Keren! Carang Mas Buatan “Wong Deso” di Probolinggo Ini Rambah Pasar Digital
FDia adalah Soleha wanita berusia 57 tahun, warga Desa Binor Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Pedagang Carang Mas ini sudah ...

PROBOLINGGO – Dia adalah Soleha wanita berusia 57 tahun, warga Desa Binor Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Pedagang Carang Mas ini sudah memulai usahanya sejak 2016 setahun setelah suaminya meninggal dunia. Menjadi orang tua tunggal dengan 3 anak, membuatnya harus berjuang memperbaiki kondisi ekonominya, dengan cara berusaha sendiri, menjual carang mas.
Keahlian membuat carang mas didapatkan Soleha dari almarhum kedua orangtuanya. Membuat carang mas sebenarnya sederhana, namun butuh ketelatenan. Terbuat dari bahan dasar ubi jalar yang dipotong kecil. Bahan tambahan lain adalah minyak goreng panas yang dicampur gula pasir hingga menyatu. Setelah itu barulah ubi jalar yang sudah dipotong tadi dimasukkan ke dalam minyak panas yang ada di dalam wajan, dan diaduk hingga 20 menit. Sesimpel itu dan carang mas pun jadi.
Meski pembuatannya cukup sederhana, namun dalam prosesnya Soleha cukup banyak mendapat hambatan, salah satunya modal awal usahanya. Keterbatasan modal itu membuat ibu dengan tiga anak tersebut dituntut harus kreatif.
Untuk memotong ubi jalar itu, Soleha menggunakan alat pasat tradisional yang dia modifikasi sendiri. Sebab dirinya tak punya modal besar untuk membeli mesin potong modern. Terlebih lagi, usaha perdana miliknya belum pasar penjualan produk.
Alat tradisional itu membuat Soleha tidak bisa produksi carang mas dengan jumlah besar. Sebab, tahap pemotongannya masih sangat manual dan membutuhkan tenaga ekstra. Sedangkan usianya sudah cukup senja untuk melakukan tindakan yang menguras tenaga.

Lantaran keterbatas itulah, wanita berusia 57 tahun ini hanya mampu membuat 1 kilogram carang mas. Jajanan dengan bahan baku ubi jalar itu dikemas dalam plastik ukuran 9 cm persegi, dan menghasilkan beberapa buah pack carang mas.
Lantas Soleha menjual jajanan itu dari toko ke toko dengan harga Rp 10 ribu setiap 12 pcs. Metode door to door yang digunakannya, hanya mampu terjual sekitar 30 pcs hingga 50 pcs setiap harinya.
Begitu lah aktifitas setiap hari Soleha dalam mengembangkan usahanya sejak tahun 2016. Lantaran keterbatasan modal dan pengetahuan, Soleha sulit melakukan pemasaran di luar desanya. Aktifitas jual beli banyak dilakukan di toko-toko dalam desanya.
Bergulirnya waktu, tepatnya pada tahun 2022, Pemerintah Desa Binor mengikuti program Desa BRILian yang dirilis oleh BRI. Dalam program itu banyak sektor usaha yang menjadi persyaratan khusus, salah satunya barupa adanya usaha masyarakat berupa UMKM.
Kebetulan, usaha IKM Carang Mas milik Soleha turut dilibatkan oleh pihak desa dalam program lomba tingkat nasional tersebut. Alhasil, Desa Binor masuk dalam kategori Juara Harapan I dalam program Desa BRILian tahun 2022 tersebut.
Selama program itu, seluruh UKM di desa tersebut, termasuk IKM Carang Mas mendapat mentoring dan pendampingan oleh tim dari BRI. Pendampingan itu pertama kali melalui zoom meeting. Pelatihan online yang dilakukan selama beberapa bulan itu, membahas tentang metode digital marketing.
Sedangkan bimbingan offline dilakukan oleh BRI dengan menurunkan beberapa tim. Mentor yang dikirim untuk memberikan pelatihan dan solusi terhadap hambatan yang diterima oleh para pelaku usaha dalam memasarkan produknya. Bahkan mereka juga membantu memperbaiki dan menyediakan kemasan produk UMKM yang kurang baik.
"Saya ini sudah tua. Nggak mudah untuk paham penjelasan modern dari mentor itu. Tapi saya banyak tanya karena saya ingin tau dan belajar," ucap Soleha dengan berbahasa Madura, saat ditemui di kediamannya, Sabtu (6/5/2023).
Kebetulan dalam program itu, usaha milik Soleha mendapat bantuan dari BRI berupa design branding dan ratusan pcs kemasan dengan design modern. Soleha juga mendapatkan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 50 juta dari BRI.
Pinjaman itu lantas dia manfaatkan untuk membeli ponsel android dan kebutuhan alat usahanya. Ponsel android itu ia gunakan untuk membantu mempermudah promosi bisnisnya melalui media sosial whatsapp. Sebagaimana dalam ilmu yang diterimanya selama pelatihan di zoom meeting.
"Jadi sekarang orang-orang kalau mau pesan tinggal chat di WA. Saya kirim fotonya. Saya juga rajin pasang stori produk saya di WA. Dari situ banyak orang baru yang chat saya," kata Soleha dengan logat Maduranya yang masih kental.
Untuk alat usahanya, Soleha membeli mesin potong otomatis. Mesin itu bisa memotong ubi jalar lebih cepat dengan ukuran potong yang dapat diatur sesuai keinginannya. Dengan mesin itu produksi bisa lebih cepat dan tak banyak menghabiskan tenaga.
Melalui digital marketing itu, Soleha kini mampu menjual produknya hingga ke desa-desa sebelah, bahkan kecamatan sekitar. Begitu sebaliknya, pelanggannya pun tak harus repot-repot datang ke rumahnya untuk memesan. Cukup via chat whatsapp dan pesanan diantar.
Saat ini harganya berkisar Rp 10 ribu setiap 12 pcs. Produksi harian yang cukup tinggi membuat Soleha mampu merekrut tenaga kerja dari tetangga rumahnya. Penghasilan dari penjual produknya saat ini juga sudah mampu membayar tenaga kerja, hingga membayar angsuran.
"Alhamdulillah meski tidak banyak. Tapi sudah bisa nabung sedikit-sedikit setiap bulan. Bisa bayar angsuran KUR juga," ungkap Soleha sambil menengadahkan kedua telapak tangannya tanda bersukur.
Lantaran produksinya yang mulai tinggi, wanita yang tinggal di desa paling timur Kabupaten Probolinggo itu, merasa membutuhkan alat potong tambahan. Ia berharap bisa mendapatkan bantuan alat tersebut untuk mempermudah produksi jajanan tradisional carang mas miliknya.
Rumah Soleha ini berada sekitar 1 kilometer dari jalur pantura, atau sekitar 2 kilometer dari Wisata Pantai Bohay. Jalannya pun cukup baik berupa aspal dan sebagian rabat beton. Hanya saja, jalur yang ditempuh harus melewati area perkebunan sepanjang setengah kilometer.
Sebelum tiba di lokasi kediaman Soleha itu TIMES Indonesia lebih dulu melakukan koordinasi dengan Kepala Desa Binor, Hostifawati untuk mencari informasi perihal UMKM di desa tersebut. Barulah keesokannya beranjak ke Desa Binor untuk menemui kades. Sempat diskusi sejenak bersama kades tentang Desa BRILian 2022. Kemudian bergeser ke lokasi kediaman Soleha, pemilik carang mas dengan diantar oleh Kades Hostifawati. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


