Peristiwa Daerah

Pengalaman Tradisi: Upacara Mantenan Kopi “Sri Gondel-Joko Gondol” di Perkebunan Kopi Kawisari

Kamis, 04 Juli 2024 - 16:41 | 21.80k
Ritual petik kopi yang sudah ada sejak 1870. (FOTO: AJP TIMES Indonesia)
Ritual petik kopi yang sudah ada sejak 1870. (FOTO: AJP TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Di tanah Jawa yang kaya akan tradisi kuno, ritual-ritual berusia ratusan tahun diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Upacara-upacara ini, penuh dengan kepercayaan spiritual Timur, semakin sulit ditemukan di kota-kota modern. 

Di Perkebunan Kopi Kawisari seluas 900 hektar, perkebunan kopi tertua di Jawa Timur, para pengunjung akan menyaksikan ritual-ritual tradisional yang menjadi dasar kehidupan masyarakat desa di lereng Gunung Kelud.

Sabtu Pahing (29 Juli 2024) Joko Gondel, sang mempelai pria dan Sri Gondel, mempelai wanita digendong meriah menuju ke pelaminan untuk melangsungkan ijab kabul.

Sepasang kembar mayang yang dipegang oleh dua pria ikut menyemarakkan perarakan. Setibanya di pintu gerbang gedung, mereka disambut oleh sepasang kembar mayang lainnya yang diusung oleh dua pasang wanita cantik belia. Pertemuan kedua pasang kembar mayang yang saling ditempelkan dan saling tukar menukar kembar mayang diantara mereka diyakini sebagai perkawinan yang terjadi diantara ke dua mempelai tersebut.

Waktu hampir tiba untuk panen kopi yang dinanti.  Joko Gondel dan pengantinnya, Sri Gondel, akan diarak dalam parade meriah menuju altar. Sepasang rangkaian bunga tradisional Jawa yang disebut Kembar Mayang dipegang oleh 2 pasang “Perjaka & Gadis”, akan menghiasi prosesi. Saat tiba di gerbang bangunan, mereka akan disambut oleh sepasang Kembar Mayang lainnya yang dibawa oleh dua wanita muda. Pertemuan dan pertukaran Kembar Mayang ini menandakan pernikahan antara pengantin pria dan wanita.

Mantenan-Kopi.jpg

Joko Gondel dan Sri Gondel bukanlah sosok nyata. Mereka adalah tokoh penting dalam ritual petik kopi yang sudah ada sejak 1870. Mereka adalah buah kopi unggulan dari Perkebunan Kopi Kawisari dan Sengon.  Diyakini bahwa buah dari perkebunan ini terbentuk dari pernikahan antara Sri Gondel dan Joko Gondel, melambangkan pembuahan antara putik dan benang sari (Sri = perempuan, Joko = laki-laki).

Melambangkan hasil panen pertama, Joko Gondel dan Sri Gondel ditempatkan dalam guci kecil dan dibawa dalam kain batik. Mereka diserahkan kepada sesepuh perkebunan di tengah prosesi yang diawali oleh iring-iringan Anoman dan prajurit dengan tombak dan keris. Pengantin (Sri Gondel dan Joko Gondel yang dibawa oleh satu orang khusus) menyusul dalam upacara yang melibatkan Tari Petik Kopi dan Tari Pacul, diakhiri dengan tandu tumpeng dan hasil bumi Rojobrono, serta serangkaian 'selametan' dipimpin oleh pemuka agama. Prosesi ini mengisyaratkan rasa syukur atas panen yang melimpah serta harapan untuk keselamatan dan kesejahteraan semua warga perkebunan.

Sebelum panen kopi dimulai, ritual ini diawali dengan selamatan di beberapa punden (tempat yang dipercaya sebagai titk tempat roh suci pelindung berlokasi) yang ada dalam perkebunan. Tujuannya adalah agar prosesi acara panen kopi dapat berjalan dengan lancar dan selamat. Tanaman yang akan dipetik didoakan terlebih dahulu oleh pinesepuh/orang yang dituakan. Yakni dari seorang tokoh agama Islam dan seorang tokoh agama Hindu dengan menggunakan perpaduan antara Adat Kejawen (Adat Jawa) dan Hindu yang masih bertahan dalam era modern sekarang. Disamping itu, doa yang dipanjatkan memohon kepada Tuhan agar semua roh jahat tidak mengganggu dalam acara perkawinan, demi kelancaran dan keselamatan pengantin.

kawisari.jpg

Perkebunan Kopi Kawisari terletak di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut, sementara perkebunan Sengon berada di ketinggian sekitar 600-800 meter, di Kecamatan Wlingi, Blitar, Jawa Timur. Kedua perkebunan ini diapit oleh Gunung Kelud dan Gunung Kawi. Di perkebunan ini, benih kopi terbaik ditanam, dipetik secara manual, dan dipanggang dengan metode autentik dan tradisional. Perkebunan ini dikelola oleh warga lokal dari desa-desa sekitar yang kaya akan tradisi dan spiritualitas.

Warga setempat percaya bahwa perkebunan ini dilindungi oleh para dewa, dan dulunya adalah lokasi kerajaan Lembusuro dan Mahesosuro. Perkebunan ini juga dipercaya sebagai perhentian terakhir para raja dan pangeran sebelum mencapai tempat meditasi di Gunung Kawi yang sakral, di mana mereka membersihkan diri dari dosa duniawi sebelum menghadapi para dewa.

Kali ini, upacara selamatan diadakan di dua tempat berbeda, yaitu Perkebunan Arabika dan Robusta, memberikan pemandangan, suasana, dan pengalaman yang berbeda dari tahun sebelumnya. Para pengunjung akan menikmati kekayaan tradisi serta kesegaran hasil bumi lokal dalam rangkaian acara yang memukau ini.

Kegembiraan atas perkawinan antara Joko Gondel dan Sri Gondel yang telah berlangsung lancar dan selamat, tentu tidak hanya dirasakan oleh seluruh sesepuh dan warga perkebunan saja. Namun pasti juga membuat Joko Gondel dan Sri Gondel terkekeh riang dan saling memandang mesra untuk segera beranak pinak bagi pemanen selanjutnya.

Untuk informasi dan reservasi dapat langsung menghubungi Hotel Tugu Malang di (0341) 363 891, atau bisa juga melalui direct message ke akun Instagram @hoteltugu_malang, dan . serta melalui website www.tuguhotels.com

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES