Peristiwa Daerah Info Haji 2024

Didampingi Suami yang Sakit Stroke, Penjual Kerupuk Renteng di Probolinggo Berangkat Haji

Minggu, 26 Mei 2024 - 14:59 | 63.31k
Nur Hasanah (49). (Foto: Diolah TIMES Indonesia)
Nur Hasanah (49). (Foto: Diolah TIMES Indonesia)
FOKUS

Info Haji 2024

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Nur Hasanah (49), seorang pedagang kerupuk di Pasar Wonoasih, Kota Probolinggo, Jawa Timur, tidak menyangka akan mendapat panggilan untuk berangkat haji ke Tanah Suci. 

Dengan dibantu suaminya yang saat ini sudah tidak bekerja karena sakit stroke, Nur Hasanah menjalani hari-harinya dengan berjualan kerupuk renteng di pasar mulai jam 3 dini hari sampai jam setengah 10 pagi.

“Alhamdulillah barokah, dibantu suami saya bertani saat itu. Kalau sekarang suami sudah tidak kerja lagi karena sakit stroke,” ujarnya, Sabtu (24/5/2024).

Meskipun pendapatan sebagai pedagang kerupuk tidak tentu, Nur Hasanah tetap semangat dan bersyukur karena kini bisa mempekerjakan orang untuk membantu dalam proses pembuatan kerupuk.

“Alhamdulillah kini saya bisa mempekerjakan orang untuk membantu saya menggoreng dan membungkus kerupuk,” jelasnya.

Ia mengaku jika kerupuk yang dijualnya dibuat, digoreng, dan dikemas sendiri, sementara bahan baku kerupuk mentahnya didapatkan dari Sidoarjo.

Nur Hasanah, yang bergabung dalam kloter 43 asal Probolinggo, harus berjuang dengan kondisi fisiknya yang agak tertatih-tatih dan pincang akibat saraf terjepit.

Meski harus berjalan dengan bantuan, ia tetap semangat untuk berangkat haji. Meskipun disarankan untuk menjalani operasi oleh dokternya, Nur Hasanah tetap memilih menunda operasi demi mewujudkan impian berhaji bersama suaminya.

“Saya disarankan dokter untuk melakukan operasi tetapi saya menolak karena mau berangkat haji,” ucap Nur Hasanah, dilansir dari laman resmi Kemenag Jatim.

Nur Hasanah mengenang awal mula ia dan suaminya mendaftar haji pada tahun 2011, saat itu uang mereka belum cukup.

Dengan bantuan dari BMT Syariah, Nur Hasanah berhasil mendapatkan dana talangan haji dan melunasi hutangnya dalam waktu satu tahun. Sambil menunggu masa keberangkatannya, ia rutin menabung di BMT setiap hari.

“Saat itu, saya punya uang sebelas juta, kurang 14 juta, saya pun pinjam ke BMT. Dalam waktu satu tahun, saya bisa melunasi hutang saya di BMT,” jelasnya.

Setiap harinya, ia menabung mulai dari Rp5 ribu hingga Rp10 ribu, dan saat hari libur, ia menabung untuk jatah dua hari.

Meskipun awalnya direncanakan untuk berangkat bertiga dengan suami dan ibunya, takdir berkata lain karena sang ibu telah meninggal dunia. 

Dengan berangkat ke Tanah Suci, ia berjanji akan memanjatkan doa terbaik untuk ibunya serta untuk kesembuhan dirinya dan suaminya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ryan Haryanto
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES