Peristiwa Daerah

Demonstrasi Gejayan Memanggil, Ada Simbol Hancurkan Rezim Jokowi

Senin, 12 Februari 2024 - 19:42 | 14.72k
Massa Aksi Gejayan Memanggil 2024 ketika menghancurkan 7 buah gentong. (FOTO: Olivia Rianjani/TIMES Indonesia)
Massa Aksi Gejayan Memanggil 2024 ketika menghancurkan 7 buah gentong. (FOTO: Olivia Rianjani/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta bersama elemen masyarakat menggelar aksi demonstrasi Gejayan Memanggil. Hanya, kali ini suasana aksi demonstrasi berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dalam Aksi Gejayan Memanggil tahun 2024  itu, massa aksi mengawali demonstrasi dengan memecahkan gentong sebanyak 7 buah. Aksi memecah gentong itu dilakukan di seputar Bundaran Universitas Gajah Mada (UGM), Senin (12/2/2024). Setelah memecahkan gentong, massa berjalan kaki menuju persimpangan Jalan Gejayan.

Di sisi lain, ada pula ratusan mahasiswa Universitas Sanata Dharma (USD) dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang menggelar aksi dari kampus USD menuju persimpangan Jalan Gejayan bergabung dengan demonstrasi yang lain. Mereka bergabung dan melakukan orasi secara bergantian dari berbagai kampus di Yogyakarta seperti UGM, UII, USD, UAJY, GMNI, UMY, dan lain sebagainya. 

Dalam orasinya, seorang peserta aksi bernama Siti mengatakan, tujuh gentong yang dipecahkan itu sebagai simbol menghancurkan rezim Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan ingin mendapatkan 'pitulungan' (pertolongan) dari pemerintah yang memihak rakyat dimasa depan nanti.

“Pada tujuh gentong tadi pihaknya membacakan tujuh dosa Jokowi, salah satunya rezim antidemokrasi. Dari tujuh gentong itu ia berharap ketamakan rezim Jokowi benar-benar dihancurkan dimuka bumi ini,” tegas Siti yang merupakan aktivis BEM KM Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Dalam kesempatan itu, Siti meminta masyarakat Indonesia tidak tergiur dengan bantuan sosial untuk kepentingan politik Pemilu 2024.

“Rakyat tidak bisa dibeli sama bansos busukmu, kita berjuang untuk generasi yang akan datang,” sambung orator lain dengan menggebu-gebu.

Hadir di Aksi Gejayan Memanggil, Guru Besar Forum Cik Dik Tiro Jogja Sebut Pemilu Musim Kubur

Guru Besar Ilmu Komunikasi UII Prof Masduki yang hadir ditengah massa aksi juga ikut menyampaikan orasinya. Dalam kesempatan itu, pria yang akrab disapa Ading menyampaikan bahwa, musim pemilu ini disebut sebagai musim kubur. Hal itu karena beberapa akademika yang mengkritik kebijakan pemerintah saat ini dimintai klarifikasi dengan pesan yang baik.

“Kita memasuki musim kubur demokrasi. Apa kriterianya, yang pertama ketika kebebasan berekspresi dipersulit, ketika otonomi akademik mengalami problem tekanan. Padahal, salah satu ciri penting demokrasi, semua orang bebas menyampaikan aspirasinya,” tandas pria yang pernah menjadi wartawan Radio Unisi ini.

Ading menyebutkan, ada banyak akademisi yang mendapat ancaman dari oknum eksternal dan internal kampus. Sehingga, tak sedikit diantara akademisi khawatir.

“Banyak dosen jumlahnya tapi intelektual sangat sedikit, yang menggunakan mandat akademiknya untuk turun bersama mahasiswa menyuarakan kritik kepada rezim Jokowi,” papar Ading.

Menurutnya, situasi politik saat ini sudah seperti orde baru. Hal ini dapat dilihat penggunaan alat negara untuk kepentingan politik praktis.

“Mari kita hentikan politik dinasti, hentikan ketamakan berkuasa,” ajak Ading menggebu-gebu kepada ribuan peserta Aksi Gejayan Memanggil. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES