Optimalkan IB, Lamongan Tingkatkan Kualitas dan Kuantitas Ternak Sapi
Pemkab Lamongan berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas ternak sapi melalui optimalisasi teknologi Inseminasi Buatan (IB). ...

LAMONGAN – Pemkab Lamongan berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas ternak sapi melalui optimalisasi teknologi Inseminasi Buatan (IB).
drh. Rahendra Prasetya Eko S, Sekretaris Dinas Kesehatan dan Peternakan Hewan Kabupaten Lamongan, menjelaskan bahwa IB membawa peningkatan genetik yang dapat meningkatkan performa ternak.
"Inseminasi buatan ini akan ada peningkatan genetik. Jadi performanya bisa menjadi besar, karena dari sapi-sapi pejantan. Sehingga peningkatan beratnya bisa sampai satu ton, sedangkan sapi lokal betina ini awalnya kecil," ujar Hendra Rabu (24/1/2024).
Proses IB melibatkan memasukkan semen beku dari sapi pejantan unggul ke dalam saluran reproduksi sapi lokal betina. Langkah ini membantu meminimalisir risiko yang dapat terjadi pada perkawinan silang sapi secara alami, seperti kecelakaan akibat perbedaan fisik yang signifikan.
Saat ini, Lamongan memiliki sekitar 96 ribu sapi hasil crossing, termasuk sapi limosin, sapi simental, sapi peranakan onggole (PO), sapi angus, dan sapi lokal. Dinas Peternakan juga tengah mengembangkan jenis sapi baru, yakni wagyu dan belgian blue, yang sudah mencapai 30 ekor.

Semen beku dari Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, yang didapatkan melalui Pemprov Jatim, disimpan di bank semen Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan. Petugas IB mengambil dan mendistribusikan semen ke desa-desa dua minggu sekali, dengan harapan mencapai target kelahiran 40 ribu ekor sapi dalam satu tahun.
"Dulu pedet (anak sapi) yang baru lahir harganya hanya kisaran 1 juta. Kalau sekarang bisa 2 - 3 juta. Kenaikan beratnya juga cukup signifikan, yang awalnya 300 kg di awal kelahiran, sekarang bisa mencapai 1-1,5 kg per hari. Sedangkan sapi lokal masih di bawah 1 kg," kata Hendra.
Meski demikian, masih ada tantangan, seperti risiko Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), yang mengurangi minat masyarakat dalam beternak. Upaya sosialisasi dan vaksinasi massif dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Drh. Rahendra berharap dapat mencapai status nol PMK mulai Mei 2023 dan terus mengembangkan inovasi serta memberdayakan alumni Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) di beberapa kecamatan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


