Peristiwa Daerah

Program Kampung Keluarga Berkualitas di Banyuwangi Jadi Percontohan Internasional

Kamis, 16 Mei 2024 - 06:00 | 14.86k
Sesi Global Discussion Ambassador Goes to Kampung Keluarga Berkualitas. (Foto : Anggara Cahya/TIMES Indonesia)
Sesi Global Discussion Ambassador Goes to Kampung Keluarga Berkualitas. (Foto : Anggara Cahya/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Badan Kependudukan keluarga berencana Nasional (BKKBN) mengadakan Ambassador Goes To Kampung Keluarga Berkualitas di Banyuwangi hingga menjadi contoh bagi internasional.

Sebelumnya, 17 delegasi dari 12 negara dan organisasi internasional mengunjungi Kampung Keluarga Berkualitas Banyuwangi di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, untuk mempelajari program keluarga berencana, kependudukan hingga pembangunan keluarga yang ada di tempat tersebut.

Pelaksana Tugas (PLT) Deputi Penelitian Pelatihan dan Pengembangan BKKBN RI, Irma Ardiana menerangkan pada awak media, apabila sebelum ditransformasikan program Kampung Keluarga Berkualitas ini mulanya bernama Kampung Keluarga Berencana, yang diinisiasi oleh presiden Jokowi pada tahun 2016.

Selain itu, Irma juga menjelaskan, pada saat wawancara di sesi Global Discussion yang digelar pada, Rabu (15/5/2024), dari hasil evaluasi kegiatan sebelumnya yaitu kunjungan pada kampung keluarga berkualitas. Ternyata kegiatan itu tidak hanya bisa fokus pada Keluarga Berencana, utamanya pada pasangan usia subur saja, namun juga harus terdapat unsur kebijakan yang inklusif atau adanya intervensi dari seluruh tahapan perkembangan manusia, mulai dari natalitas sampai dengan mortalitas.

“Mulai dari manusia ada dalam kandungan, ibu hamil, sampai pada manusia di tahapan usia lanjut. Itu konteksnya adalah kampung keluarga berkualitas,” jelas Irma.

Sementara itu, di kesempatan yang sama, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Banyuwangi, Dwi Yanto menuturkan, jika kampung keluarga berkualitas intinya ada pada empat variabel. Yakni,  berkualitas untuk usia lanjut, berkualitas untuk perempuan orang tua, berkualitas untuk anak-anak remaja, dan berkualitas untuk balita.

Mengenai hasil yang diraih Pemerintah Banyuwangi, menurut Dwi, saat ini pemerintah punya pelatihan untuk bisa mengasah hidup mandiri bagi para lansia. Lalu dalam hal pemberdayaan perempuan, adanya treatment melalui pelatihan-pelatihan berwirausaha. 

“Ini sudah dibuktikan adanya hasil dari olahan di Desa Jambewangi itu sendiri. Sedangkan remaja, melalui sosialisasi  dan yang paling penting adalah treatment untuk keberlanjutan pendidikan,” tambahnya.

“Dengan program itulah para remaja tertunda untuk bisa melakukan pernikahan dini,” imbuh Dwi.

Untuk balita, lanjut Dwi, di kampung keluarga berkualitas yang berada di Desa Jambewangi itu, masih lestarinya permainan tradisional sebagai bentuk stimulasi perkembangan anak. Lebih jauh, di kampung tersebut ada cara unik masyarakat sekitar yang menggunakan kendil sebagai pengawet ASI.

“Ide itu muncul ketika di daerah pegunungan yang tidak memiliki kulkas. Metodenya, dengan cara meletakkan bejana, di bawah kendil ada airnya,” ujarnya.

“ASI-nya ditutup, disimpan, maka insyaallah bertahan sampai 4 jam. Itu akan diuji secara lab, kalau itu memang benar maka itu akan direplikasi seluruhnya,” tandas Dwi.

Sebagai tambahan, 12 negara yang hadir di antaranya, Dubes Rumania Dan Adrian Balanescu, Dubes Thailand Prapan Disyatat, Utusan Khusus Seychelles to ASEAN Nico Barito, Charge D'affairs of the Embassy of Zimbabwe Viola Matongorere. Juga hadir perwakilan delegasi dari Kenya, Finland, United Arab emirates, Kanada, Australia, Singapura, dan Malaysia.

Selain dari organisasi internasional, hadir di Banyuwangi  yakni Kepala Deputi WHO Indonesia Momoe Takeuchi, Director Program Office US Agency for International Development Monica Pons, dan Representative UNFPA Verania Andria. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hendarmono Al Sidarto
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES