Peristiwa Daerah

Mayday 2024, Komite SPBI Sebut Momentum Melawan UU Cipta Kerja 

Rabu, 01 Mei 2024 - 13:32 | 15.50k
Massa Aksi Mayday 2024 memenuhi ruas jalan protokol di Surabaya, Rabu (1/5/2024). (FOTO: Lely Yuana/TIMES Indonesia)
Massa Aksi Mayday 2024 memenuhi ruas jalan protokol di Surabaya, Rabu (1/5/2024). (FOTO: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Ketua Komite Pusat Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI) Irfan Junaidi mengungkapkan bahwa 1 Mei adalah momentum perlawanan dan persatuan kaum buruh di Indonesia. 1 Mei adalah hari di mana seluruh buruh di dunia memperingati Hari Buruh Sedunia

Di Indonesia, peringatan satu Mei pernah dilarang oleh Orde Baru karena dianggap kekiri-kirian dan identik dengan komunisme. 

"Orde Baru memang gemar menstigma segala sesuatu yang berorientasi pada partisipasi rakyat sebagai komunis. Sebuah stigma yang ngawur dan tidak berdasar," tegasnya, Rabu (1/5/2024).

Setelah reformasi 98, kata Irfan, pemerintah kembali mengizinkan diadakanya kembali peringatan Mayday, seiring dengan diundangkannya kebebasan berserikat bagi buruh. Dan akhirnya, gerakan buruh menemukan momentumnya untuk bangkit kembali. 

"Tetapi, hal ini bukan berarti perjuangan buruh menjadi lebih mudah," tandasnya.

Apabila di era Orde Baru, buruh dihantam dengan kekerasan yang brutal dan mematikan, maka di era reformasi, buruh dicekik dengan liberalisme ketenagakerjaan yang memiskinkan dan melemahkan. 

"Selama reformasi lima kali Pemilu telah berlalu, tapi regulasi ketenagakerjaan justru semakin buruk. Dan yang paling buruk adalah di era presiden Jokowi yang besok akan dilanjutkan presiden Prabowo," kata dia.

Pemerintahan Jokowi yang dinilai Irfan Junaidi anti demokrasi dan gemar melanggar konstitusi, bahkan sangat antusias telah mengesahkan UU Cipta Kerja.

Meliputi dua kebijakan easy hearing (mudah merekrut pekerja) dan sekaligus easy firing (mudah melakukan PHK).

"Itulah dua prinsip yang dilegalkan dalam UU Cipta Kerja cluster ketenagakerjaan," ungkapnya.

Dikatakan Irfan Junaidi, sistem kerja kontrak, out sourcing, upah murah, kemudahan PHK, pesangon yang rendah dan pemberangusan serikat adalah ancaman nyata yang dibawa Presiden Jokowi dan penerusnya melalui UU Cipta Kerja tersebut.

"Maka, terlaknatlah mereka yang mendukung UU Cipta Kerja. Kami kaum buruh mengutuk dan melaknat mereka," tegas Irfan Junaidi.

Senada, Ketua SPBI Malang Raya, Imam Hanafi mengungkapkan bahwa bagi buruh, 1 Mei bukanlah perayaan hura-hura tanpa makna. 

"Kami memperingati 1 Mei untuk memperkuat persatuan di antara kami dalam berjuang," demikian tegas Imam Hanafi.

"Satu Mei, menyadarkan bahwa seluruh buruh adalah bersaudara dalam perjuangan dan perlawanan menghadapi kedzaliman,"  seru Siti Chumaini, salah satu pimpinan buruh perempuan di SPBI. 

Pejuang buruh akan ada dan terus berlipat ganda, tidak akan takut dan lelah untuk terus melawan pemerintah yang tidak pernah berpihak kepada buruh.

"Cabut UU Cipta kerja sekarang juga," tegas Misdi, Pimpinan SPBI Kota Malang. 

Dalam Mayday 2024 ini SPBI menyerukan dan menyampaikan dua tuntutan: 

1. Waspadalah Orde Baru telah dibangkitkan kembali, ayo seluruh rakyat Indonesia bersatu melawan Rezim Anti HAM dan anti Rakyat !

2. Cabut Undang-undang Cipta Kerja dan segala aturan-aturan turunannya!. (*)
 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES