Advertisement
Peristiwa Daerah

Pawai Ogoh-ogoh Desa Balun Lamongan Semarak Lagi, Warga Hindu Sumringah

Setelah vakum selama 3 tahun akibat pandemi Covid-19,pawai ogoh-ogoh yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Raya Nyepi, kembali digelar oleh umat Hindu Desa Balun, Keca ...

TIMES Indonesia,
Pawai Ogoh-ogoh Desa Balun Lamongan Semarak Lagi, Warga Hindu Sumringah
Masyarakat memadati ruas jalan yang menjadi jalur pawai ogoh-ogoh di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, dalam perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1946, Selasa (21/3/2023). (FOTO: MFA Rohmatillah/TIMES Indonesia)
A-AA+

LAMONGAN Setelah vakum selama 3 tahun akibat pandemi Covid-19,pawai ogoh-ogoh yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Raya Nyepi, kembali digelar oleh umat Hindu Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Selasa (21/3/2023).

Animo masyarakat dalam menyambut hadirnya kembali pawai ogoh-ogoh begitu besar. Mereka berbondong-bondong datang ke lapangan Desa Balun, untuk menyaksikan arak-arakan hingga prosesi pemusnahan ogoh-ogoh.

Advertisement

Besarnya antusiasme masyarakat tidak hanya tergambar dari banyaknya pengunjung yang hadir. Tapi juga tergambar dari banyaknya ogoh-ogoh yang dipersembahkan pada Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1945 ini.

Pemangku Pura Sweta Maha Suci Desa Balun, Mangku Tadi, menyebutkan pada Nyepi kali ini, ada sebanyak 13 ogoh-ogoh yang diarak keliling Desa Balun.

"Kali ini antusiasme luar biasa, mungkin karena 3 tahun ndak ada pawai ogoh-ogoh. Jumlah ogoh-ogoh yang diarak ada 13. Itu dari umat (Hindu) sendiri 4 ogoh-ogoh. Sedangkan yang 9 dari umat yang lain, maupun kelompok pemuda," ujar Mangku Tadi.

Menurutnya, jumlah ogoh-ogoh tahun ini menjadi yang terbanyak dari tahun-tahun sebelumnya, yang jumlahnya hanya 5 sampai 7 ogoh-ogoh.

Lebih lanjut Mangku Tadi menjelaskan, prosesi pawai ogoh-ogoh memiliki makna khusus dalam rangkaian Hari Raya Nyepi. 

Advertisement

"Ogoh-ogoh menggambarkan sifat angkara murka yang ada pada diri manusia. Kenapa kok dibakar, agar sifat angkara murka itu dimusnahkan atau dikembalikan menjadi sifat yang baik, yang bijaksana. Kemudian besoknya umat Hindu menjalankan brata penyepian," tuturnya.

Kemudian dalam menjalankan brata penyepian, kata Mangku Tadi, terdapat Catur Brata Penyepian atau 4 pantangan bagi umat Hindu. Pertama adalah amati geni atau tidak boleh menyalakan api, baik itu api yang sesungguhnya, maupun api dalam diri.

Kedua adalah amati pakaryan, yaitu umat hindu tidak boleh bekerja. Kemudian yang ketiga amati lelanguan atau tidak boleh menikmati hiburan.

"Terakhir, adalah amati lelungan, atau tidak boleh bepergian. Jadi umat Hindu itu berpuasa di manapun tempatnya, ya di situ saja, tidak boleh keluar. Misalnya di pura ya di pura, di rumah ya di rumah saja," ucap Mangku Tadi.

Pada kesempatan ini, Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, menyebut bahwa pawai ogoh-ogoh dalam rangkaian Hari Raya Nyepi, memberikan pesan mendalam bagi seluruh masyarakat.

"Di momen ini, kita diingatkan kembali, mari kita bakar keangkara murkaan yang ada dalam diri kita, mari kita buang sifat amarah, sifat keangkuhan. Kita harus tawaduk kepada Tuhan yang Maha Esa, bahwa kekuatan kita miliki karena Tuhan. Saya atas nama bupati Lamongan dan masyarakat Lamongan, mengucapkan selamat Hari Raya Nyepi," ucap Bupati yang akrab disapa Pak Yes itu.

Selian itu, kata Pak Yes, partisipasi masyarakat non Hindu dalam pawai ogoh-ogoh juga menggambarkan betapa besarnya toleransi antar umat beragama di desa yang dikenal dengan sebutan Desa Pancasila tersebut.

"Desa Balun ini adalah Desa Pancasila, desa yang penuh dengan keharmonisan sosial, yang perlu dicontoh oleh seluruh masyarakat Indonesia," tuturnya.

"Terus kita pelihara kesalehan sosial, keharmonisan sosial yang ada di sini, karena dengan keharmonisan sosial, dengan kita saling bertoleransi, maka akan menjadi kekuatan besar untuk membangun negara yang kita cintai ini, khususnya kejayaan masyarakat Lamongan," kata Pak Yes menambahkan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan, Siti Rubikah, mengatakan bahwa pawai ogoh-ogoh menjadi sebuah etalase untuk memamerkan potensi yang dimiliki Kabupaten Lamongan, khususnya budaya toleransi antar umat beragama di Desa Balun.

"Sungguh suatu yang membanggakan bagi kami, seluruh masyarakat Lamongan, karena dengan pawai ogoh-ogoh ini masyarakat luar Lamongan secara nasional bahkan internasional dapat mengetahui bahwa Lamongan memiliki potensi yang luar biasa salah satunya budaya toleransi antar umat beragama yang sudah berjalan turun temurun seperti yang kita lihat pada sore hari ini," kata Rubikah.

Dia menambahkan, pawai ogoh-ogoh dalam perayaan Hari Raya Nyepi di Desa Balun memiliki potensi besar untuk menjadi wisata budaya, yang mampu mendatangkan wisatawan ke Lamongan.

"Di tahun yang akan datang pawai ogoh-ogoh di Desa Balun ini dapat terus kita tingkatkan semaraknya, sehingga dapat menjadi jujugan kunjungan wisatawan ke Lamongan. Kami juga berkomitmen untuk terus mengawal agenda ini sebagai kalender event pemerintah Kabupaten Lamongan di setiap tahunnya," ucap Rubikah. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

MFA Rohmatillah
PenulisMFA Rohmatillah Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia