Sekitar 249 Hektare Hutan Rawan Terbakar, Begini Penjelasan Balai TN Matalawa Sumba
Berdasarkan data jumlah kejadian gangguan, ancaman dan pelanggaran, ada 249,19 hektar hutan yang rawan terbakar di kawasan Balai Taman Nasional (TN) Matalawa (Balai TN Ma ...

SUMBA TIMUR – Berdasarkan data jumlah kejadian gangguan, ancaman dan pelanggaran, ada 249,19 hektar hutan yang rawan terbakar di kawasan Balai Taman Nasional (TN) Matalawa (Balai TN Matalawa) Pulau Sumba.
“Jadi kerawanan hutan yang terbakar di kawasan Balai TN Matalawa Pulau Sumba seluas 249 Hektare itu ada di dua kawasan yaitu di Taman nasional Manupeu dan di Taman nasional Laiwanggi Wanggameti,” jelas Kepala Balai TN Matalawa Agung Widodo Selasa (12/9/2023).
Menurutnya, kejadian ini sejak bulan Mei, Juli, Agustus dan September 2023, blok hutan Balai TN Matalawa yang berpotensi terbakar ada di kawasan Desa Kangeli, Laipalu, Padang Gau, Tanadaru, Konda Maloba, Nggongi, Taman Mas, Laikobang, Mahaniwa, Katikutana, Mamohung, Langgaliru dan Padang Praikaningu.
Agung menjelaskan, kawasan hutan Balai TN Matalawa yang terbakar itu berada di posisi savana yang sering terjadi kebakaran akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab dengan alasan pembakaran lahan untuk membuka lahan pertanian baru. Namun ada juga karena puntung rokok yang dibuang sembarangan atau memang iseng membakar.
“Dari kejadian-kejadian ini, ketika kami temui di dalam kawasan ada kebakaran kita langsung bergerak mengantisipasi kebakaran tersebut bersama petugas dan juga warga setempat,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menyebut terkait dengan kebakaran hutan ini, pihaknya terus memantau melalui hotspot dan juga mendirikan 8 posko di kawasan hutan. Serta spanduk-spanduk yang berisi imbauan agar masyarakat tidak membakar hutan dan lahan.
Agung juga mengungkapkan, pihaknya rutin mengecek titik hotspot selama 1x24 jam. Jika ada hotspot langsung dikirim ke petugas yang ada di masing-masing posko untuk melakukan pengecekan langsung di lapangan. Namun, biasanya tidak semua hotspot merupakan kebakaran hutan atau lahan.
“Ini misalkan dari beberapa hotspot yang ditemukan ada kebakaran tapi hanya beberapa titik yang benar-benar ada kebakaran. Selain itu mungkin dilakukan oleh oknum yang melakukan pencurian ternak karena kebakaran itu untuk menghalangi pemilik ternak dalam pengejaran untuk menghilangkan jejak,” paparnya.
Agung menambahkan, pihaknya masih melakukan pendataan di beberapa kawasan hutan dan lahan yang terdampak kebakaran akibat kemarau panjang karena di kawasan Balai TN Matalawa juga banyak ditumbuhi alang-alang sehingga mudah terbakar saat pada musin kemarau.
“Dengan kejadian ini kami terus melakukan pantauan di semua lokasi jika diketahui ada potensi kebakaran langsung dilakukan upaya antisipasi pemadaman,” terang Agung. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


