Brawijaya Agro Ventura FP UB, BRIDA Jatim dan Bappeda Bangun Gerakan Desa Entaskan Kemiskinan dan Stunting

TIMESINDONESIA, MALANG – Brawijaya Agro Ventura Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) Malang, bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jawa Timur dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Malang, menyiapkan modelling Gerakan bersama masyarakat desa mengentaskan kemiskinan ekstrem dan stunting di Kabupaten Malang.
Acara bertajuk "Sinergi Antar-Sektor untuk Penanganan Kemiskinan Ekstrem dan Stunting," menghadirkan beberapa pembicara termasuk Prof. Mangku Purnomo, PhD., perwakilan dari BRIDA Jawa Timur Eka Prabawati, dan Kepala Bappeda Kabupaten Malang dan Ir. Tomie Herawanto M.P.
Advertisement
Selain itu juga ada Sugiarto selaku Kepala Desa Bambang, anggota tim Brawijaya Agro Ventura UB, dan para RT/RW setempat. Acara ini dilangsungkan pada Rabu (1/11/2023) di Lumbung Ekonomi Rakyat Brawijaya Agro Ventura Dusun Pandanrejo, Desa Bambang, Kec. Wajak.
Prof. Mangku Purnomo PhD., selaku Dekan FP UB menjelaskan, bahwa tim Brawijaya Agro Ventura sedang merangkum bagaimana pendekatan pembangunan pertanian ini dapat mencakup multi-tema, multi-sektor, multi-layer, dan multi-aktor.
“Selama ini fokusnya kan ke produksi, kami saat ini ingin mencoba untuk memasukkan pembangunan pertanian juga menjadi bagian integral dari pemerintahan,” ujarnya.
Total ada beberapa program unggulan yang sudah diimplementasikan oleh tim Brawijaya Agro Ventura di Dusun Pandanrejo, yaitu :
1. Korporatisasi pertanian melalui pembentukan kawasan industri, pertanian, dan komoditi.
2. Lembaga pembiayaan petani gurem.
3. Pengembangan sektor perdagangan melalui program “Rukun Pangan” sebagai tata kelola bisnis jual beli produk pertanian.
4. Program unggulan di bidang peternakan : Gadai Sapi dan Kambing.
5. Pengembangan sektor pariwisata melalui program “Rukun Wisata”.
Prof. Mangku juga menambahkan, Brawijaya Agro Ventura Tengah menyiapkan suatu gerakan yang baru, yaitu asuransi atau jaminan sosial pensiun petani.
Tidak hanya pemaparan mengenai program, Prof. Mangku juga mengajak tim BRIDA dan Bappeda secara langsung melihat kondisi program-program yang sudah berjalan seperti Rukun Pangan, Gadai Sapi, dan lahan bibit durian.
Selain itu, tim Brawijaya Agro Ventura FP UB juga mengumpulkan 10 kepala keluarga di Dusun Pandanrejo yang dikategorikan sebgai keluarga miskin ekstrem. Nantinya 10 kepala keluarga tersebut akan melakukan simulasi dari program program yang disiapkan oleh tim, yaitu :
1. Diversifikasi sumber protein dan zat besi melalui pembuatan pagar hijau.
2. Peningkatan sumber protein hewani.
3. Diversifikasi sumber protein hewani melalui budidaya ikan air tawar.
4. Penataan perkarangan sebagai sumber pangan sehat di pedesaan.
5. Pengembangan model dapur tradisional yang tertata dan bersih untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Output yang akan dihasilkan tim Brawijaya Agro Ventura adalah buku pedoman sebagai cara mengentaskan kemiskinan ekstrim untuk warga yang masuk kedalam keluarga miskin ekstrim. Nantinya buku pedoman ini dapat dijadikan contoh untuk daerah lain.
“Semoga buku pedoman ini bisa tersebar ke daerah Jawa Timur atau mungkin sampai Nasional dan dapat langsung diterapkan,” ucap Bintar.
Selain melihat kondisi program-program tersebut, juga ada sesi pemaparan data oleh tim BRIDA Jatim dan Bappeda Kabupaten Malang.
Eka Prabawati, Kepala Bidang Ekonomi dan Pembangunan BRIDA Jatim menjelaskan, bahwa kemiskinan ekstrem adalah keadaan dimana satu individu atau keluarga hidup dengan penghasilan kurang dari $1.90 (Rp30.000) per hari dan kurangnya akses terhadap kebutuhan dan layanan dasar (makanan, air bersih, perumahan layak, pendidikan, dan kesehatan).
Adapun stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis hingga anak terlalu pendek untuk usianya. Harapannya dengan adanya gerakan dari BAV FP UB akan menurunkan presentase kemiskinan ekstrem dan stunting di Jawa Timur.
“Angka prevalensi stunting di Jawa Timur pada tahun 2021 menurut SSGI sekitar 23,5% dan berkurang menjadi 19,2% pada tahun2022,” ujarnya.
Menanggapi dari hasil yang telah disampaikan oleh BRIDA, Herman, perwakilan dari tim Bappeda Kabupaten Malang juga menjelaskan, bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah kemiskinan di Kabupaten Malang adalah 9,55% atau sekitar 252.000 jiwa dan menjadi peringkat 18 dalam presentase kemiskinan di Provinsi Jawa Timur.
“Untuk presentase kita masih peringkat tengah, tetapi dalam hal jumlah kita tertinggi se Jawa Timur,” ujarnya.
Untuk mengatasi kemiskinan ekstrem tersebut, Bappeda Kabupaten Malang merancang 3 strategi, yaitu:
1. Strategi Pengurangan Beban, seperti pemberian dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) atau pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada pihak yang membutuhkan.
2. Strategi Peningkatan Pendapatan, seperti pemberian pelatihan kerja dan produktivitas tenaga kerja.
3. Strategi Pengurangan Kantong Kemiskinan, seperti melaksanakan kegiatan peningkatan kualitas rumah tidak layak huni menjadi layak huni.
Korelasi stunting dan kemiskinan ekstrem merupakan 2 hal yang berkaitan erat dan menjadi program prioritas nasional, daerah, dan bahkan tingkat desa. Penyebab stunting tidak hanya kemiskinan saja, melainkan ada beberapa faktor lain, seperti faktor ekonomi, lingkungan, dan pengetahuan.
Stunting dapat dicegah dengan, misalnya pemberian kapsul penambah darah pada pasangan remaja, pemberian bantuan kepada masyarakat kurang mampu, dan pemberian edukasi kepada pasangan sebelum menikah.
“Dengan dilaksanakannya sosialisasi ini kita sudah ikut serta secara aktif untuk upaya pencegahan stunting di Dusun Pandanrejo,” tambahnya.
Selain itu, kemajuan dari program-program ini juga tidak luput dari dukungan-dukungan pihak perguruan tinggi, pemerintahan, NCO, dan juga pihak swasta. Sugiarto selaku Kepala Desa Bambang mengaku dirinya sangat terbantu dengan terlaksananya program-program ini.
Sementara itu, Sugiarto, Kepala Desa Bambang, mengharapkan program-program ini dapat terus diimplementasikan dan membantu mengentaskan kemiskinan ekstrem di Dusun Pandanrejo.
“Saya berharap dengan program-program ini akan dapat diimplementasikan secara maksimal terus menerus di masa depan dan mengentaskan kemiskinan ekstrem di Dusun Pandanrejo,” jelasnya.
Ir. Tomie Hermawanto M.P., Kepala Bappeda Kabupaten Malang, berjanji untuk mendukung program-program Brawijaya Agro Ventura FP UB ke depannya. Semangat sinergi antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat diharapkan akan menjadi kunci keberhasilan dalam memerangi kemiskinan ekstrem dan stunting di wilayah tersebut.
“Saya dan Bappeda Kabupaten Malang akan siap mendukung secara penuh untuk terlaksananya program-program Brawijaya Agro Ventura kedepannya,” tambahnya. (*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Wahyu Nurdiyanto |
Publisher | : Lucky Setyo Hendrawan |