Peristiwa Daerah

Pengajian Lintas Agama di Ponpes Az-Zainy Tumpang, KH Ahmad Mujayid: Ini Tetesan Kasih Allah

Minggu, 12 Mei 2024 - 10:46 | 20.68k
Pj Wali Kota Malang Dr Wahyu Hidayat (kedua dari kanan) bersama KH Zain Baik dan para ulama serta tokoh masyarakat saat menghadiri Pengajian dan Halal BI Halal bersama tokoh  lintas agama di Ponpes Az Zainy Jumat, 10 Mei 2024. (FOTO: Fiki.TIMES Ind
Pj Wali Kota Malang Dr Wahyu Hidayat (kedua dari kanan) bersama KH Zain Baik dan para ulama serta tokoh masyarakat saat menghadiri Pengajian dan Halal BI Halal bersama tokoh  lintas agama di Ponpes Az Zainy Jumat, 10 Mei 2024. (FOTO: Fiki.TIMES Ind

TIMESINDONESIA, MALANG – Majelis pengajian sekaligus halal bi halal Jumat (11/5/2024) pahing di Pondok Pesantren Az Zainy Tumpang, Kabupaten Malang tidak lelah untuk terus mewujudkan indahnya toleransi lintas agama. Para ulama, tokoh, masyarakat muslim dan non-muslim berbaur di Pondok Pesantren dan Rehabilitasi Mental pimpinan KH Zain Baik tersebut. 

KH Zain Baik mengakui, pihaknya telah merawat majelis pengajian yang selalu dihadiri umat lintas agama itu, selama bertahun tahun. Baginya, perjuangan ini seperti yang diajarkan Rosulullah SAW.

Wahyu-Hidayat-4.jpgUskup Agung Malang Raya Prof Dr Mgr Henricus Pidyarto O Carm bersama KH Zain Baik pengasuh Ponpes dan Rehabilitasi Mental Az Zainy Malang dalam pengajian dan halal BI halal di ponpes setempat, Jumat, 10 Mei 2024. (FOTO: Fiki.TIMES Indonesia)

"Rosulullah mengajarkan kepada kami, bagiku agamaku bagimu agamamu. Jadi kami tidak akan lelah merawat majelis ini," ungkap KH Zain Baik.

Bagi KH Zain Baik, urusan perbedaan agama sudah tuntas. Yang ada, saling menghargai dan menghormati perbedaan. "Pemeluk agama yang satu tidak seharusnya merendahkan ibadah pemeluk agama yang lain. Ini kunci toleransi," tandas kiai yang juga pengusaha agribisnis dan property tersebut.

Tampak hadir dalam forum tersebut Pj Wali Kota Malang Dr Ir Wahyu Hidayat, KH Ahmad Mujayid, tokoh TNI dan Polri, Uskup Agung Malang Raya Prof Dr Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm, Ketua Ordo Carmel Indonesia Romo Hariawan Adji O.Carm dan mantan Ketua Ordo Carmel Indonesia Romo Budianom O.Carm bersama para frater. 

Tampak juga hadir, Ketua Carmel Santa Maria Tumpang Suster Petra bersama rombongan suster, tokoh Hindu dan Budha. Sejumlah rektor perguruan tinggi, pengusaha, praktisi, hingga petani. Ada Ketua LL Dikti Jatim Prof Dyah Sawitri hingga jemaah masyarakat umum se-Malang Raya.

Pj Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengungkap rasa terimakasihnya kepada KH Zain Baik atas majelis yang tidak lelah menjaga kerukunan antarumat beragama tersebut.  "Pemerintah daerah sangat berterimakasih kepada Ponpes Az Zainy pimpinan KH Zain Baik yang membantu tugas pemerintah," ucapnya.

Majelis seperti ini, kata Wahyu, membuktikan  bahwa NKRI merupakan negara yang menjunjung  tinggi nilai toleransi antarumat beragama. "Tidak boleh ada kegaduhan karena perbedaan keyakinan," ucap Wahyu Hidayat.

Sementara Rektor Unisma Prof Dr Maskuri, dalam sambutannya mengatakan, majelis ini mengingatkan pada  pesan Rosulullah Muhammad SAW. Pertama, pesan Rosulullah, jika ada undangan menghadiri majelis seperti ini, maka besegeralah hadir. Prioritaskan. Karena dalamnya terdapat majelis ilmu dan zikir. Di sanalah ribuan malaikat dengan sayapnya turun dari langit hadir di majelis tersebut untuk turut membawa doa dan zikir yang dipanjatkan para jamaah yang hadir.

"Bahkan malaikat ikut mendoakan untuk yang hadir dalam majelis seperti ini," ujar Maskuri.       

Kedua, lanjut Maskuri, forum ini sangat indah dan meneduhkan. Suatu hari, ungkap Maskuri, Rosulullah melihat ada seorang non-muslim wafat. Ketika jenazahnya dibawa, Rosulullah mengajak semua para sahabat berdiri untuk menghormatinya. Kata Rosulullah, dia manusia. Maka hormatilah.   

"Kepada jenazah saja Rosulullah menghormat meski dia berbeda keyakinan. Apalagi manusia itu masih hidup," papar Maskuri mengutip teladan Rasulallah SAW.

Sementara itu Uskup Henricus Pidyarto Gunawan mengungkapan terimakasih bisa bergabung bersama majelis yang mengusung nilai toleransi antarumat bergama tersebut. Inilah potret merawat  toleransi di Indonesia.

Dalam tausiyahnya, KH Ahmad Mujayid mengatakan bahwa toleransi antarumat beragama di majelis ini merupakan wujud tetesan Kasih Sayang Allah. Sang Maha Kasih dan Penyayang. Karena itu, dalam Islam, diajarkan untuk mengasihi dan menyayangi. Tak hanya antara sesama manusia. Tapi juga antara sesama makhluk Allah.

"Ini tetesan kasih Allah. Baru tetesan saja sudah begini indahnya. Maka jangan pernah lupa minta ya Allah berikan tetesan KasihMu," kata Kiai yang kini sudah berusia 85 tahun tersebut. 

Dia memberikan rahasia kunci sukses. Ia mengajak para jemaah untuk tidak pernah ragu dalam berpasrah diri kepada sifat dan kekuasaan Allah. Sedikit saja keraguan itu ada, sama saja tidak mempercayai Allah dengan segala sifat Kesempurnaannya. "Setelah manusia ihtiar, usaha. Ya pasrah. Totalitas berarti tidak ragu. Di situ pasti akan terjawab. Ini janji Allah," ungkap KH Ahmad Mujayid.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES