Peristiwa Daerah

Kisah Harjoko dan Endang, ODDP yang Pulih Berkat Program Pusat Rehabilitasi YAKKUM

Jumat, 28 Juni 2024 - 23:22 | 13.12k
ODDP bernama Endang berhasil pulih dan bisa hidup mandiri setelah mendapatkan pendampingan dari Pusat Rehabilitasi YAKKUM. (Foto: Rahadian/ TIMES Indonesia)
ODDP bernama Endang berhasil pulih dan bisa hidup mandiri setelah mendapatkan pendampingan dari Pusat Rehabilitasi YAKKUM. (Foto: Rahadian/ TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, SLEMAN – Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menyebutkan, prevelensi rumah tangga yang memiliki anggota rumah tangga dengan gangguan jiwa psikosis/skizofrenia di Provinsi DI Yogyakarta sebanyak 4.957 orang. 

Sedangkan, prevalensi yang mengalami depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun di Provinsi DI Yogyakarta menurut data SKI 2023 berjumlah sebanyak 8.827 orang.

Dari data tersebut, diketahui bahwa kesehatan jiwa menjadi isu penting yang belum dapat sepenuhnya diselesaikan. Persoalan kesehatan jiwa hanya bisa ditangani secara bersama-sama oleh berbagai pihak. 

Untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut, Pusat Rehabilitasi YAKKUM menginisiasi program kesehatan jiwa berbasis masyarakat. Program rintisan yang berlangsung sejak 2017 ini ditujukan bagi Orang dengan Disabilitas Psikososial (ODDP) di tiga wilayah yaitu Sleman, Kulon Progo, dan Gunungkidul.

Dua warga ODDP di Sleman bernama Endang dan Harjoko merupakan dua ODDP dari sekian banyak ODDP yang kini bisa pulih setelah mendapat pendampingan dari program yang digagas Pusat Rehabilitasi YAKKUM.

Ditemui di rumahnya, di Dusun Cibuk Lor, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Harjoko tampak sedang memberi makan entog peliharaannya. Harjoko atau yang akrab disapa Joko mengalami gangguan jiwa psikosis/skizofrenia sejak 1995. 

"Awalnya saya jadi ODDP tahun 1995 waktu di Palembang. Saya putus sekolah, kemudian menyusul bapak saya ke Palembang. Tapi, sama bapak malah ditinggal ke Jawa, akhirnya saya hidup sendiri. Awalnya tidak terasa, tahu-tahu saya tidak sadar selama beberapa bulan, dan sempat dirawat di RSJ Palembang," katanya, Kamis (27/6/2024) 

Selama kurun waktu 1995 hingga 2021, penyakit yang dia derita telah kambuh sebanyak tiga kali. Namun, berkat adanya program pendampingan dari Pusat Rehabilitasi Yakkum selama tiga tahun sejak 2021, ia sudah berhasil pulih. 

"Setelah mendapat pendampingan dari Yakkum saya lebih termotivasi untuk sembuh. Saya bisa beraktivitas sehari-hari seperti biasa. Bantu-bantu di sawah, berternak entog, ikut kegiatan di RT dan juga dusun," kata pria berusia berusia 49 tahun ini. 

Hal yang sama juga dirasakan Endang. Wanita berusia 53 tahun ini mengaku senang, karena berkat pendampingan dari Pusat Rehabilitasi YAKKUM, dirinya bisa pulih.

"Saya sudah mengikuti pendampingan dari Yakkum sekitar sepuluh bulan. Senang sekali, bisa ikut banyak kegiatan, punya banyak teman, diajari ketrampilan, berternak dan berkebun," kata Endang.

Endang mengaku sudah mengalami depresi sejak 1992. Ia pun sudah berobat ke beberapa rumah sakit secara mandiri hingga 2023. Namun, depresi yang dialaminya kembali kambuh, setelah sempat berhenti mengonsumsi obat selama enam tahun.

"Ketika depresi saya nggak bisa tidur, bisa sampai seminggu nggak tidur. Tapi sekarang sudah tidak lagi, setelah minum obat secara rutin dan juga mendapat pendampingan dari YAKKUM," katanya.

Sama seperti Joko, Endang kini sudah bisa beraktivitas sehari-hari secara normal dan aktif  berkegiatan sosial di dusunnya. Selain itu, kini Endang juga mengisi waktu luangnya untuk memelihara kambing dan ayam.

Comunity Organizer (CO) atau pendamping lapangan dari Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Bena Handi Sadewa mengatakan dalam program fase pertama, awalnya ODDP dibantu supaya bisa mengakses fasilitasi kesehatan setempat. Selanjutnya, ODDP mendapatkan pendampingan dan edukasi mengenai pentingnya minum obat, cara mengontrol diri, emosi dan perasaan. 

Setelah pascapemulihan ODDP didorong agar bisa melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. ODDP juga didorong agar aktif di kegiatan sosial masyarakat sekitar.

"Untuk melatih ODDP agar bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat kembali, para ODDP dampingan YAKKUM kami libatkan dalam kegiatan Self Health Group (SHG) dan kegiatan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)," jelasnya. 

ODDP dampingan YAKKUM, lanjut Bena, juga mendapat pembekalan ketrampilan sesuai dengan minat masing-masing, supaya bisa hidup mandiri.

"Misalnya Pak Harjoko dan Bu Endang, selain mendapat pendampingan, juga dapat bantuan hewan ternak. Harapannya, mereka mempunyai aktivitas, bisa mandiri dan menghasilkan sesuatu untuk membantu perekonomian keluarga," kata Benda.

Sementara itu, Kepala Bagian Skeretaris Informasi dan Komunikasi (Infokom) Pusat Rehabilitas YAKKUM, Birgitta Anggre Hapsari menuturkan Pusat Rehabilitasi YAKKUM sudah melakukan pelayanan terhadap penyandang disabilitas sejak 1982.

Kemudian, pada 2017 Pusat Rehabilitasi YAKKUM baru mengembangkan program pelayanan kesehatan jiwa. 

Program pelayanan kesehatan jiwa ini menitikberatkan pada layanan multi unsur. Selain melakukan pendekatan sosial, pihaknya juga memastikan adanya kebijakan yang lebih berpihak terhadap isu kesehatan jiwa.

Program kesehatan jiwa berbasis masyarakat yang diinisiasi Pusat Rehabilitasi YAKKUM ini memberikan pendampingan kepada ODDP agar dapat meningkatkan kualitas hidup dan terintegrasi dalam sistem di masyarakat.

"Wilayah yang kami layani ada di tiga kabupaten. Yang pertama Sleman, Gunung Kidul dan juga di Kulon Progo, berkolaborasi dengan 21 desa dan juga berkolaborasi dengan pemerintah kecamatan," pungkasnya.

Anggre menjelaskan, di 21 desa tersebut Pusat Rehabilitasi YAKKUM bekerja sama dengan desa, kader, dan puskesmas memfasilitasi Kelompok Swabantu sebagai wadah untuk mengelola diri dan melatih komunikasi bagi orang dengan disabilitas psikososial dan keluarga. 

Kegiatan tersebut, lanjut Anggre, bertujuan untuk mendukung orang dengan disabilitas psikososial dan pendamping dalam meningkatkan pentingnya dukungan sosial serta memotivasi keluarga serta masyarakat dalam peningkatan perawatan intensif bagi ODDP. 

"Dalam Kelompok Swabantu ini tentu yang menjadi aktor utamanya adalah teman-teman disabilitas psikososial dan pendamping, tetapi juga ada peran kader desa sebagai mitra utama kami," ungkapnya.

Para kader kesehatan jiwa dan pemerintah desa akan menjadi ujung tombak keberlanjutan Kelompok Swabantu yang di 21 desa tersebut. Sehingga, harapannya ke depan penganggaran desa tidak hanya berpaku kepada pembangunan infrastruktur, tetapi juga program-program yang lebih menitikberatkan pemberdayaan.

"Kami sangat berharap modelling yang sudah kami bangun di 21 desa ini nantinya dapat direplikasi atau menjadi acuan bagi desa lain di Yogyakarta. Tentunya dengan dukungan pemerintah di tingkat kabupaten dan provinsi," imbuhnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES