Inovasi Agrobisnis Ala Pemuda Probolinggo; Tak Perlu Punya Sawah untuk Jadi Petani

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Menjadi seorang petani tidak harus memiliki atau membeli sebidang sawah. Pekarangan rumah pun bisa menjadi ladang pertanian. Biayanya murah dan kualitas tanam cukup menjanjikan.
Izhaq Mustaqim, seorang pemuda berusia 23 tahun dari Desa Sogaan, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, berhasil mengembangkan pertanian model greenhouse di pekarangan rumahnya.
Advertisement
Dengan menggunakan struktur rumah kaca atau 'Green House', Izhaq membudidayakan melon di atas lahan seluas 616 meter persegi dan menggunakan polibag sebagai media tanam.
Inovasi luar biasa yang digagas oleh pemuda berkacamata itu telah berjalan selama sekitar 3 tahun. Alhasil, produktivitas buah melon yang ditanamnya mampu menghasilkan buah yang segar dan berkualitas tinggi. Harganya pun tentu saja menjadi lebih mahal.
Menurut pria lulusan Universitas Brawijaya Malang ini, budidaya dalam Green House memiliki banyak keuntungan. Salah satunya adalah pengurangan biaya operasional, karena struktur bangunannya dapat mengurangi serangan hama dan penyakit. Hal ini tentu saja bisa meminimalisir penggunaan pestisida.
"Kita dapat menanam sepanjang tahun dan mengontrol iklim mikro di dalam Green House, sehingga tanaman dapat tumbuh di setiap musim, baik itu sayuran maupun buah-buahan seperti melon," katanya.
Selain itu, biaya operasional untuk perawatan juga lebih murah. Sistem pertanian yang digunakan pria ini adalah siram tetes, di mana ada saluran air yang mengalir melalui selang pada masing-masing polibag.
Dalam waktu tertentu, selang kecil itu akan mengeluarkan tetesan air secara serentak pada tanaman di polibag. Sehingga dirinya tak perlu lagi mengeluarkan biaya perawatan siram seperti pada pertanian di sawah.
"Selain itu, inovasi bioteknologi ini bisa menanam sepanjang tahun dan bisa mengatur iklim mikro di dalam Green House. Sehingga bisa ditanam saat musim apa saja, bisa untuk sayuran ataupun buah-buahan seperti (melon) ini," ungkap dia.
Agrobisnis yang kini dikembangkan oleh Izhaq, tak lain bermuara dari kegelisahannya akan kondisi petani lokal yang kurang berkembang. Bahkan, kondisi para pemuda yang enggan menggunakan teknologi pertanian. Padahal, bisnis niaga tani ini cukup menjanjikan.
Izhaq menghabiskan anggaran sekitar Rp 200 juta untuk pembangunan greenhouse tersebut. Inovasi perdana ini di Probolinggo sudah melakukan panen melon berkali-kali. Pada panen pertamanya, berhasil mendapatkan 1,8 ton melon.
Kualitas buahnya masuk grade A dan B, dengan harga yang lebih mahal dibandingkan melon pasar karena kandungan serat dan gizinya yang lebih kaya dibandingkan melon sawah.
"Melom kami lebih mahal, karena kualitas dan kandungannya lebih bagus. Pasar kami menengah ke atas di kota-kota besar," kata dia.
Izhaq merupakan satu-satunya petani milenial yang sukses mengembangkan agrobisnis greenhouse di pekarangan rumahnya. Ia juga mampu beralih dari pola pertanian tradisional yang masih mengandalkan sawah dan obat-obatan sebagai sarana utama.
"Ini sangat inovatif. Terlebih lagi dilakukan oleh seorang anak muda. Semangat harus ditularkan pada anak-anak muda lainnya," jelas Gus dr. Mohammad Haris, Ketua HKTI Kabupaten Probolinggo.
Inovasi ini dapat dilakukan oleh masyarakat, terutama mereka yang tidak memiliki sawah. Dengan model greenhouse ini, seluruh masyarakat bisa menjadi petani hanya dengan mengandalkan pekarangan rumah mereka sebagai ladang sawah.
Selain itu, anggaran untuk menanam menggunakan sistem hidroponik ini bisa lebih murah dan ramah lingkungan. Biaya untuk obat pertanian dapat berkurang hingga 80 persen dibandingkan dengan menanam di sawah.
Kecanggihan teknologi yang diterapkan juga mampu mengurangi biaya operasional upah pekerja atau buruh tani, karena alat yang digunakan sudah cukup mewakili kerja tanam petani.
"Ini memberikan peluang yang sangat baik, terutama dari segi kesehatan karena penggunaan pestisida sangat minim, jika ada pun hanya sekitar 20 persen dari penggunaan normal," kata Gus Haris.
Sistem ini juga dinilai efisien karena sebagian besar prosesnya otomatis, termasuk sistem penyiraman yang terhubung langsung ke pipa, memungkinkan penyiraman tanaman secara berkala.
Menurut Gus Haris, hasil dari budidaya Green House lebih unggul dibandingkan dengan metode konvensional. "Melon yang dihasilkan lebih sehat, dengan daging buah yang tebal dan rasa yang manis," jelasnya.
Gus Haris berharap inovasi ini dapat diperluas di Kabupaten Probolinggo. Sejauh ini, budidaya melon ala Green House di Desa Sogaan merupakan yang pertama di daerah tersebut.
"Harus dikampanyekan terus agar banyak petani serupa yang bermunculan. Sehingga nanti bisa membantu meningkatkan ekonomi keluarga dan daerah," pungkasnya. (*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Ryan Haryanto |
Publisher | : Sholihin Nur |