Peristiwa Daerah

Cerita Kelenteng Sumber Naga Probolinggo, Pernah Berubah Nama hingga Terbakar

Sabtu, 21 Januari 2023 - 22:37 | 47.06k
Kelenteng  Sumber Naga Jaman dahulu.  (Foto: Erfan Sutjianto For TIMES Indonesia)
Kelenteng Sumber Naga Jaman dahulu. (Foto: Erfan Sutjianto For TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Tahun baru Imlek 2023 dirayakan Minggu (22/1/2023) ini. Di antara ritual yang biasa dilakukan pada tahun baru dalam Kalender China ini, adalah membersihkan kelenteng. Tak terkecuali Kelenteng Sumber Naga di Kota Probolinggo, Jawa Timur.

Di antara bangunan tempat memuja dan upacara keagamaan Konghucu lainnya di Indonesia, Kelenteng Sumber Naga terbilang unik. Sebab, tak banyak kelenteng yang menggunakan Bahasa Indonesia.  

Advertisement

“Hampir semua kelenteng di Indonesia menggunakan Bahasa China,” sebut Wakil Ketua II Tempat Ibadah Tri Darma Sumber Naga Probolinggo, Erfan Sutjianto kepada TIMES Indonesia. 

Kelenteng yang membelah di Jalan Wr. Supratman, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota probolinggo ini pernah mengalami perubahan nama. Juga pernah terbakar hebat pada 2019 lalu.

Tidak banyak orang tahu seperti apa Kelenteng Sumber Naga Pobolinggo di zaman dahulu. Begini sejarahnya. 

Dibangun 1865, Membelah Jalan Wr Supratman

Erfan Sutjianto, menceritakan sejarah berdirinya Kelenteng Sumber Naga. Ia mendapat cerita tentang kelenteng yang dulu bernama Liong Tjien Miau ini secara turun temurun dari orang tua. 

“Setiap kelenteng itu, posisi bangunannya hampir semuanya berada di posisi tusuk sate dan menghadap ke selatan. Seperti Kelenteng Sumber Naga ini. Posisi tusuk sate dianggap membawa keberuntungan,” kata Erfan. 

Kelenteng Sumber Naga ini dibangun tahun 1865. “Menurut orang tua dahulu, posisi kelenteng saat itu berada di pinggir Sungai Banger dan di belakang kelenteng adalah pantai atau laut,” cerita Erfan. 

Kelenteng yang kini memiliki 500 jemaah tersebut, dibangun seorang kapiten dari China, Wen Bao Chang atau Oen Tik Goan, dan juga 172 orang relawan. Ini diketahui dari sebuah prasasti bertulisan huruf China yang berada di salah satu pojok kelenteng. 

Cerita-Kelenteng-Sumber-Naga-B.jpgKelenteng Sumber Naga setelah dibangun dan direnovasi. (Foto : Sri Hartini /TIMES Indonesia)

Nama Wen Bai Chang dan 172 orang relawan atau pendonor ini, juga tertulis dalam prasasti tersebut. Namun, prasasti itu kini sudah tidak ada lagi karena ikut terbakar pada 2019. Prasasti ini pernah dibaca oleh seorang peneliti dari Hongkong. 

Merujuk dari sebuah tulisan LANTING Journal of Architecture, karya Grace Mulyono, Program Studi Desain Interior Fakultas Seni dan Desain Universitas Kristen Petra Surabaya, Kelenteng Sumber Naga atau Liong Tjwan Bio merupakan tempat ibadah yang secara resmi didirikan pada Tongzhi 4 tahun 1865. 

Kelenteng ini didirikan oleh Wen Baochang, saudara Wen Yuanchang, serta beberapa anggota keluarga Han dan 172 pendonor terdaftar. 

Kongco Tan Hu Cin Jin merupakan tuan rumah atau dewa pujaan Kelenteng Sumber Naga Probolinggo. 

Tan Hu Cin Jin berarti manusia sejati yang berasal dari keluarga Tan. Tan Bun Ciong merupakan nama sebenarnya, seseorang yang sangat pandai dalam bidang pengobatan, feng shui, arsitek bangunan dan pertamanan. Berasal dari Propinsi Kwan Tung di daratan Tiongkok dan terdampar di pantai Banyuwangi, Jawa Timur. 

Tan Hu Cin Jin memberi pengaruh yang besar terhadap masyarakat Tionghoa di sekitar pesisir Utara Jawa Timur (Probolinggo, Besuki, Banyuwangi) dan Bali. Hal ini dapat terlihat dari adanya beberapa kelenteng dan vihara dengan pujaan utama yang sama, yaitu Kongco Tan Hu Cin Jin. 

Asal Usul Nama Sumber Naga

Sebelum bernama Kelenteng Sumber Naga, tempat peribadatan ini bernama Liong Tjien Miau

Nama Sumber Naga sendiri diambil dari sebuah cerita masyarakat waktu itu, bahwa di setiap sore, awan yang berada di atas laut di belakang kelenteng, berbentuk seperti seekor naga. Dari sanalah nama Kelenteng Sumber Naga berasal.

Menurut Erfan, mungkin hanya segelintir nama kelenteng di seluruh Indonesia yang menggunakan Bahasa Indonesia. 

“Hampir semua kelenteng di Indonesia menggunakan Bahasa China,” kata Erfan. 

Ajaran yang pertama ada di Kelenteng Sumber Naga Probolinggo adalah Tao. Namun setelahnya tepatnya di tahun 1965, Kelenteng Sumber Naga mendapat serangan yang begitu dahsyat, sampai-sampai kelenteng ini harus ditutup bahkan harus dimusnahkan. 

Namun upaya ini gagal, setelah ajaran Budhisme masuk, dan selanjutnya ajaran Kon Hu Cu. Dan mulai dari sanalah Kelenteng Sumber Naga berubah nama menjadi Tempat Ibadah Tri Dharma atau TITD Sumber Naga. 

Kini tiga agama ini hidup rukun berdampingan melaksanakan ibadah menurut kepercayaannya masing-masing. 

Tiga ajaran itu adalah Budha dengan cinta kasihnya, Tao yang mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhannya, dan Konghucu yang mengajarkan hubungan manusia dengan manusia dan leluhurnya. 

Terbakar Hebat pada 2019

Pada 17 Mei 2019, setelah perayaan Imlek, TITD Sumber Naga mengalami kebakaran yang begitu besar dan hampir menghanguskan seluruh bangunan. Namun tak lama setelah itu tepatnya pada di bulan September, TITD Sumber Naga dibangun kembali dengan dana swadaya dari para donatur. 

Pembangunan kembali TITD Sumber Naga ini menghabiskan dana kurang lebih Rp 4 Miliar, dengan tidak mengubah arsitektur lama. Ini karena TITD Sumber Naga termasuk bangunan yang dilindungi atau cagar budaya. 

Dalam peryaan Imlek 2023 kali ini, TITD Sumber Naga bukan hanya sebagai tempat peribadatan Tri Dharma, tetapi juga sebagai tempat dan sarana bagi para jamaahnya di Probolinggo(*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Muhammad Iqbal
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES