutan suku Tengger, karena kebiasaan mereka memasak bersama dan menggunakan perapian untuk menghangatkan ruangan. 

Dalam kebiasaan inilah warga berintegrasi, baik dengan keluarga maupun dengan tamu. 

“Gogeni Tengger tidak hanya memberikan efek menghangatkan tubuh. Namun untuk mengikat fikiran, mempererat tali persaudaraan, membangun silaturahmi, termasuk membicarakan masalah keluarga melalui gegeni. Itu juga bisa menggabungkan pikiran dan persepsi untuk menemukan solusi, ”jelasnya.

Sedangkan tumang sendiri merupakan tempat api menyala saat memasak dan menghangatkan tubuh. Ini akan memiliki nilai mistis dengan Penjaga Baterai dan Nini Tuwok.

“Tumang adalah simbol keharmonisan. Karena dengan tumang, keluarga dan tamu bisa berkumpul bersama untuk menciptakan kehangatan,” jelas Pak Dhe Yoyok tentang filosofi Gegeni Tengger. 

Sebuah kegiatan tahunan yang mampu mempersatukan masyarakat suku Tengger. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rochmat Shobirin
PenulisRochmat ShobirinPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2015. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia