Advertisement
Peristiwa Daerah

Kisah Iskandar Harjodimulyo, Kampanye Lingkungan Melalui Wayang Uwuh

Tak kenal maka tak sayang, begitu kira-kira kalimat tersebut disematkan kepada sosok pria seniman asal kota Yogyakarta, Iskandar Harjodimulyo. ...

TIMES Indonesia,
Kisah Iskandar Harjodimulyo, Kampanye Lingkungan Melalui Wayang Uwuh
Pencetus Wayang Uwuh, Iskandar Harjodimulyo berfoto di Angkringan Wayang Uwuh miliknya. (FOTO: Hendro S.B/TIMES Indonesia) 
A-AA+

YOGYAKARTA Tak kenal maka tak sayang, begitu kira-kira kalimat tersebut disematkan kepada sosok pria seniman asal kota Yogyakarta, Iskandar Harjodimulyo.

Dipicu rasa kepeduliannya terhadap isu lingkungan hidup, Iskandar Harjodimulyo membangun ide kampanye lingkungan dengan memanfaatkan "Uwuh" atau dalam bahasa Indonesia berarti sampah. Sampah  didaur ulang menjadi sebuah wayang. 

Advertisement

Iskandar-Harjodimulyo-2.jpg
Iskandar Harjodimulyo menunjukan hasil karyanya yang dipamerkan saat mengikuti ajang pameran SEA Junction, Bangkok Arts and Culture Center. (FOTO: Hendro S.B/TIMES Indonesia) 

Kali ini, TIMES Indonesia berkesempatan bertemu dengan seniman Wayang Uwuh ini di Jalan Bima Sakti, No.29, Sapen, Demangan, Gondokusuman Yogyakarta.

Begitu tiba dikediamannya, Iskandar Harjodimulyo langsung menceritakan awal kisah Wayang Uwuh hingga pada akhirnya bisa mengikuti sejumlah pameran di SEA Junction, Bangkok Arts and Culture Center. 

Sembari duduk di Angkringan Wayang Uwuh miliknya yang dihiasi dengan berbagai ornamen wayang, Iskandar Harjodimulyo bercerita, awal gagasan terbentuknya Wayang Uwuh.

Anak-anak-1.jpg
Anak-anak terlihat antusias membaca di mobil perpustakaan keliling dari Perpustakaan Kota Yogyakarta. (FOTO: Hendro S.B/TIMES Indonesia) 

Awalnya, Iskandar Harjodimulyo diajak oleh salah satu rekannya yang bernama Enrico untuk mengikuti kegiatan pameran di Jakarta pada tahun 2013 silam. 

Selanjutnya, di tahun yang sama itu Iskandar Harjodimulyo juga sempat menjadi seorang relawan di Bantaran Sungai Ciliwung.

Iskandar Harjodimulyo bercerita, kebetulan, Sungai Ciliwung mengalami bencana banjir cukup besar. Usai banjir tersebut, Iskandar Harjodimulyo menemukan beberapa puing-puing sampah seperti plastik bekas, kardus bekas, seng bekas dan triplek bekas. 

"Nah, dari situlah saya timbul ide untuk dimanfaatkan sebagai wayang. Pertama kali saya buat untuk wayang, itu dari botol mineral bekas, kemudian yang kedua dari seng bekas," ungkap Iskandar, Sabtu (11/3/2023). 

Berlanjut dari kisah tersebut, lantas Iskandar Harjodimulyo tergerak untuk mendaur ulang sampah-sampah untuk menjadi wayang, salah satu ikon budaya Indonesia.

Kegiatan pameran Wayang Uwuh pertama kalinya diselenggarakan di Parkir Timur Senayan Jakarta. Bermula dari ajakan seniman asal Jakarta, Enrico inilah maka tercetus adanya Wayang Uwuh hingga kini. 

Setelah itu, berawal dari mengikuti pameran bernuansa teater kecil yang bertempat di basement, Iskandar Harjodimulyo kebanjiran undangan dari berbagai lintas kalangan untuk memberikan kegiatan workshop atau seminar. 

"Termasuk waktu itu saya mulai mengisi workshop untuk perguruan-perguruan tinggi swasta terkenal di Jakarta, workshop ke berbagai perusahaan bahkan saya juga memberikan workshop kepada anak-anak jalanan," ujarnya. 

"Tentunya, workshop ini saya lakukan yang paling penting adalah mengajarkan pentingnya wayang sebagai budaya kita dan juga tentang lingkungan hidup," ucapnya. 

Iskandar Harjodimulyo menegaskan, dari hasil workshop-workshop yang dilakukannya hingga saat ini terdapat dua sisi penting, yaitu mengkampanyekan dari segi budaya adalah wayang dan dari segi lingkungan hidup adalah dengan mendaur ulang sampah. 

"Jadi dua hal itu yang selalu saya tekankan kepada masyarakat luas. Wayang adalah budaya kita dan sampah bisa menjadi emas kalau kita manfaatkan dengan baik," tegas Iskandar Harjodimulyo. 

Empat tahun setelahnya, yaitu pada tahun 2017, Iskandar Harjodimulyo berhasil mendapatkan kehormatan dengan mengikuti kegiatan pameran tunggal di Bangkok. Dalam pameran SEA Junction, Bangkok Arts and Culture Center itu, Iskandar Harjodimulyo membawakan Pameran Tunggal Lukis Kaca yang mana diambil dari kaca bekas dan frame dari sampah dan Pameran Wayang Uwuh. 

"Di pameran itu dua-duanya saya memberikan workshop baik lukisan kaca maupun Wayang Uwuh. Ternyata, peserta dari berbagai negara di Amerika, Kanada, Eropa, Israel dan lintas Asia begitu antusias melihat karya saya dari sampah," imbuhnya. 

"Ga hanya itu saja, di pameran itu kan ada dialog juga sehingga semakin tahu dengan budaya wayang dan apalagi persoalan lingkungan hidup, mereka semua semakin suka," lanjut Iskandar Harjodimulyo. 

Intinya adalah, pihaknya menegaskan, targetnya telah tercapai melalui karyanya ini. Pertama, mengenalkan budaya wayang dan kedua adalah mengedukasi permasalahan lingkungan hidup. 

"Saya kebetulan saat mahasiswa adalah aktivis, jadi saya begitu peduli dengan budaya Indonesia dan lingkungan yang bersih. Bumi harus kita jaga bersama-sama," tegasnya. 

Angkringan Wayang Uwuh dan Perpustakaan Keliling

Selain menciptakan kreasi unik Wayang Uwuh, Iskandar Harjodimulyo juga memiliki sebuah angkringan bernama Angkringan Wayang Uwuh, di mana warung angkringan ini sangat berbeda dengan angkringan pada umumnya di kota Yogyakarta.

Angkringan ini mempunyai buku-buku bacaan serta wayang dari berbagai macam karakter. 

Keberadaan taman baca ini mendapatkan dukungan dari pihak Perpustakaan Kota Yogyakarta dengan menyiapkan mobil bahan bacaan berupa perpustakaan keliling.

Tujuan ini jelas, agar minat pembaca masyarakat di Indonesia semakin tinggi, setidaknya anak-anak muda khusunya bisa melupakan gadgetnya selama 1 atau 2 jam untuk membaca buku. 

Ari Pujiantoro dari Perpustakaan Kota Yogyakarta mengungkapkan, bahwa perpustakaan keliling ini memiliki peran yang sangat besar untuk anak-anak yang masih berstatus pelajar. Apalagi, ajakan dari Iskandar Harjodimulyo kepada Ari untuk bersinergi dalam membangun minat baca masyarakat terutama di kota Yogyakarta. 

"Wayang dari sampah itu kan juga bagian dari sebuah literasi, nah perpustakaan keliling ini bagian dari literasi itu juga. Jadi kami berkolaborasi bersama dalam meningkatkan literasi baca," sebut Ari. 

Adanya perpustakaan keliling ini pun dinilainya sebagai ajang promosi minat baca masyarakat dan juga mengenalkan budaya Wayang Uwuh tersebut. Dikarenakan berlokasi di tempat yang sama, hal itu mempermudah masyarakat untuk mempelajari seluruhnya tanpa harus menggunakan gadget. 

"Pokoknya kami saling dukung dan bekerjasama sampai sekarang dengan pak Iskandar," papar Ari. 

Mengingat minat literasi baca masyarakat Indonesia yang masih rendah, Ari berharap bisa memanfaatkan literasi terapan dari buku yang dibaca sehingga bisa menciptakan sebuah kreasi seperti Wayang Uwuh ini.

Di era digitalisasi ini memang dikatakannya cukup sulit lantaran masyarakat sudah mayoritas menggunakan gadget dalam mengaplikasikan sesuatu namun di sisi lain tak ada salahnya jika menyisihkan waktu kurang lebih 1 atau 2 jam untuk membaca buku. 

"Intinya gini, kalau kita membaca buku harus bisa menghasilkan outputnya dan sama halnya dengan menggunakan gadget. Jadi kalau kita bisa manfaatkan dengan baik dengan membaca buku, apa yang kita rasakan akan sama seperti pak Iskandar sekarang," harapnya. (*) 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

H
PenulisHendro Setyanto Baskoro Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia