Pemkab Sumba Timur Redam Stunting hingga 11,8 Persen melalui Hasil Survei Gizi
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumba Timur berhasil mengurangi tingkat stunting hingga mencapai 11,8 persen melalui diseminasi hasil surveilans gizi menggunakan aplikasi p ...

SUMBA TIMUR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumba Timur berhasil mengurangi tingkat stunting hingga mencapai 11,8 persen melalui diseminasi hasil surveilans gizi menggunakan aplikasi pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat, yang dikenal sebagai e-PPGBM.
”Dari hasil surveilans gizi. Kita dapat mampu menurunkan stunting hingga 11,8 persen di Kabupaten Sumba Timur,” ungkap Bupati Kabupaten Sumba Timur Khristofel Praing saat membuka acara Diseminasi Timbangan Bulan Agustus 2023 di Aula Rapat Setda Sumba Timur, Selasa (3/10/2023).
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil pencatatan pada aplikasi e-PPGBM penimbangan bulan Agustus 2023 menunjukkan bahwa penimbangan atas 22.674 Balita yang merupakan sasaran penimbangan bulan Agustus 2023 mencapai 100 persen. Dari penimbangan itu jumlah balita stunting sebanyak 2.677 anak (11,8 persen) yang tersebar di 22 Kecamatan.
Khrsitofel merincikan, prevelansi stunting tertinggi pertama di Kecamatan Lewa Tidahu dengan tingkat prevelansi 29,2 persen (194 anak). Tertinggi kedua di Kecamatan Paberiwai dengan tingkat prevelansi 28,5 persen (190 anak) dan tertinggi ketiga di Kecamatan Karera dengan tingkat prevelansi 26,3 persen (212 anak).
Sementara untuk 3 kecamatan dengan prevelansi stunting terendah yakni Kecamatan Kambera 3,5 persen, Kecamatan Umalulu 4 persen, dan Kecamatan Kecamatan Kambata Mapabuhang 4,4 persen.
Kondisi ini menurut Khristofel, menunjukkan bahwa kerja kolaborasi kita sejak bulan September2022 hingga Juli 2023 telah mampu menurunkan prevelansi stunting dari 13,3 persen (3.055anak) menjadi 11,8 persen (2.677 anak) atau mengalami penurunan 11,8 persen (37anak).
“Tentu hal ini kita juga masih memiliki tantangan karena masih terdapat 838 balita gizi kurang yang tersebar di 22 kecamatan. Perlu kita ketahui bahwa atas dukungan dan kerja sama serta doa, kita mampu menurunkan angka stunting pada posisi 11,8 persen,” paparnya.
Khristofel menyampaikan, patut kita bersyukur karena tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Sumba Timur untuk melakukan penurunan prevelansi stunting sesuai target nasional tahun 2024 sudah dicapai. Namun, target sesuai kesepakatan Gubernur NTT dengan para Bupati sebesar 10 persen pada penimbangan Agustus 2023 belum tercapai.
Selain itu, tambah Khristofel, pihaknya masih menghadapi banyak permasalahan yang masih cukup kompleks dan perlu penanganan yang serius antara lain kemiskinan ekstrim, kematian ibu yang sudah mencapai 3 kasus serta kematian bayi yang sudah sangat tinggi yaitu sudah terjadi 60 kasus berdasarkan Kandata per 01 Oktober 2023.
“Kita harus berkomitmen agar kejadian kematian ibu sebanyak 12 kasus dan angka kematian bayi sebanyak 88 kasus tahun 2022 tidak akan terjadi dan harus diupayakan semaksimal mungkin penanganannya,”harapnya.
Khristofel menegaskan, mulai Oktober 2023 kegiatan penimbangan dan pengukurn balita wajib dilakukan pada e-PPGBM sehingga dapat dipantau tumbuh kembang anak jik anak tidak bertambah berat badannya selama 2 bulan berturut-turut maka segera dilakukan pemeriksaan atau dirujuk untuk memastikan kesehatan anak itu.
“Untuk itu saya minta dukungan semua lintas sektor untuk bekerja sama dalam pergerakan sasaran setiap bulannya,” pungkas orang nomor satu di jajaran Pemkab Sumba Timur. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


