Peristiwa Daerah

Harlah GP Ansor, Apel 10.000 Kader, juga Ada Festival 1.000 Bantengan

Jumat, 10 Mei 2024 - 13:19 | 37.49k
Flyer Festival Kesenian 1.000 Bantengan yang bakal digelar meramaikan Harlah ke-90 GP Ansor di Pantai Balekambang Kabupaten Malang, 25 Mei 2024 mendatang.
Flyer Festival Kesenian 1.000 Bantengan yang bakal digelar meramaikan Harlah ke-90 GP Ansor di Pantai Balekambang Kabupaten Malang, 25 Mei 2024 mendatang.

TIMESINDONESIA, MALANG – Panitia Festival Kesenian 1.000 Banteng dalam rangka peringatan Harlah ke-90 Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Pantai Balekambang, Kabupaten Malang, mengundang seniman dan komunitas Bantengan unjuk kreativitas meramaikannya, pada 25 Mei 2024 mendatang. 

Di acara festival ini, kelompok seniman bantengan disilahkan beratraksi sebebas mungkin dengan kreasi masing-masing. Namun demikian, panitia festival tetap membuat rambu-rambu persyaratan dan aturan main. 

"Ada beberapa peraturan dalam festival bantengan ini. Peserta bisa atraksi mberot, namun tidak boleh sampai kalap. Karena itu hanya festival, jadi lebih menonjolkan atraksi keseniannya. Jadi, jangan sampai ada yang kalap," kata Ketua Panitia Festival Kesenian 1.000 Banteng, Nanang Setiawan, Jum'at (10/5/2024). 

Agar tidak liar dan berpotensi memicu kericuhan, kata Nanang, perserta festival bantengan ini juga dilarang keras membawa minuman keras atau senjata tajam. 

"Ketika peserta didapati membawa miras atas sajam, maka akan kami diskualifikasi dan menyita barang tersebut, apabila memaksakan untuk masuk. Jika menolak, bahkan bisa dipulangkan," tandas Nanang.

Atraksi-pertunjukan-tarian-bantengan.jpgAtraksi pertunjukan tarian bantengan yang menarik masyarakat belum lama ini. (Foto Amin/TIMES Indonesia) 

Untuk mengantisipasi keamanan dan ketertiban selama acara festival, pihaknya menyiapkan kurang lebih 250 personil anggota Banser, dibantu aparat kepolisian dan TNI, sejak di pintu masuk kawasan Pantai Balekambang untuk cek fisik peserta festival. 

Ketentuan lain yang sementara sudah disepakati peserta festival, adalah tiap kelompok bantengan dibatasi mendaftarkan 1 tim dengan 5 kepala banteng. Panitia juga membatasi lama atraksi tiap kelompok bantengan selama 6 menit bergiliran, dengan lagu pengiring atraksi yang ditentukan oleh panitia. 

Selain itu, tim pemain kelompok bantengan bukan kategori anak-anak, dengan usia minimal 17 tahun. 

Panitia Festival Kesenian 1.000 Bantengan ini menyediakan total hadiah Rp 10 juta, untuk penampilan terbaik juara I, II, dan III. 

"Penampilan atraksi peserta bantengan akan dinilai tim juri dari atas panggung yang disediakan. Penjurian secara profesional ini didukung tim dari Lesbumi NU," terangnya. 

Beberapa hal yang menjadi aspek penilaian juri, diantaranya kostum dan tata rias, gerakan dan ekspresi, keterampilan pemain saat pertunjukan, serta kreativitas dan keserasian dalam satu tim penampilan. 

Disinggung alasan memilih kesenian bantengan, Nanang menjelaskan, bahwa seni bantengan ini lagi booming dan diminati banyak kalangan, dari kelompok usia anak sampai dewasa. 

Karena itu pula, panitia meyakini festival bantengan ini akan menyedot penonton dan pengunjung ke pantai Balekambang nantinya.

"Dengan festival kesenian 1.000 bantengan ini, kami ingin berkontribusi melalui seni budaya, meramaikan pariwisata di Kabupaten Malang, khususnya di pantai Balekambang dan sekitarnya. Tentu, kami tidak meninggalkan nilai-nilai budayanya, dan tetap dengan cara-cara Islami," demikian Nanang. 

Mengenal Asal Muasal Kesenian Bantengan

Melansir detik.com, bantengan adalah seni berupa pertunjukan tari tradisional rakyat. Kesenian ini mulai berkembang pesat pada 1960-an, yang dikembangkan dari kesenian kebo-keboan asal Ponorogo, Jawa Timur. 

Konom, seni tari kebo-keboan sendiri merupakan kesenian yang dipercaya sebagai tolak bala dan penyelamat Raja Surakarta Paku Buwono II, dari berbagai serangan pemberontakan keraton.

Kala itu, pesilat asal Madiun sempat datang ke Ponorogo untuk melihat pertunjukan kesenian kebo-keboan. Kemudian, pesilat asal pegunungan Mojokerto, Malang, dan Batu, kemudian juga terinspirasi membuat kesenian serupa dengan menggunakan bentuk hewan banteng. Hewan banteng dipilih karena mulai punah. 

Mulanya, kesenian bantengan ditujukan sebagai pengingat dan pendorong untuk masyarakat akan bela diri pencak silat. Dan, dalam perkembangannya, kesenian bantengan dilakukan oleh sebagian besar penduduk di pinggiran kota di daerah lereng pegunungan. Tepatnya penduduk di sekitar wilayah Bromo-Tengger-Semeru, Arjuno-Welirang, Anjasmoro, Kawi, dan Raung-Argopuro.

Kesenian bantengan biasanya dimainkan dua orang, yang perannya terbagi menjadi kaki depan dan kaki belakang. Peran kaki depan sebagai pemegang kepala bantengan dan pengontrol tari bantengan. Sementara pemain di kaki belakang bertugas sebagai ekor bantengan. Dua orang tersebut biasanya dimainkan dua laki-laki.

Kostum yang biasanya digunakan untuk tari bantengan terbuat dari kain hitam, sedangkan topeng berbentuk kepala banteng yang terbuat dari kayu. Selain itu, kepala banteng juga dilengkapi replika menyerupai tanduk asli kerbau atau banteng, yang terbuat dari kayu. (*) 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES