Peristiwa Daerah

Komitmen Katalisator Pemprov Jatim, Lia Istifhama Sebut Korporasi Tani Bentuk Penguat Contract Farming

Kamis, 30 Mei 2024 - 17:02 | 47.37k
Dr. Lia Istifhama.
Dr. Lia Istifhama.

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Ingat Istilah Katalisator Pemprov Jatim? Sebuah kalimat yang pernah disebut oleh calon senator perempuan asal Jawa Timur sebagai visi besarnya maju dalam kancah perpolitikan. Adalah Dr. Lia Istifhama, MEI., atau yang dikenal dengan sebutan Ning Lia jilbab ijo ketika masa kampanye pemilu 2024.

Dan kini, ia pun menununjukkan bahwa proses tak mengkhianati hasil. Meraih suara 2.739.123, keponakan Khofifah Indar Parawansa itu pun sukses menjadi anggota DPD RI Terpilih Jawa Timur, bahkan menjadikannya posisi tertinggi nasional dalam kategori perempuan non petahana.

Meski belum terlantik, Ning Lia ternyata mampu menunjukkan komitmennya mengaplikasikan visi katalisator Pemprov Jatim.

“Bagi yang mengikuti saya selama menunjukkan keterbukaan rekam jejak sebagai calon utusan daerah, pasti ingat dengan komitmen saya menampilkan visi besar Peran Cantik sebagai Katalisator Pemprov Jatim,” papar Ning Lia (30/5/24).

Ia menjelaskan secara detail bahwa visi itu tak lepas dari mimpi besarnya menunjukkan peran positif politik.

“Kita harus sadar, bahwa kita tidak mungkin bermimpi menjadi pribadi yang mampu berbuat kemaslahatan tanpa bersinergi dengan pemimpin di mana berpijak. Sedangkan, sebagai warga negara yang baik, kita harus selaras dengan ulil ’amri, jadikan mereka sebagai uswatun hasanah atau teladan. Jika ada yang salah, patut diluruskan, tapi jangan dilemahkan,” tegasnya.

Tak mau jadi janji palsu, Doktoral Ekonomi Islam UINSA tersebut pun kini getol mendukung program Korporasi Tani Pemprov Jatim.

Seperti diketahui, Pemprov Jawa Timur melalui Pj Gubernur Jatim, Adhy Karyono telah meluncurkan program Korporasi Tani pada 14/5/2024 lalu. Waktu itu, Adhy Karyono memaparkan program penguatan kelembagaan petani melalui Korporasi Petani merupakan salah satu langkah untuk menjalankan Proyek Prioritas Strategis 4 RPJMN 2020-2024.

"Pada High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) 20 Oktober 2023, secara resmi Korporasi Petani menjadi salah satu langkah strategis TPID Jatim guna memperkuat ketahanan pangan dan pengendalian inflasi. Ketersediaan pasokan beras di Korporasi Petani dapat dimanfaatkan oleh TPID untuk menyeimbangkan surplus-defisit kebutuhan beras antar daerah. Maka dari itu Korporasi Petani perlu bekerjasama intraprovinsi dengan BUMD untuk memastikan ketersediaan pasokan di Jatim telah terpenuhi dengan harga terjangkau,” terangnya.

Gebrakan tersebut ternyata direspon sangat positif oleh Lia Istifhama. 

"Sangat solutif apa yang disajikan Pemprov Jatim melalui korporasi tani demi menguatkan eksistensi Jatim sebagai lumbung pangan dan sekaligus menyelesaikan masalah yang muncul di lapangan. Melalui efektivitas kerjasama intraprovinsi dalam ketersediaan pasokan dengan harga terjangkau, yang tentu tetap menjaga kualitas, maka bukan hanya Jatim sedang berikhtiar mengendalikan inflasi, tapi juga menguatkan food estate dan contract farming,” jelasnya.

Demi menguatkan dukungannya atas Korporasi Tani sebagai bagian dari katalisator Pemprov Jatim, Ning Lia pun menjelaskan keterkaitan detail food estate dan contract farming.

“Food estate dan contract farming, seperti kita ketahui merupakan program Top down, yang mana ini konsep nasional untuk mengatasi kerawanan pangan,”

“Food Estate merupakan salah satu kebijakan pemerintah Indonesia yang dirancang dengan konsep pengembangan pangan secara terintegrasi, dan menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional 2020-2024 yang digagas oleh Presiden Jokowi. Sedangkan contract farming lebih menekankan pada kemitraan antara petani sebagai produsen dengan pembeli. Dua hal besar ini tentu akan mudah realisasi dengan adanya bottom up korporasi tani di tingkat regional,”

Perempuan berparas ayu dan tinggi semampai tersebut juga menyampaikan keoptimisan bahwa Jatim akan menjadi pilot bagi propinsi lainnya.

“Kalau melihat cara Jawa Timur yang berusaha menguatkan pertanian dan menyelesaikan masalah melalui akarnya, maka sangat memungkinkan Jatim menjadi ‘jujugan’ propinsi lain untuk penguatan sektor agraris. Jatim bukan hanya lumbung pangan berbekal volume produksi padi tertinggi se-Indonesia beberapa tahun terakhir, bahkan terakhir mencapai 9,71 juta ton GKG atau 17,99% dari total produksi padi nasional, tapi juga pilot bagi propinsi lainnya,” ungkapnya.

Namun, politisi yang acapkali menggaungkan peran CANTIK itu tak menampik problem yang harus dikaji dan diselesaikan terkait penguatan sektor agraris.

“Problem utama adalah bagaimana eksistensi pertanian ada di pundak generasi penerus. Apakah generasi muda, seperti milenial dan genzy memiliki minat dan semangat mengolah lahan warisan negeri ataukah lebih condong sebagai kerja di sektor non pertanian hanya karena jaminan gaji bulanan yang lebih pasti dan lebih besar? Ini kan juga problem," jelasnya

“Nah karena regenerasi petani adalah keniscayaan, maka penting dilakukan upaya memantik semangat para petani muda. Dukungan pemerintah melalui modernisasi alsintan atau alat dan mesin pertanian, menjadi variable penarik minat atau preferensi generasi muda untuk menjadi petani," sambung Ning Lia.

Lebih lanjut ia pun menjelaskan pentingnya komparasi teknik pertanian dengan negara lain.

“Salah satu bentuk strategi progresif atau mengarah pada perbaikan, adalah mengkomparasikan teknik yang umum kita lakukan dengan negara lain. Sebagai contoh, mungkin kita bisa mengadopsi teknologi pertanian di Jepang yang dikenal sebagai salah satu negara yang banyak menghasilkan desa pertanian. Modernisasi  alsintan yang diterapkan disana mungkin bisa menjadi salah satu cara mempermudah proses pengolahan dan memperbanyak volume hasil pertanian," tegas Ning Lia.

Selain itu, Ketua Perempuan Tani HKTI Jatim itu pun menyinggung sistem Tanam Petik Olah Kemas Jual (TPOJK) yang digulirkan oleh Khofifah Indar Parawansa sewaktu menjabat Gubernur Jatim.

“Selain modernisasi alat produksi pertanian, skema tanam-petik-olah-kemas-jual yang selalu digaungkan oleh Pemprov Jatim, adalah skema yang efetif efisien karena mekanismenya utuh dari hulu ke hilir. Jadi bukan hanya bicara proses produksi, tapi pada end proses distribusinya saat diterima konsumen. Jika pengolahan baik, maka akan terjadi repeate order dimana masyarakat akan membeli ulang hasil tani negeri sendiri," ungkapnya

Di akhir, ia pun menekankan penguatan ilmu terapan di bidang pertanian.

“Ilmu terapan pertanian juga penting untuk selalu menjadi atensi dan perbaikan kualitas. Jika bicara teknologi atau modernisasi, maka bukan hanya alsintan, tapi jugha produk makanan. Misal, bagaimana jurusan teknologi pangan bisa terus berinovasi agar pangan yang sifatnya non-durable goods, menjadi lebih durable goods atau tahan lama sehingga bisa terdistribusi bukan hanya perdagangan regional, tapi juga nasional.Kemudian untuk studi di tingkat SMA, maka penting sekali sekali SMK Pertanian. Tapi jangan sampai ini pilihan studi yang tidak bergengsi, namun ini harus menjadi studi bergengsi yang mana menjaring luas minat gen Z agar mau menempuhnya. Salah satu stimulusnya adalah prospek kerja yang nyata dan menjanjikan,” pungkas Ning Lia

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Irfan Anshori
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES