Advertisement
Peristiwa Daerah

Komunitas Besuki Membaca, dari Obrolan Warung Kopi, Lapak Bacaan Gratis Hingga Rumah Baca

Sekelompok pemuda di Besuki, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, membuat komunitas Besuki Membaca. Setiap Sabtu sore hingga malam, mereka membuka lapak bacaan gratis di alun ...

TIMES Indonesia,
Komunitas Besuki Membaca, dari Obrolan Warung Kopi, Lapak Bacaan Gratis Hingga Rumah Baca
Lapak Besuki Membaca banyak peminatnya. (Foto: Miftahurrahman/TIMES Indonesia)
A-AA+

SITUBONDO Sekelompok pemuda di Besuki, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, membuat komunitas Besuki Membaca. Setiap Sabtu sore hingga malam, mereka membuka lapak bacaan gratis di alun-alun setempat.

Di pusat keramaian itu, mereka menggelar banner bekas sebagai alas. Kemudian koleksi buku dari berbagai genre, ditata di atasnya. Dari buku anak-anak, hingga buku ilmiah. Mirip seperti penjual buku.

Advertisement

Setiap warga bebas membaca serta meminjam buku di lapak tersebut. Semuanya gratis, sebagaimana slogan yang diusung Komunitas Besuki Membaca: Baca Gratis Seperti Udara yang Kau Hirup.

Itu semua dilakukan untuk mendekatkan buku kepada masyarakat. Untuk mendongkrak tingkat literasi yang rendah, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Semua berawal dari kegelisahan kami tentang pendidikan dan tingkat literasi masyarakat. Apalagi di Situbondo, tidak ada toko buku. Paling dekat di Jember dan Probolinggo yang masing-masing sekitar 1 jam perjalanan,” kata Arifin, salah satu pengurus Besuki Membaca.

Hingga kini, Besuki Membaca telah dua tahun melapak di Alun-Alun Besuki. Dari sekedar lapak baca pada 2021, Besuki Membaca kini mewujud menjadi rumah baca. Menempati eks Kantor Dusun Besuki, sekitar 400 meter dari alun-alun.

Bermula dari Obrolan di Warung Kopi

Arifin bercerita, gerakan literasi jalanan oleh Komunitas Besuki Membaca, berawal dari sebuah obrolan hangat di sebuah warung kopi pada Februari 2021. Kemudian diseriusi dengan penggalangan donasi buku bekas layak baca.

Advertisement

Komunitas-Besuki-Membaca-2.jpg
Komunitas Besuki Membaca di rumah baca yang dirintisnya. (Foto: Miftahurahman/TIMES Indonesia)

“Terkumpul (buku, Red) sekitar dua kardus air mineral waktu itu,” cerita Arifin kepada TIMES Indonesia.

Dengan modal awal dua kardus buku bekas hasil donasi, Arifin dan kawan-kawan memberanikan diri membuka lapak baca buku gratis bagi masyarakat di Alun-Alun Besuki, Situbondo.

Lapak ini mereka buka sepekan sekali, setiap Sabtu. Mulai pukul 16.00 hingga pukul 21.00 WIB. Makin lama, koleksi buku komunitas Besuki Membaca makin banyak. Semuanya 100 persen hasil donasi.

“Seluruh katalog bacaan yang kami miliki berasal dari donasi dari teman-teman pengurus, masyarakat dan beberapa simpatisan yang terdiri dari berbagai genre. Mulai dari anak-anak hingga dewasa,” ungkap Arifin.

Melalui perpustakaan jalanan tersebut, Arifin dan kawan-kawan berusaha untuk meningkatkan tingkat literasi masyarakat dengan menyediakan bahan bacaan layak dan berkualitas.

“Melalui Besuki Membaca ini, kami berharap dapat memberikan dampak dan pengaruh di tengah masyarakat. Khususnya di bidang pendidikan dan literasi," lanjutnya.

Sering Dikira Berjualan Buku

Dalam perjalanannya, Besuki Membaca tidak begitu saja diterima oleh masyarakat. “Ada yang antusias datang membaca buku, tak sedikit pula yang mengira kami berdagang buku di sini karena bukunya ditata di atas banner bekas kan,” kata dia.

Komunitas-Besuki-Membaca-3.jpg

Dengan memanfaatkan banner bekas yang diperoleh dari beberapa anggotanya, Besuki Membaca menggelar lapak baca buku gratis dengan menata koleksi buku sesuai dengan genre dan kelompok usianya.

“Buku anak kita taruh di bagian depan bersamaan dengan novel dan sastra populer untuk memancing. Buku-buku serius kita taruh di bagian belakang bersama dengan buku keagamaan,” tutur Arifin.

Bagi para pengunjung yang hendak membaca di tempat, pengurus Besuki Membaca menyediakan alas dari banner bekas sebagai lokasi membaca. Juga disediakan tempat untuk duduk bagi para pengunjung.

Pengunjung yang hendak meminjam buku koleksi perpustakaan jalanan Besuki Membaca juga tidak perlu ribet. Hanya perlu meninggalkan detail kontak untuk dihubungi oleh pengurus.

“Bagi yang ingin meminjam buku, kami hanya mencatat nama dan nomor telepon. Nantinya yang bersangkutan dihubungi terkait dengan peminjaman jika sudah sampai 1 minggu,” terang Arifin perihal proses peminjaman buku di perpustakaan jalanan.

“Tidak, kami tidak meminta kartu identitas seperti di rental buku. Sesuai slogannya yakni Baca Gratis Seperti Udara yang Kau Hirup, itu prinsip kami,” tambah dia. 

Dirikan Rumah Baca Pertama di Situbondo

Menginjak tahun kedua berdirinya, gerakan literasi Besuki Membaca mulai dilirik dan mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satu bentuk nyata yang dihasilkan adalah pendirian rumah baca pertama di Kabupaten Situbondo.

Rumah baca bernama Besuki Membaca tersebut merupakan eks kantor Dusun Besuki. Bangunan itu direvitalisasi oleh segenap pengurus Besuki Membaca dan disulap menjadi rumah baca.

Berbeda dengan lapak baca yang buka sepekan sekali, rumah baca ini buka setiap hari. Namun setiap Sabtu sore hingga malam, semua koleksi buku dipindah ke lapak agar lebih dekat dengan masyarakat.

“Alhamdulillah, tahun kedua ini kami akhirnya bisa mendirikan rumah baca. Dan kami berharap rumah baca ini bisa menjadi tempat ramah anak dan menjadi pusat kebudayaan serta kreativitas pemuda dan masyarakat Situbondo,” harap Arifin perihal Besuki Membaca. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Dicko W
PenulisDicko WLulusan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) tingkat Muda (2021). Bergabung dengan TIMES Indonesia sejak 2017. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni dan budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia