Peristiwa Daerah

Siti Aisyah, Pemilah Sampah yang Rumahnya Direnovasi Total Warga Shiddiqiyah Malang

Selasa, 02 Juli 2024 - 18:09 | 72.47k
Warga dan simpatisan dari Shiddiqiyah Kabupaten Malang bersama-sama membangun rumah tak layak huni milik Siti Aisyah di Desa Kedungpedaringan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Selasa (2/7/2024). (Foto Amin/TIMES Indonesia)
Warga dan simpatisan dari Shiddiqiyah Kabupaten Malang bersama-sama membangun rumah tak layak huni milik Siti Aisyah di Desa Kedungpedaringan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Selasa (2/7/2024). (Foto Amin/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Puluhan orang tampak bergotong royong membantu kegiatan renovasi rumah tak layak huni milik Siti Aisyah (50), warga RT 11/RW 02 Desa Kedungpedaringan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Selasa (2/7/2024). 

Rumah Siti, perempuan janda yang ditinggal mendiang suaminya sejak 2017 silam, kini dibangun lebih layak, dengan kerangka atap galvalum dan dinding dari bata. Pengerjaannya, dilakukan bersama-sama oleh relawan pekerja, yang merupakan simpatisan dan warga Shiddiqiyah Kabupaten Malang. 

Megi Purwanto, salah seorang pengurus Shiddiqiyah Kabupaten Malang yang juga ikut membantu renovasi mengungkapkan, kegiatan membangun rumah tak layak huni ini merupakan wujud program Rumah Syukur Shiddiqiyah. 

"Kami bantu memperbaiki rumah tak layak huni, supaya lebih layak untuk ditinggali. Ini wujud kepedulian Shiddiqiyah pada sesama, tidak melihat dari agama dan golongan mana," terang Megi, ditemui di sela perbaikan rumah Bu Siti, Selasa (2/7/2024) siang. 

Dikatakan, kegiatan membangun rumah tak layak huni dalam Rumah Syukur Shiddiqiyah ini dilakukan rutin tiap tahun. Di tahun ini, lanjutnya, setidak lima rumah tak layak huni yang dibantu renovasinya. Selain di Kepanjen, juga ada di Desa Sawahan Dampit, di kecamatan Ngantang, Wonosari, Pagak dan Turen.

Siti-Aisyah-a.jpgSiti Aisyah, perempuan bertatus janda yang tiap hari menggantungkan hidup dari memilah sampah plastik. (Foto: Amin/TIMES Indonesia) 

Sementara itu, koordinator panitia pembangunan, Zainul mengungkapkan, pembangunan rumah perempuan janda ini dimulai peletakan batu pertama, pada 27 Juni 2024 lalu. 

"Rencananya kami bangun sampai tuntas, yang benar-benar layak ditempati. Bahan material dan relawan pekerjanya semuanya swadaya, dari iuaran warga Shiddiqiyah. Kebutuhan biayanya perkiraan Rp 83 juta, bisa sampai Rp 100 juta lebih," terangnya. 

Jika dibutuhkan, lanjutnya, kebutuhan untuk jaringan listrik juga akan diupayakan dari bantuan bersama warga Shiddiqiyah. 

Ditetapkannya rumah Siti untuk dibangun ini, menurutnya melalui proses survei sampai tiga kali. 

"Ketika survei, ada beberapa rumah tak layak huni yang kami lihat. Karena paling membutuhkan dan memenuhi syarat kepemilikan tanah sendiri, maka rumah Bu Siti ini yang kami bantu," kata Zainul. 

Kepada TIMES Indonesia, Siti Aisyah, mengaku sehari-hari tinggal dengan seorang anak semenjak berstatus janda sejak 2017 lalu. Rumah kecil yang didiaminya, kata Siti, sebelumnya mengalami bocor dan hanya berdinding semi permanen dari papan kalsiboard. 

"Ya kondisinya begitu adanya, tak layak untuk diceritakan, mas. Ada satu kamar kecil dan dapur, dengan dinding anyaman bambu. Pintunya ala kadarnya. Tidak punya kamar mandi, hanya WC, itu juga bantuan pemerintah," kata Siti Aisyah. 

Dibantu satu anaknya, Siti harus menggantungkan nasib sebagai pemilah sampah botol plastik, yang berada di sebidang tanah di belakang rumahnya. 

"Dalam seminggu mendapatkan upah Rp 100 ribu, kalau ramai dan milahnya bisa cepat bisa mendapatkan Rp 150 ribu. Dalam sehari rata-tata yang didapat ya Rp 25 ribu," ungkapnya. 

Siti Aisyah sangat bersyukur dan berterima kasih, ada pihak yang sangat peduli membantu untuk kelayakanan rumah tempat tinggal satu-satunya. (*) 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hendarmono Al Sidarto
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES