Peristiwa Daerah

Kisah Perempuan Sebatangkara Disabilitas di Pelosok Pacitan, Hidup Hanya dengan Modal Nekat

Rabu, 01 Mei 2024 - 18:17 | 21.63k
Tumi, warga Wonosari, Karangrejo, Arjosari, Pacitan hidup sebatangkara dan penyandang disabilitas sejak lahir harus buruh serabutan demi hidup. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
Tumi, warga Wonosari, Karangrejo, Arjosari, Pacitan hidup sebatangkara dan penyandang disabilitas sejak lahir harus buruh serabutan demi hidup. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, PACITAN – Di pelosok Kabupaten Pacitan terdapat kisah seorang perempuan yang hidup sebatangkara penyandang disabilitas dan hidup hanya dengan modal nekat. 

Bagaimana tidak, Tumi yang rumahnya berada di Dusun Wonosari, RT 9/RW 6, Desa Karangrejo, Kecamatan Arjosari ini terkendala untuk berbicara dan mendengar sejak lahir. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, perempuan berusia 50 tahun ini bekerja sebagai buruh serabutan.

Jarak tempuh dari Kota Pacitan terpaut sekitar 30 kilometer. Untuk sampai di rumah Tumi, harus melewati medan ekstrem perbukitan dan dikelilingi jurang cukup curam.

TIMES Indonesia harus berjalan kaki sekitar dua kilometer lantaran akses menuju rumahnya tidak bisa dijangkau kendaraan.

Tumi, yang kehilangan kedua orang tuanya, menjalani hari-harinya dengan mencari nafkah melalui memungut daun cengkeh yang kemudian dijual kepada pengepul.

Jika musim tanam dan panen padi tiba, Tumi tak luput manjadi bagian tenaga buruh tani bagi warga sekitar tempat tinggalnya.

Dalam keterbatasan tersebut, Tumi harus menghadapi tantangan berat untuk tetap bertahan menjalani hidup.

Meski hidup dengan penghasilan yang minim, Tumi tetap terlihat tegar dan tersenyum. Itu terlihat dari tatapan matanya meski dengan bahasa isyarat.

Tetangga dekatnya, Sudirman (58), mengungkapkan bahwa Tumi kadang-kadang terpaksa menjadi buruh tani demi mencukupi kebutuhan sehari-hari.

"Tak punya siapa-siapa, kedua orang tuanya sudah lama meninggal, jadi begitu kami tetangga kadang bantu sekadarnya," ungkapnya, Rabu (1/5/2024).

Dalam keterbatasan dan kesendirian, Tumi mengharapkan adanya bantuan dan perhatian lebih lanjut dari pemerintah untuk membantu meringankan beban hidup yang mereka hadapi.

"Hasil jual daun cengkeh sangat minim, satu sak hanya dihargai Rp1500. Selama ini mengandalkan hasil buruh serabutan," ujar Sudirman yang mengaku pendatang dari Jawa Barat ini.

Diketahui Tumi yang sebatangkara di pelosok Kabupaten Pacitan itu menempati rumah sangat sederhana dengan alas yang masih tanah. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES