Peristiwa Daerah

Pakar Maqashid Syariah Tegaskan MUI Pincang untuk Berfatwa

Jumat, 05 Juli 2024 - 19:23 | 35.44k
 Foto bersama DR KH Nasrullah Afandi usai memberikan materi dalam acara Hall Al-Masail V. (Foto: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)
Foto bersama DR KH Nasrullah Afandi usai memberikan materi dalam acara Hall Al-Masail V. (Foto: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang keharaman mengucapkan salam lintas agama di ruang publik Indonesia menuai pro kontra. Merespon hal itu, Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, menggelar forum kajian “Hall Al-Masail V”, di Auditorium Fakultas Syariah, Kamis (4/7/2024).

Acara tersebut dihadiri oleh para profesor, dan dosen muda Fakultas Syariah. Ada beberepa narasumber yang dihadirkan. Seperti Anggota FKUB Kota Malang Dr Muhammad Annas , M. Pil dan Pakar Maqashid syariah sekaligus Wakil ketua Komisi kerukunan antar ummat beragama MUI pusat Dr KH Nasrulloh Afandi, Lc, MA yang bertindak sebagai narasumber inti.

Dalam kesempatan tersebut, Dr KH Nasrulloh menyampaikan materi bertema: Fikih Salam lintas agama perspektif maqashid syariah. Pria yang akrab disapa Gus Nasrul sapaan itu memulai orasinya dalam kapasitasnya sebagai peneliti lepas maqashid syariah.

Ia menerangkan, jauh sebelum dirinya masuk jajaran pengurus MUI pusat, dalam disertasi doktornya di Universitas al-Qurawiyin dia mengkritik bahwa MUI tidak memenuhi syarat sebagai lembaga fatwa.

Hal itu tertuang dalam disertasinya yang berjudul: “al-fikrul al-Maqashidy Wa atsaruhu Fi fatawa al-Majami’ al-Fiqhiyyah Al-Mu’asyiroh,  dengan predikat Summa Cum laude (Universitas al-Qurawiyin Maroko, 2017).

"Apa yang dikeluarkan oleh MUI lebih tepat untuk disebut at-taujih,atau at-tauiyyah ad-diniyah," terangnya.

Gus Nasrul yang  juga salah satu ketua Pimpinan Pusat PERGUNU itu menjelentrehkan mengapa lebih tepat disebut tauiyyah ad-diniyah. Pertama Karena latar belakang berdirinya MUI syarat diwarnai kepentingan politik Orde Baru.

"Di antaranya pragmatisme untuk “merangkul” para cendikiawan, ulama, akademisi, ilmuwan, dalam  wadah dinamakan Majlis Ulama Indonesia, sebagai mana faktor lahirnya ICMI. Sedangkan dalam ushul fikih, syarat mutlak berdirinya lembaga fatwa adalah harus bebas dari kepentingan politik kekuasaan," terangnya.

Kedua, Para pakar ushul fikih modern, menegaskan, untuk kredibilitas dan autentisitas kualitas fatwa kolektif(Ijtihad jama’i) Perspekftif Ushul Fikih, diantara syaratnya lembaga fatwa adalah harus mustaqil(Independen) Tidak ada kaitan dengan pemerintah.

"Sebagaimana lembaga atau Haiah fatwa di berbagai negara. Sedangkan MUI tidak independen, hingga difasilitasi oleh negara, hal itu bisa mengurangi otoritas produk fatwa," imbuhnya.

Dua hal tersebut, yang menyebabkan MUI tidak memenuhi syarat sebagai lembaga Fatwa. Bahkan jika menyebut, dibandingkan dengan lembaga Bahtsul masail NU, pihaknya sebagai akademisi yang juga orang pesantren, lebih mengakui keunggulan hal-hal yang menjadi keputusan bahtsul masail NU, dibanding dengan produk fatwa MUI.

Gus Nasrul yang juga aktif dakwah di berbagai penjuru Indonesia itu juga memaparkan perbedaan posisi antara salam, “assalamulaikum” dan tutur sapa, yang menurutnya jelas jauh berbeda.

"Tutur sapa, atau sekedar basa –basi dalam interaksi sosial sehari-hari, seperti menyapa tetangga saat lewat depan rumah dan sejenisnnya, bebas dengan kosa kata dan apa saja, apapun agamanya, kita dianjurkan melakukannya. Sedangkan salam ummat Islam, dengan bentuk juga kosa kata ”assalamualaikum”, adalah shorih (jelas) Dalam Al-quran dan hadits. Ada aturan mainnya," jelasnya.

Dalam tinjaun maqashid syariah, lanjut Gus Nasrul, kalaupun kita menarik ke zona maslahah apa yang dihasilkan dari salam lintas agama (Mencampur salam dari berbagai agama),  maka salam lintas agama adalah hanya bagian kecil dari upaya untuk menerapkan maqoshid tachsiniyyah (lepantasan).

"Sekali lagi, itupun hanya bagian kecil dari kepantasan, tidak sampai pada taraf Chajjiyah(Kebutuhan pokok) dan sangat jauh dari zona Dhoruriyyah (Sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan)," terang alumnus pesantren Lirboyo Kediri itu.

Gus Nasrul pun menegaskan, sejumlah orang mengklaim bahwa salam lintas agama, adalah bagian dari upaya toleransi, menghormati agama lain, demi terciptanya kerukunan antar ummat beragama.

Hal itu, menurut Gus Nasrul,  dalam perspektif maqashidus syariah, adalah maslahah mutawahhamah (adanya kemaslahatan hanya sebatas berdasarkan asumsi). Karena realita di lapangan, kerukunan antar ummat beragama tetap terjaga sekian lama. Tidak akan ada mafsadah (Kerusakan) Meski tidak ada satupun  orang yang mencampur adukan salam lintas agama itu.

"Karena diplomasi sosial dengan perbedaan agama, sungguh sangat banyak bentuknya, tidak hanya dengan cara bentuk salam lintas agama," tuturnya.

Yang perlu ditekankan, saat melakukan salam lintas agama, dalam waktu yang bersamaan, nyata-nyata, terjadi mafsadah muhaqqoqoh (kerusakan yang terang benderang) akibat pencampuradukan salam semua agama. Kerusakan itu, minimalnya, hilangnya salah satu autentisitas identitas agama tertentu.

Pengasuh pesantren Balekambang Jepara Jateng itu melanjutkan, di konteks kajian maqashid, maslahah mutawahhamah jelas wajib dicampakkan. "Jadi, fenomena salam mencampur semua salam dari berbagai agama,  dominan al-maslahah al-mutawahaamah (Kemaslahatan sebatas asumsi) Maka sekali lagi, salam lintas agama adalah haram," katanya.

Karena bagi ummat Islam, mengucapkan salam, berupa” assalamualaikum,” adalah bagian dari berdoa memohon kebaikan pada Alloh, disertai adanya keyakinan terdapat kekuatan Dat Alloh swt satu-satunya sang pemberi kebaikan.

"Apakah dengan mengharamkan salam lintas agama, lantas Islam dituduh tidak moderat? Tidak toleran? Sama sekali tidak!," tegasnya.

Karena bahwa hampir semua kitab Maqashid syariah mengaskan, tak terkecuali babon ilmu maqashid syariah, kitab al-Muwafaqoth karya Imam asy-Syatiby sang lokomotif Ilmu maqashid.

Dapat disimpulkan, bahwa syariat Islam diturunkan untuk menjaga kemaslahatan para hamba, apapun agamanya, apapun sukunya, apapun adat tradisinya. Punya hak yang sama di hadapan syariat Islam. Sekali lagi, untuk kemaslahatan para hamba, bukan kemaslahatan agama, bukan kemaslahatan agama Islam, bukan kemaslahatan rukun Iman, bukan kemaslahat rukun Islam”. Selagi hal itu tidak menabrak ”tulang punggung” maqashid syariah.

Hal ini, yang dalam konteks negara Indonesia, terkandung dalam  sila ke lima, berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan pernah kami paparkan , dalam sebuah forum di IAIN Kudus, tahun lalu. “Pancasila perspektif Maqashid Syariah” pada 26 Mei 2023.

Oleh karenanya, dalam kehidupan interaksi sosial, kita  bisa membagi rumus maqashid syariah, itu menjadi empat:
Pertama: Maqshid Fard(Maqashid perorangan), Kedua : Maqashid Usyroh (Maqashid lingkup keluarga), Ketiga : Maqshid Mujtama(Maqashid lingkup masyarakat), dan Keempat: Maqashid Insaniyyah(Maqashid kemanusiaa).

"Yang kesemuanya bermuara pada kesetaraan, kesejahteraan, dan keadilan, kerukuan dan lainnya, demi terwujud kondusifnya kehidupan sosial," pungkasnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hendarmono Al Sidarto
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES