Peristiwa Daerah

Wisatawan Mancanegara Diduga Dilecehkan Saat Kemah di Seruni Point Gunung Bromo

Selasa, 13 Februari 2024 - 19:36 | 40.71k
Salah satu petugas Koramil Sukapura saat bersama dengan Cam, Turis Mancanegara asal Prancis. (Foto: Anggota Koramil for TIMES Indonesia)
Salah satu petugas Koramil Sukapura saat bersama dengan Cam, Turis Mancanegara asal Prancis. (Foto: Anggota Koramil for TIMES Indonesia)
Kecil Besar

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Viral di media sosial, seorang wisatawan mancanegara mendapat dugaan perlakuan pelecehan saat berkemah di kawasan Seruni Poin Gunung Bromo.

Dugaan percobaan pelecehan itu diunggah di akun Instagram pribadinya yakni @adventurewcam. Gadis mancanegara tersebut bernama Camille Gabriele (25) asal Prancis.

Advertisement

Video unggahan berdurasi 14 detik itu mendapatkan 300 ribu like, 8.089 komentar, dan telah ditonton sebanyak 20,7 juta kali dengan komentar yang beragam.

Dalam unggahannya, Camille yang akrab disapa Cam menceritakan bahwa pada Jumat (5/1/2024) lalu, ia melakukan solo camp. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 23.00.

Camille, yang dikenal sebagai solo woman hitchhiking alias wanita yang hobi menumpang sendirian, sedang dalam misi untuk hitchhiking alias menumpang dari Indonesia sampai ke Prancis dengan biaya nol rupiah.

Saat di Bromo, Camille berencana berkemah di spot bernama Bukit King Kong.

Saat perjalanan menuju Bukit King Kong, tepatnya di area Seruni Point di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, ia bertemu dengan seorang pria yang tidak dikenal.

Pria tersebut menggunakan sepeda motor dan diduga merupakan ojek warga lokal.

Pria itu menawarkan tumpangan. Namun, setelah mengetahui bahwa Camille hendak mendirikan tenda di Bukit King Kong, pria tersebut tidak menyarankannya karena dianggap berbahaya untuk mendirikan tenda seorang diri di area kawasan tersebut.

Oleh karena itu, Camille mendirikan tendanya di sekitar kawasan Seruni Point. Bahkan, pria tersebut membantu mendirikan tenda.

Dalam kisah yang dituliskan Camille, pria itu memberikan snack setelah mengetahui bahwa Camille belum makan sesuatu.

Namun yang membuat Camille kurang nyaman, saat pria tersebut meminta untuk masuk tenda bersamanya.

"Lalu, dia bertanya apakah dia bisa duduk di dalam tenda sambil ngobrol. Saya sebenarnya tidak nyaman dengan itu, tapi mau tidak mau karena dia begitu baik pada saya (gadis yang bodoh, iya saya tahu). Tapi sebelumnya, saya sudah beri tahu dari awal: Saya akan tidur di dalam tenda sendirian malam ini dan pria itu tidak masalah," tulisnya.

Beberapa saat kemudian, Camille meminta pria tersebut untuk pergi dari tenda, karena ia akan tidur.

Namun, pria tersebut malah mengatakan bahwa Camille bisa tidur sementara ia berada di dalam tenda. Camille pun menolak tawarannya.

"Saya sampai meminta beberapa kali, tapi dia menolak untuk pergi. Saya jadi marah dan dia akhirnya keluar dari tenda, tapi menolak untuk pulang," lanjut Camille dalam tulisannya yang ia unggah pada 12 Januari dan viral hingga saat ini.

Kemudian, pria tersebut meminta ciuman selama satu menit, bahkan beberapa kali. Dia bahkan mengatakan akan memberikan uang kepada Camille asalkan ia mau berciuman dengannya.

"Selang beberapa waktu, pria tadi akhirnya bilang, 'Beri saya uang Rp 100.000.' Tak mendapat jawaban dari Camille, pria tadi bilang lagi, 'Oke, Rp 50.000 saja dan saya akan pergi,' ujar Camille.

Dengan cepat, Camille merapikan tenda, memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, dan langsung bergegas pergi.

Sementara pria tersebut malah mengatakan, "Tunggu di sini, saya akan membawa teman-teman saya."

Camille pun langsung melarikan diri menuju homestay terdekat.

Di sana, ia meminta tolong dengan menggunakan Google Translate, menceritakan bahwa ada satu pria yang mengikutinya dan menanyakan apakah ada kamar di mana dia bisa menginap.

Dihubungi terpisah, Kades Ngadisari Sunaryono membenarkan peristiwa yang terjadi sebulan lalu itu.

Meskipun video tersebut sempat viral, menurutnya kasus tersebut sudah dimediasi secara bersama-sama dan telah sepakat untuk berdamai tanpa ada tuntutan apapun dari kedua belah pihak.

Bahkan dalam mediasi tersebut, pihak Desa Ngadisari menggunakan jasa seorang penerjemah.

"Dari mediasi yang berakhir damai yang dilakukan pada pukul 23.00 WIB di kantor Desa, bahwa wisatawan mancanegara ini tidak menuntut," kata Sunaryono, Selasa (13/2/2024) sore.

Sunaryono mengatakan, setelah mediasi, keesokan harinya, pelaku yang merupakan tukang ojek ini mendapat pembinaan dari Koramil Sukapura.

Selain itu, pelaku ini mengakui perbuatannya, namun tidak sampai bersentuhan, bahkan korban yang merupakan turis mancanegara pun mengaku tidak bersentuhan.

"Untuk pelaku sendiri merupakan ojek kuda, yang kebetulan pada saat kejadian lewat dengan menggunakan motor, kemudian mengajak turis tersebut," imbuhnya.

Sunaryono berpesan, baik masyarakat, pelaku jasa wisata, maupun wisatawan harus selalu waspada dengan orang yang tidak dikenal.

"Bagi wisatawan, jangan menganggap orang yang ada di Bromo itu orang lokal atau orang yang berperilaku baik, jadi kewaspadaan perlu dijaga, dan bagi masyarakat lokal juga harus waspada jangan gampang percaya orang asing, jangan menganggap orang yang datang ke Gunung Bromo untuk berwisata saja, namun punya tujuan lain," tutupnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Muhammad Iqbal
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES