Peristiwa Daerah

Program Hapus Tato Gratis Munculkan Harapan Baru bagi Mereka yang Ingin Berubah

Senin, 10 Juni 2024 - 09:57 | 12.92k
Isrok, petugas penghapusan tato bersama warga yang  mengikuti program Penghapusan Tatto Gratis di Masjid Sadji, Kota Malang . (FOTO: Vivid Salsabila/TIMES Indonesia).
Isrok, petugas penghapusan tato bersama warga yang mengikuti program Penghapusan Tatto Gratis di Masjid Sadji, Kota Malang . (FOTO: Vivid Salsabila/TIMES Indonesia).

TIMESINDONESIA, MALANG – Program “Tattoo Removal Moment” kembali hadir di Malang, menawarkan kesempatan bagi masyarakat untuk menghapus tato mereka secara gratis. Kegiatan ini hadir di Masjid Sadji di Jalan Sarangan, Kota Malang, Minggu (9/6/2024).

Program yang dimulai sejak 2017, adalah inisiatif dari seorang dokter di Jakarta bersama seorang warga bermama Wangki. Gerakan ini bertujuan membantu mereka yang ingin menghapus tato tetapi terbatas oleh biaya. 

Peppy Salsabila, salah satu panitia acara, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat agar saling membantu dan memberikan manfaat bagi yang membutuhkan.

“Program ini mencakup sesi berbagi cerita dan untuk menghapus tato, peserta harus menyetorkan hafalan minimal lima ayat dari surat Ar-Rahman. Kami juga menyediakan tahsin untuk belajar membaca Al-Qur'an dari awal," jelas Peppy.

Program ini berlangsung dengan dukungan berbagai lembaga di setiap daerah.

"Di Jawa Tengah, kami bekerja sama dengan Teras Dakwah dan Rumah Zakat di Semarang, di Surabaya dengan Better Youth, dan di Maluku dengan Masyarakat Tanpa Riba," tambah Peppy.

Setelah acara di Malang, program ini akan berlanjut ke Batam. Dana untuk program ini berasal dari berbagai sumber, termasuk donatur, penjualan merchandise, serta iuran dari panitia dan peserta.

H. Muhammad Ichsan, salah satu peserta, menceritakan bahwa ia mulai bertato pada tahun 1985 saat berusia 27 tahun. "Dulu saya nakal. Saat itu, saya dan teman-teman minum-minum dan memutuskan untuk bertato karena menganggap tato sebagai seni yang diabadikan di tubuh. Saat masih remaja, saya pikir itu keren dan merasa seperti jagoan," kenangnya.

"Pada saat bertato, saya merasa jantan dan keren. Salah satu tato saya adalah nama istri saya, Juariyah. Saat ditato, istri saya menemani dan memegang tangan saya, membuat saya merasa ini adalah bukti cinta kepada istri saya," lanjutnya.

Namun, saat mendapat panggilan haji pada tahun 2001, pandangannya berubah. "Guru saya menanyakan tentang tato saya dan mengingatkan bahwa kita dilahirkan bersih tanpa noda. Hal itu membuat saya berpikir bahwa saya harus kembali dalam keadaan bersih," katanya.

Meskipun sudah berniat sejak 2001, biaya yang tinggi menjadi penghalang. “Biaya untuk menghapus dua tato saya yang cukup besar mencapai 25 juta rupiah. Ketika mengetahui adanya program ini, saya langsung mendaftar,” ujar Ichsan.

Ia merasa bangga setelah menghapus tatonya dan berpendapat bahwa proses menghapus tato dengan anestesi lebih tidak sakit dibandingkan saat membuatnya dulu.

Cerita lain diungkapkan Apriliya Safitri, seorang mantan model. Ia memutuskan untuk bertato pada tahun 2011 karena dorongan dari lingkungan. “Dulu teman-teman model saya banyak yang bertato, jadi saya ikut. Saya pikir tato akan hilang sendiri, tapi ternyata tidak,” katanya.

Alasan Apriliya untuk menghapus tato lebih sederhana. “Saya hanya ingin saja. Awalnya merasa keren, tapi lama-kelamaan, setelah mengetahui tato tidak bisa hilang dengan sendirinya, saya menyesal dan ingin menghapusnya,” akunya.

Setelah mengetahui adanya program gratis ini di Malang, ia segera ikut serta. “Dulu saya pernah ke dokter sekali, tetapi setelah tahu ada info tentang program hapus tato gratis di Malang, saya ikut program ini dan sekarang tato saya hampir hilang,” tambahnya.

Apriliya juga berpendapat bahwa proses menghapus tato lebih sakit daripada saat membuatnya, karena metode penghapusan tato dengan laser membuat kulit terasa terbakar.

Peppy Salsabila menyatakan harapannya agar program ini terus memberikan manfaat. "Kami berharap bisa membantu lebih banyak orang di daerah lain," ujarnya.

Dengan program yang telah menjangkau 32 daerah di Indonesia, "Tattoo Removal Moment" menjadi bukti nyata upaya kolektif dalam memberdayakan masyarakat dan memberikan kesempatan kedua bagi pemilik tato yang ingin berubah. (*)

 

Pewarta: Vivid Salsabila

 

 

 

 

 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES