Advertisement
Peristiwa Daerah

Dampak El Nino dan Kemarau Panjang, Harga Bahan Pokok di Pacitan Ikut Melejit

Harga beras di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur mengalami perubahan signifikan dan terus melejit akibat dampak El Nino dan musim kemarau yang melanda selama dua bulan belaka ...

TIMES Indonesia,
Dampak El Nino dan Kemarau Panjang, Harga Bahan Pokok di Pacitan Ikut Melejit
Pedagang beras di Kabupaten Pacitan mengeluhkan kenaikan harga sejak kemarau panjang dan dampak El Nino selama beberapa pekan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
A-AA+

PACITAN Harga beras di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur mengalami perubahan signifikan dan terus melejit akibat dampak El Nino dan musim kemarau panjang yang melanda selama dua bulan belakangan.

Harga komoditas pangan terutama beras, telah terpengaruh oleh kondisi cuaca yang tidak menguntungkan ini. Kenaikan harga beras jenis premium telah terjadi selama tiga minggu terakhir, dengan peningkatan sekitar Rp1000 per kilogramnya.

Advertisement

Pedagang di Pasar Minulyo, Parmini (64) membenarkan bahwa kenaikan harga beras telah terjadi secara bervariasi terutama pada jenis premium dan medium.

Harga beras jenis premium satu sak berukuran 25 kilogram berkisar antara Rp280 ribu hingga Rp340 ribu. Bahkan beras kemasan 5 kilogram juga mengalami kenaikan harga antara Rp70 ribu hingga Rp72 ribu.

"Naiknya sejak tiga minggu terakhir sekitar seribu rupiah per kilogramnya," katanya, Kamis (24/8/2023).

Parmini menduga, kondisi ini juga disebabkan oleh musim tanam yang sedang berlangsung. Di mana para petani sedang menanam beras, sehingga stok beras medium yang harganya lebih terjangkau bagi masyarakat sedikit berkurang di pasaran.

"Stok beras medium saat ini cukup terbatas, karena petani masih dalam proses menanam dan belum mencapai masa panen. Akibatnya, harga beras premium juga bervariasi tergantung jenisnya, dengan kisaran harga antara Rp11.500 hingga Rp14 ribu per kilogram," ungkapnya.

Advertisement

Senada dikatakan pedagang beras di Pasar Arjowinangun, Sri Hartini (58), jika selama sepekan semua jenis beras mengalami penurunan harga Rp600-Rp1 ribu per kilogram.

Sedangkan, stok beras selama ini ia peroleh dari supplier luar, seperti Apel Merah dan C4 per kilogram masih dipatok dengan harga Rp14 ribu.

"Beras itu didatangkan dari Surakarta, Jateng. Naik-turunnya harga ternyata justru bikin bingung pedagang seperti kami," ujarnya.

Pun kenaikan harga beras juga berdampak pada penjualan. Penurunan jumlah penjualan dapat dilihat sebagai dampak dari kenaikan harga yang signifikan. Meskipun belum dapat dipastikan secara pasti, ada kemungkinan bahwa kenaikan harga merupakan salah satu faktor penyebab penurunan ini.

Oleh sebab itu, tren kenaikan harga beras diyakini masih akan berlanjut, terutama mengingat puncak El Nino diperkirakan akan berlangsung hingga September 2023.

Seperti diketahui, dampak El Nino selain dapat memengaruhi cuaca ternyata juga berpengaruh terhadap produksi pertanian secara keseluruhan. Terlebih adanya kemarau panjang membuat ketersediaan air untuk produktivitas pertanian menyusut drastis.

BPBD Pacitan sendiri mengemukakan, puncak musim kemarau diprediksikan terjadi pada September 2023 mendatang. Hal itu sesuai prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Jawa Timur (BMKG Jatim), bahwa musim kemarau 2023 lebih kering jika dibandingkan dengan tiga tahun terakhir.

Terlebih, ada potensi El Nino atau fenomena pemanasan suhu muka laut hingga 60 persen. Saat ini intensitas La Nina terus melemah. Hal itu terlihat dari indeks El-Nino Southern Oscillation (ENSO) sejak 10 hari pertama Januari 2023 lalu.

El Nino dan La Nina merupakan dinamika atmosfer dan laut yang memengaruhi cuaca di sekitar laut Pasifik. Ketika El Nino berlangsung, musim kemarau menjadi sangat kering serta permulaan musim hujan yang terlambat. Sedangkan ketika La Nina, musim penghujan akan tiba lebih awal dari biasanya.

"Fenomena ini terjadi hampir setiap tahun. Masyarakat harus lebih waspada," tutur Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan Radite Suryo Anggoro.

Tidak hanya beras yang mengalami kenaikan harga, namun juga sejumlah komoditas lainnya. Pantauan TIMES Indonesia di berbagai pasar tradisional, terjadi kenaikan harga pada sayur mayur, cabe, bumbu dapur, tomat, dan kentang.

Namun demikian, beberapa komoditas seperti minyak curah, minyak goreng, daging ayam kampung, dan telur ayam justru mengalami penurunan harga. Sebagai contoh, harga bawang merah per kilonya mencapai Rp20 ribu rupiah, sedangkan harga daging ayam ras tetap stabil di kisaran Rp40 ribu rupiah per kilogramnya.

Tak hanya itu, dalam perkembangan terkini, harga cabe rawit mengalami penurunan harga dari Rp39 ribu menjadi Rp37 ribu per kilogram.

Sementara, menurut data yang dikeluarkan oleh Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja Kabupaten Pacitan, harga cabe merah besar naik menjadi Rp33.500 dan cabe merah keriting menjadi Rp27.500. Harga telur ayam juga mengalami penurunan dari Rp29.500 menjadi Rp28.500 per kilogram.

Dengan kondisi pasar yang dinamis dan pengaruh faktor alam seperti El Nino dan kemarau panjang, masyarakat Kabupaten Pacitan dihadapkan pada fluktuasi harga komoditas pangan yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan keuangan sehari-hari. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Yusuf Arifai
PenulisYusuf ArifaiMagister Ilmu Hukum (MH) Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Wartawan Madya Nomor 21969-Unitomo/Wdya/DP/X/2024/21/10/93, Editor Bahasa Arab dan Penulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2021.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia