Advertisement
Peristiwa Daerah

Kisah Kiai Hasan Sepuh Genggong, Selamatkan Masyarakat Sipil dari Jeratan Penjajah

Pondok Pesantren atau Ponpes Zainul Hasan Genggong, Kabupaten Probolinggo, akan menggelar haul Almarhum Al Arif Billah KH. Moh. Hasan Genggong ...

TIMES Indonesia,
Kisah Kiai Hasan Sepuh Genggong, Selamatkan Masyarakat Sipil dari Jeratan Penjajah
KH. Moh. Hasan Sepuh Genggong, Kholifah Kedua Pesantren Zainul Hasan. (Foto: Pzh Genggong)
A-AA+

PROBOLINGGO Pondok Pesantren atau Ponpes Zainul Hasan Genggong, Kabupaten Probolinggo, akan menggelar haul Almarhum Al Arif Billah KH. Moh. Hasan Genggong, pada Selasa (2/5/2023). Acara itu akan dilaksanakan di halaman pondok pesantren setempat dan dibuka untuk umum.

Ulama yang dikenal dengan panggilan Kiai Hasan Sepuh Genggong ini lahir di Desa Sentong Kecamatan Krejengan, pada 27 Rojab 1259 H, atau bertepatan pada tahun 1840 M.

Advertisement

Kholifah kedua Pesantren Zainul Hasan Genggong itu wafat pada usia 115 tahun di Genggong pada 11 Syawal 1374 H atau bertepatan pada 1 Juni 1955 M.

Selama masa hidup Kiai Hasan, banyak kisah perjuangan yang dilakukannya demi membela agama, bangsa dan negara. Kegigihannya dalam membela tanah air selalu dilakukan sepanjang hidupnya.

Terbukti pada masa kolonial Belanda, putra dari KH. Syamsuddin dan Nyai Khadijah ini selalu bersikap non cooperation pada pihak pemerintah Hindia-Belanda. Namun upayanya untuk mengusir penjajah dari tanah air tak pernah surut meski usia telah dimakan waktu.

Dalam sebuah kisah disebutkan, Kiai Hasan Genggong pernah menyelamatkan sejumlah tawanan pribumi yang dibawa oleh penjajah Belanda ke Suriname. Salah satu dari rombongan itu ialah almarhum Sugiowo, warga Kecamatan Maron.

Suatu ketika Sugiowo dijemput oleh sejumlah tentara Belanda dari rumahnya. Tak hanya dia seorang diri, sejumlah lelaki di sekitar rumahnya pun diseret secara paksa dari pelukan keluarganya.

Advertisement

Tangis air mata duka telah membanjiri keluarga Sugiowo. Mungkin itu menjadi pertemuan terikhirnya bersama kedua orang tuanya. Karena ia akan dibawa ke Suriname untuk kerja rodi di tanah sebrang itu.

Waktunya tiba, Sugiowo terpaksa harus pergi bersama para tawanan lain. Sepanjang perjalanan, ia tak hentinya menangis lantaran tak bisa lagi bertemu dengan keluarganya.

Namun di tengah perjalanan, suatu keanehan terjadi. Setibanya kendaraan yang mengangkut tentara Belanda dan tawanan itu di sekitar Desa Klaseman Kecamatan Gending, kendaraan penjajah itu berhenti seketika.

Seorang tentara di rombongan itu tak sengaja menengadah ke langit dan melihat cahaya besar bergerak cepat mengikuti grativikasi bumi.  Tentang yang melihat menggunakan teropong itu, spontan mearikan diri dan meninggalkan teman-temannya.

Tentara lainnya keheranan. Lantas coba melihatnya langsung dengan teropong itu. Ternyata cahaya itu semakin dekat dan membesar. Para tentara pun berhamburan melarikan diri. Mereka meninggalkan tawanan dan kendaraanya.

Tak lama kemudian, cahaya besar yang berkilau dari atas langit itu pun datang dan menghampiri para tawanan. Ternyata, siapa sangka, cahaya berkilau yang terbang di langit itu rupanya Kiai Hasan Genggong yang sedang menaiki delman.

Singkat cerita, Sugiowo pun kembali pulang ke rumahnya dan menceritakan kejadian itu pada keluarganya, termasuk sang buah hati, Harianto. Lantas sang putra pun terus menceritakan kisah itu hingga sampai pada abad saat ini dan diketahui oleh keluarga besar Ponpes Zainul Hasan Genggong di masa kholifah keempat, KH. Moh Hasan Mutawakkil Alallah. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Abdul Jalil
PenulisAbdul JalilJurnalis Muda wilayah Probolinggo yang telah bergabung bersama TIMES Indonesia sejak tahun 2020. Fokus peliputan pada Pemerintahan, Politik, Sosial dan Budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia