Peristiwa Daerah

Deretan Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Lahir di Mojokerto

Jumat, 10 November 2023 - 19:56 | 221.24k
KH Achyat Chalimi. (FOTO: Dok. NU Online)
KH Achyat Chalimi. (FOTO: Dok. NU Online)
Kecil Besar

TIMESINDONESIA, MOJOKERTO – 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Deretan tokoh, pejuang, ulama, dan jurnalis telah banyak memperoleh gelar nasional dari Pemerintah Republik Indonesia.

Di Mojokerto tidak ketinggalan, terdapat deretan-deretan tokoh pejuang dan juga tokoh pahlawan nasional atas jasa besarnya untuk mencapai Indonesia merdeka.

Advertisement

Informasi yang berhasil dihimpun TIMES Indonesia, terdapat 3 tokoh pejuang sekaligus ulama yaang lahir di Mojokerto, Bumi Majapahit. Berikut ini tokoh tokohnya.

KH Achyat Chalimi

KH. Achyat Chalimi juga dikenal sebagai Abah Yat, adalah seorang ulama karismatik yang lahir pada tahun 1918 di Mojokerto. Beliau adalah putra dari pasangan suami istri H. Abd. Halim dan Hj. Marfu’ah binti Ali. Ayahnya meninggal dunia ketika usia kandungan ibunya baru memasuki bulan ketiga, dan beliau kemudian diasuh oleh ibunya bersama Pakdenya yang bernama H. Thohir. Ibunya wafat pada tahun 1938, ketika KH. Achyat Chalimi berusia 17 tahun.

KH. Achyat Chalimi dikenal sebagai pendiri Laskar Hizbullah di Kota Mojokerto dan Pesantren Sabilul Muttaqien Mojokerto. Beliau berjasa besar dalam perjuangan melawan tentara sekutu yang akan kembali menjajah untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pada tahun 1940, KH. Achyat Chalimi menikahi Badriyah, putri dari KH. Moh Hisyam, pengasuh Pondok Pesantren dari desa Gayam, Kecamatan Mojowarno. Selama belajar di Tebuireng, KH. Achyat kecil dikenal sebagai santri yang disiplin.

KH. Achyat Chalimi wafat pada tahun 1991. Beliau meninggalkan Pesantren, Sekolah, Yayasan Yatim Piatu, Rumah Sakit, dan lain-lain. Dan yang tidak kalah penting, meninggalkan santri-santri yang kelak menjadi tokoh yang berpengaruh di tengah masyarakat khususnya Mojokerto dan sekitarnya.

KH Nawawi

Pejuang-Kemerdekaan-2.jpgKH Nawawi (FOTO: Dok. Dutaislam)

KH Mochammad Nawawi, juga dikenal sebagai KH Muhammad Nawawi atau Mbah Nawawi Jagalan, adalah seorang ulama dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang lahir pada tahun 1886 di Dusun Lespadangan, Desa Terusan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Ayahnya, Munadi, adalah seorang tukang kayu dan ibunya bernama Siti Khalimah.

KH Nawawi menimba ilmu di pesantren yang diasuh oleh Kiai Ilyas alias Kiai Sholeh di Penarip gang 2, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto sejak usianya baru 7 tahun. Di pesantren ini, beliau mempelajari Al-Qur’an dan kitab-kitab klasik, mendapatkan doktrin melawan penjajah, dan bekal ilmu bela diri aliran Cirebonan, Jabar dari Kiai Ilyas. Setelah dirasa cukup dan usianya sudah belasan tahun, KH Nawawi melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng, Desa Cukir, Diwek, Jombang.

KH Nawawi dikenal sebagai pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Mangun Rejo, Jagalan, Kota Mojokerto. Beliau juga merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Mojokerto. KH Nawawi juga dikenal sebagai pejuang pemberani yang selalu di garis depan pertempuran. Ia rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

KH Nawawi gugur sebagai seorang syuhada yang membela agama dan negara pada 22 Agustus 1946. Sebelum mengembuskan napas terakhir, dia sedang mengikuti pertempuran di Desa Plumbungan, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo.

Setelah gugur dalam pertempuran, KH Nawawi dihormati dan diingat sebagai seorang ulama, pejuang, dan pendidik yang berdedikasi. Beliau meninggalkan warisan berupa dedikasi dan pengabdiannya kepada bangsa dan negara, serta komitmen kuatnya terhadap pendidikan dan pengembangan masyarakat.

Pondok Pesantren Mangun Rejo, yang didirikan dan diasuh oleh KH Nawawi, terus beroperasi dan menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terkemuka di Mojokerto. Pesantren ini terus melanjutkan misi KH Nawawi dalam mendidik generasi muda dan mempersiapkan mereka untuk menjadi pemimpin masa depan.

KH Nawawi juga dikenang sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Mojokerto, sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia. Organisasi ini terus berperan dalam mempromosikan nilai-nilai Islam, toleransi, dan kerukunan antar umat beragama.

Meskipun KH Nawawi telah tiada, semangat dan dedikasinya terhadap agama, pendidikan, dan kemerdekaan Indonesia terus hidup dan menginspirasi banyak orang. Beliau adalah contoh nyata dari seorang ulama yang juga seorang pejuang, yang dengan gigih berjuang untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsanya. Beliau adalah simbol dari semangat dan keteguhan hati yang menjadi ciri khas dari para pahlawan nasional Indonesia.

Munasir Ali

Pejuang-Kemerdekaan-3.jpgKH Munasir Ali (FOTO: Dok. Disway)

KH Munasir Ali adalah seorang ulama dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang lahir pada 2 Maret 1919 di Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Ayahnya, Haji Ali, pernah menjabat sebagai lurah di Desa Modopuro.

KH Munasir Ali dikenal aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1939, beliau aktif dalam Persatuan Petani NU dan organisasi Ansor Mojokerto yang dibentuk pada 1938 bersama rekan sepondoknya, KH Achyat Halimi. KH Munasir Ali juga berperan dalam mendirikan Laskar Hizbullah Cabang Mojokerto.

Saat terjadi Agresi Militer Belanda II pada 1947, daerah-daerah di Mojokerto dan Jawa Timur lain dikuasai Belanda. Semua angkatan bersenjata dilebur menjadi satu menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI), termasuk Laskar Hizbullah. KH Munasir Ali kemudian diangkat menjadi Komandan Batalyon 39 TNI AD.

Setelah pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda pada 31 Desember 1949, KH Munasir dan pasukannya mendapat mandat untuk mengambil alih daerah Jombang. Setelah Jombang berhasil dikuasai, berturut-turut Mojokerto dan Gresik berhasil dikuasai olehnya.

KH Munasir Ali mundur dari dunia militer pada 31 Maret 1953 dengan pangkat terakhir Mayor. Setelah pensiun dari dunia militer, KH Munasir Ali kembali ke Mojokerto dan mendirikan Pondok Pesantren Al-Munawwir di Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Pondok Pesantren Al-Munawwir ini kemudian menjadi salah satu pondok pesantren terkemuka di Jawa Timur.

KH Munasir Ali juga aktif dalam berbagai organisasi keagamaan dan sosial. Beliau adalah salah satu pendiri dan pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Mojokerto. Selain itu, beliau juga aktif dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S).

KH Munasir Ali wafat pada 17 Juli 2000. Beliau meninggalkan warisan berupa dedikasi dan pengabdiannya kepada bangsa dan negara, serta komitmen kuatnya terhadap pendidikan dan pengembangan masyarakat. Beliau dihormati dan diingat sebagai seorang ulama, pejuang, dan pendidik yang berdedikasi. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Irfan Anshori
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES