Dilema Produsen Manisan Cermai Banyuwangi, Permintaan Naik dan Pasokan Menurun
Produsen manisan cermai di Kabupaten Banyuwangi menemui masalah serius dalam menghadapi permintaan yang semakin meningkat seiring dengan ...

BANYUWANGI – Produsen manisan cermai di Kabupaten Banyuwangi menemui masalah serius dalam menghadapi permintaan yang semakin meningkat seiring dengan datangnya Idul Fitri.
Meskipun bisnis manisan cermai terus berkembang pesat hingga mengalami kenaikan omset hingga 200 persen, produsen mengalami kesulitan dalam memenuhi permintaan karena menurunnya pasokan bahan baku.
Meskipun di era gempuran zaman dikalangan anak muda saat ini, manisan dari buah-buahan kurang digemari. Namun, manisan memiliki minat tersendiri.
Produsen yang berada di Dusun Krajan, Desa Pesucen, Kecamatan Kalipuro, Yunawiyah (47) mengatakan, penjualan manisan di bulan Ramadan tahun ini meningkat drastis dari hari biasanya.
“Permintaan manisan dibulan Ramadan cukup tinggi naik dua kali lipat dari hari biasa,” katanya, Rabu (19/4/2023).
Perlu diketahui, sebagian besar di dusun tersebut adalah pembuat manisan untuk menambah ekonomi dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini tampak ketika mendekati lebaran, mulai bulan sya’ban banyak warga yang menjemur manisan didepan rumahnya.
Perempuan kelahiran 1976 itu mengaku sudah menjadi produsen manisan sudah puluhan tahun. Ia membuat beraneka macam manisan diantaranya yaitu manisan buah cermai, asem, tomat, pala, blimbing wuluh, nanas dan mangga.
“Paling laris dan disukai manisan cermai, asem, pala dan tomat,” tuturnya.
Namun, Yunawiyah juga menerima pembuatan manisan sesuai permintaan konsumen.
“Kami melayani segala macam manisan. Tergantung dari Request,” paparnya.
Seiring dengan meningkatnya jumlah permintaan konsumen menjelang lebaran, Yunawiyah mengaku kewalahan. Pasalnya, bahan baku manisan sudah mulai langka.
“Sekarang bahan manisannya sudah menipis dan sulit. Ini aja tinggal satu macam yaitu pala,” ungkapnya.
Proses pembuatan manisan terbilang mudah. Mulai dari proses awal hingga manisan siap dikonsumsi tahapan demi tahapan juga hampir sama.
Salah satunya seperti pembuatan manisan cermai. Pertama, buah cermai dicuci bersih. Kemudian direbus dan direndam selama 2 malam. Setelah itu, buah manisan dijemur kurang lebih selama satu minggu.
“Kalau cuacanya mendukung, satu minggu saja cukup. Tapi kalau mendung ya bisa sampai 2 minggu. Kadang lebih,” cetusnya.
Dalam pendistribusian manisan milik Yunawiyah dibantu oleh sang buah hatinya yang bernama, Lutfiyatul Fitria (25) yang bertugas memasarkan manisan buatan ibunya ke konsumen.
Mengenai harga, Lutfi sapaan akrabnya menuturkan, harga manisannya mulai dari Rp30.000 sampai Rp50.000. Namun, di bulan ramadhan biasanya sedikit ada kenaikan harga ketika sampai di distributor.
“Tergantung manisannya apa yang mau dipesan,” kata perempuan kelahiran 1998 itu.
Lutfi menambahkan, pesanan manisan miliknya tidak hanya di wilayah Bumi Blambangan saja. Melainkan terdapat pelanggan yang mengambil untuk dikirim ke luar kota.
“Surabaya salah satu kota yang permintaannya sangat tinggi di bulan ramadhan ini,” imbuhnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


