Peristiwa Daerah

Silat Seni Down Syndrome, Wujud Kearifan Lokal Daerah Istimewa Yogyakarta

Rabu, 07 Februari 2024 - 09:53 | 16.56k
Tim Silat Seni Down Syndrome Yogyakarta bersama Jurnalis TIMES Indonesia berfoto bersama. (FOTO: Hendr S. Baskoro/TIMES Indonesia)
Tim Silat Seni Down Syndrome Yogyakarta bersama Jurnalis TIMES Indonesia berfoto bersama. (FOTO: Hendr S. Baskoro/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Silat Seni khusus Penyandang Down Syndrome merupakan sebuah rangkaian gerakan-gerakan silat secara sederhana dengan sikap jurus silat yang halus dan bersahaja.

Gerakan ini mengambil unsur seni dalam dunia silat dan hanya terdiri dari beberapa gerakan dasar yang secara berulang kali bergerak ke kanan dan ke kiri.

Silat Seni Down Syndrome ini berfungsi untuk menstimulasi otak agar selalu bergerak aktif. Selain itu juga untuk melatih motorik, kepekaan dan menyelaraskan antara rasa dengan gerakan dari penyandang Down Syndrome.

Pengurus Pendiri Yayasan Indonesia Down Syndrome Insani (YIDSI), Ludy Bima Sena menjelaskan, hadirnya Silat Seni Down Syndrome di kota Yogyakarta itu juga bertujuan agar para penyandang down syndrome bisa memiliki rasa percaya diri untuk tampil di depan masyarakat umum.

Ludy, yang juga Kreator Silat Seni Down Syndrome di Yogyakarta, ingin lebih mengenalkan mereka kepada masyarakat di Yogyakarta, Indonesia bahkan dunia bahwa penyandang down syndrome mempunyai kemampuan sama seperti orang pada umumnya untuk perform di atas panggung.

“Ini juga merupakan sebuah proses perjalanan yang panjang sehingga tidaklah mudah dalam membentuk dan melatih mereka,” kata pria yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia Perayaan World Down Syndrome Day (WDSD) 2023.

Lebih lanjutnya, seperti diketahui bersama penyandang down syndrome masuk dalam kategori disabilitas intelektual sehingga kebanyakan dari penyandang down syndrome ini hanya mampu latih dan hanya sedikit yang mampu didik.

Oleh karena itu, diperlukan latihan secara rutin untuk terus dilatih agar bisa tampil maksimal serta terbentuk sebuah tim silat seni yang solid.

Ludy menilai bahwa yang diharapkan selama ini telah berjalan dengan baik karena sepanjang tahun 2022, tim dari Silat Seni Down Syndrome tersebut sudah tampil lebih dari dari 20 kali perform di berbagai kegiatan atau event yang berlangsung di Yogyakarta.

“Sehingga hal itu sesuai dengan apa yang saya harapkan selama ini. Bahwa, penyandang down syndrome bisa tampil percaya diri di atas panggung dan lebih dikenal masyarakat luas,” ujar Ludy yang juga Ketua Forum Komunikasi (Forkom) Disabilitas DIY ini.

Penampilan dari Tim Silat Seni Down Syndrome pada puncak perayaan WDSD 2023 tersebut memberikan inspirasi yang berbeda terutama pasca adanya pandemi Covid-19.

Sehingga, Ludy berharap dengan tampilnya para penyandang down syndrome di perayaan WDSD 2023 itu akan semakin dikenal oleh masyarakat luas khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia bahkan internasional. (*) 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES