Kue Rengginang Desa Penusupan Pemalang Rambah Pasar Sumatera dan Sulawesi

TIMESINDONESIA, PEMALANG – Pasca lebaran pembuat jajanan kerupuk Rengginang, di Desa Penusupan, Kecamatan Randudongkal Kabupaten Pemalang tetap eksis memproduksi makanan yang terbuat dari olahan nasi ketan ini.
Istihumazah salah satunya. Ia dalam sehari pada saat musim panas mampu menghabiskan 20 kg beras ketan sebagai bahan dasar pembuatan kerupuk rengginang. Usaha Rengginang tersebut sudah dilakoni ibu tiga anak ini semenjak 10 tahun yang lalu.
Advertisement
Berawal dari membuat jajanan buat cemilan untuk anak-anaknya, Istihumazah hidup dalam kesulitan ekonomi pada saat itu. Iis sapaan akrabnya tidak pernah bisa diam, ada saja yang dilakukan untuk mengisi waktu luangnya setelah melakukan pekerjaan rutin sebagai ibu rumah tangga.
Kini Istihumazah bisa memproduksi 20 -30 kilogram rebusan beras ketan untuk dijadikan rengginang. Bahkan saat lebaran kemarin mampu menghabiskan 2 kuintal beras ketan sebagai bahan dasar kerupuk Rengginang. Demi menjaga kualitas kerupuk Rengginang buatannya, semua proses produksi dikerjakan sendiri tanpa mempekerjakan karyawan.
"Beda tangan beda rasa rengginang ini jadi walaupun capek, demi kualitas rengginang semuanya saya kerjakan sendiri," kata Yati, Selasa (14/5/2024).
Untuk harga kerupuk rengginang mentah dijual 40 ribu dan matang 70 ribu serta 120 ribu untuk satu kaleng besar rengginang mateng, ada dua rasa varian yaitu rengginang manis dan original (gurih).
Istihumazah sudah cukup bahagia. Usaha membuat rengginang bisa menambah penghasilan keluarga. Tidak terpikirkan untuk mempekerjakan karyawan, apalagi belajar manajemen bisnis.
Bermula dari kondisi “kepepet” ekonomi, Istihumazah sudah membuat rengginang selama 10 tahun.
Berawal di sebuah rumah kontrakan, Iis mencoba untuk membuat adonan rebusan beras ketan untuk dibuat menjadi krupuk rengginang. Ya, biasa orang menyebutnya Rengginang. Seiring berjalannya waktu, percobaan dirinya berhasil dan menjadi dikenal sebagai pembuat krupuk rengginang di Desa Penusupan sekaligus tersemat sebagai “bakul” atau pedagang rengginang kelas usaha kecil-kecilan.
Racikan bumbunya sangat sederhana, namun dengan bahan dan bumbu yang alami. Hasil rebusan beras ketan yang telah matang dengan terlebih dahulu di campur bumbu dan rempah, seperti bawang putih, ketumbar dan dan terasi udang.
Rahasia rengginang buatannya dengan rasa gurih dan asin yang khas didapat dari bumbu terasi yang digunakan. Istihumazah hanya menggunakan terasi dari hasil olahan laut perajin terasi di Jawa Timur.
“Selain terasi Jawa Timur saya tidak pakai mas,” terang Istihumazah.
Awalnya keliling dari kampung ke kampung. Lambat laun karena masyarakat sekitar mulai cocok dengan rasa rengginang buatannya, banyak orang yang pesan untuk dimakan sendiri sebagai camilan keluarga maupun pesanan untuk dijual kembali. Selain itu, banyak warga yang akan menggelar hajatan pesan terlebih dahulu rengginang buatannya.
Hampir seluruh kampung dan wilayah sekelilingnya, jika ada rengginang yang ada di pasar, toko sembako, dan warung-warung bisa dipastikan rengginang buatan Istihumazah
"Bahkan sudah lama rengginang kami dibawa ke Lampung dan Manado, " katanya.
Untuk menjaga dan meningkatkan mutu rengginangnya, termasuk segi pemasarannya beberapa kali Istihumazah mengikuti pelatihan pembuatan makanan sehat dan aman serta bergizi yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Pemalang.
Jiroh, salah satu pelanggan menyatakan dirinya sudah berlangganan kerupuk rengginang Nurhayati sejak 6 tahun yang lalu baik untuk di konsumsi sendiri atau dijual lagi.
“Rengginangnya khas berasa, langsung mekar lebar ketika digoreng dan hancur sendiri di mulut pada gigitan pertama, " katanya.
Renginang adalah makanan khas Indonesia yang terbuat dari beras ketan yang dipadatkan dan kemudian digoreng hingga crispy. Makanan ini memiliki tekstur yang renyah dan gurih, serta memiliki rasa yang unik dan memikat. (*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Irfan Anshori |
Publisher | : Sofyan Saqi Futaki |