Peristiwa Daerah

HUT ke-22 FKPPAI, DPD Jatim Gelar Pameran Keris Lintas Zaman 

Sabtu, 25 Februari 2023 - 16:43 | 152.69k
Happy Tos membawa sejumlah koleksi keris dari era Majapahit, Mataraman dan Kamardikan dalam acara FKPPAI Jatim di Museum Mpu Tantular, Sabtu (25/2/2023). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia) 
Happy Tos membawa sejumlah koleksi keris dari era Majapahit, Mataraman dan Kamardikan dalam acara FKPPAI Jatim di Museum Mpu Tantular, Sabtu (25/2/2023). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia) 
Kecil Besar

TIMESINDONESIA, SURABAYA – DPD Forum Keluarga Paranormal dan Penyembuh Alternatif Indonesia (FKPPAI) Jawa Timur menggelar pameran barang antik, keris dan benda pusaka di Museum Mpu Tantular mulai 25-26 Februari 2023.

Acara ini terselenggara dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-22 FKPPAI. 

Advertisement

Berbagai macam barang antik dan langka menjadi daya tarik dalam kegiatan tersebut. Mulai keris lintas zaman, fosil, batuan permata, akik, patung, tembikar tembaga, perunggu, aneka aksesoris dan lain-lain. Juga ada kesenian jaranan dan penyembuhan alternatif seperti bekam dan totok gratis bagi masyarakat umum. 

Bazaar dibuka dengan seni tradisional jaranan serta dihadiri oleh Ketua DPP FKPPAI Ki Sawung dan Ketua DPD FKPPAI Jatim Gus Muhammad Yamin serta perwakilan lintas agama. 

FKPPAI-Jatim-2.jpgPenjual fosil langka juga turut serta di pameran HUT ke-22 FKPPAI persembahan DPD FKPPAI Jatim di Museum Mpu Tantular, Sabtu (25/2/2023). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

Ketua Panitia HUT ke-22 FKPPAI, Suroso mengatakan, peserta bazaar  berasal dari seluruh Jatim. Mayoritas merupakan kolektor keris. 

"Kami memang fokus pada budaya keris. Tujuan kita adalah untuk meramaikan HUT FKPPI agar tambah semarak," terang Suroso, Sabtu (25/2/2023). 

Acara tahunan tersebut melibatkan komunitas maupun padepokan berbagai daerah. Mulai Jember, Lumajang dan Situbondo. Total sekitar 23 stand memamerkan benda-benda pusaka, patung dan lukisan. 

Antusiasme masyarakat cukup tinggi atas pameran ini. Suroso juga bersyukur karena pemerintah memberikan dukungan sehingga acara silaturahmi antar anggota dapat terwujud tanpa hambatan. 

Suroso berharap pameran benda pusaka dan penyembuhan dapat terus lestari sebagai upaya menjaga kearifan lokal. Harapan Suroso bukanlah harapan hampa. Karena keinginan itu senada dengan harapan peserta pameran. 

Anggota Komunitas Pasar Antik Arya Wiraraja Lumajang, Sampurno berharap pemerintah bisa bergandengan tangan berkolaborasi bersama pegiat budaya benda pusaka agar kearifan lokal tetap lestari di Bumi Nusantara. 

"Karena saat ini pecinta keris hanya 100 banding 10. Maka dari itulah kita terus bergerak untuk melestarikan, kalau bukan kita siapa lagi? Biar kita nggak kehilangan jati diri sebagai generasi. Karena keris adalah maha karya seni tempa besi dunia asli Indonesia yang harus dilestarikan," ucap Sampurno.

Dalam pameran ini, Sampurno membawa berbagai koleksi keris dan batuan akik. Ia tak hanya pamer dan memaharkan koleksi benda pusaka legendaris tersebut. Tetapi juga memberikan edukasi kepada pengunjung. 

"Kami edukasi tentang keris," ungkapnya. Keris adalah senjata pamungkas. Identik dengan kewibawaan seseorang. Terutama bagi orang-orang Jawa. 

FKPPAI-Jatim-3.jpgKesenian jaranan menjadi salah satu hiburan bagi pengunjung pameran benda pusaka dalam rangka HUT ke-22 FKPPAI persembahan DPD FKPPAI Jatim di Museum Mpu Tantular, Sabtu (25/2/2023). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

"Biasanya hal mistik ditaruh di kerisnya, nggak di orangnya. Jadi kami melestarikan mulai dari seni tempa besi, bagaimana pada zaman dahulu tanpa alat tanpa teknologi tapi bisa membuat pusaka," ucap Sampurno. 

Sampurno memamerkan banyak jenis keris. Antara lain Keris Winongan, Keris Tilam Sari dan Keris Tilam Upe. Ia juga mengenalkan pusaka khas Lumajang bernama Wedung Sanibin. Senjata dengan panjang sekitar 80 centi meter tersebut lebih menyerupai golok. 

"Kami saat ini publikasi tentang Wedung Sanibin sebagai ciri khas dari daerah Lumajang," ucap Sampurno. 

Dari semua keris milik Sampurno, rupanya tak semua dimaharkan. Karena ada satu keris warisan leluhur yang ia jaga. 

Sampurno kemudian menarik bilah Keris Winongan. Ia menjelaskan bahwa keris tersebut merupakan ciri khas Pasuruan dan Kawasan Tengger. Ia mendapatkan keris tersebut turun temurun dari kakek moyang. Generasi ke generasi. 

"Cuma buat pameran saja kalau lainnya dimaharkan," tandas Sampurno. 

Untuk nilai mahar keris lain, kata Sampurno, mulai dari Rp400 ribu sampai Rp2 juta. Hasil tempaan besi membuat harga mahar bahkan bisa lebih tinggi. 

Tempaan besi lama atau keris kuno terbilang lebih kuat dan susah didapatkan jika tidak berjodoh. "Kalau jodoh dapat, kalau nggak jodoh agak susah juga," ujarnya. 

Selain keris, Sampurno juga memamerkan aneka batuan seperti Batu Kecubung, Kalimantan, Giok Aceh, Badar Besi Kebumen, dan meteorit sebagai bahan baku keris pada bagian pamor atau motif. 

Salah satu peserta pameran lain berasal dari Banjar Sari Buduran bernama Happy Tos. Ia membawa sejumlah koleksi keris dari era Majapahit, Mataraman dan Kamardikan. 

"Semua keris sebenarnya asli, cuma memang ada masanya atau tahun pembuatannya," kata Happy. 

Untuk Keris Kamardikan dibuat pada era setelah kemerdekaan. Demikian pula Keris Majapahit dan Keris Mataraman dibuat pada masa-masa tersebut. Setiap keris memiliki pamor. 

Pemilik Happy Tos Gemstone Gallery tersebut menunjukkan keindahan dan makna dari setiap pamor. Ia mengangkat salah satu keris paling kuno miliknya, yaitu Keris Tilam Sari dari era Mataraman dengan pamor tirto mili ujung gunung berbahan campuran batu meteorit. 

"Pamor itu gambar. Kalau lurus seperti ini larinya ke banyu mili atau tirto mili ujung gunung," terangnya. 

Pamor pada keris juga dipercaya memiliki fungsi bagi para pemiliknya. Pamor tirto mili mengandung filosofi atau makna rezeki akan selalu naik sampai ujung gunung dan mengalir seperti air. 

Biasanya keris ini disukai oleh para pejabat dan kelas atas untuk menaikkan pangkat. Sedangkan untuk pedagang makanan (nasi), biasanya lebih menyukai pamor dapur om yang jimbe dengan gambar kutut kembar pada sisi bawah bagian kanan kiri keris. 

"Filosofinya untuk melariskan dagangan, tapi ya kembali lagi pada kepercayaan masing-masing," ungkap Happy yang terjun dalam dunia pusaka sejak 2014 silam. 

Kemudian juga ada pamor raja naga akinata berwarna kuning. Raja naga akinata juga memiliki makna naga bermahkota. Lalu pamor naga manten berupa motif naga kembar jantan dan betina. 

Keris pamor naga tersebut merupakan buatan era Kamardikan atau setelah hari kemerdekaan dan juga ada era Jokowi. Selain itu juga ada keris era HB (Hamengku Buwono) dan PB (Paku Buwono). 

Berbeda dengan keris sebagai sarana kewibawaan, patrem atau keris kecil lebih berfungsi sebagai ajian atau azimat bagi pemilik karena mudah dibawa ke mana-mana dalam tas. 

Keris dan patrem tersebut dimaharkan sesuai kesepakatan untuk perpindahan hak milik. Happy total membawa sekitar 32 buah keris dan patrem (keris kecil) dalam bazaar ini. 

"Kami sebagai pemilik menawarkan harga mahar, nanti biasanya ada nego juga," tandas pria gondrong ini. 

Happy mengaku memiliki banyak pelanggan. Seperti bupati, menteri, kiai, ustaz dan kalangan kelas atas lainnya. Masyarakat dapat melihat langsung koleksi keris miliknya dalam pameran benda pusaka persembahan DPD DPD Forum Keluarga Paranormal dan Penyembuh Alternatif Indonesia (FKPPAI) Jawa Timur tersebut. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES