Peristiwa Daerah

Mengulik Kearifan Lokal Merti Desa, Desa Ngadiharjo, Borobudur Kabupaten Magelang

Sabtu, 24 Agustus 2024 - 22:11 | 78.55k
Salah satu kesenian yang sudah jarang dijumpai, mencoba untuk dilestarikan dengan ditampilkan dalam acara merti desa, desa Ngadiharjo, Borobudur. (FOTO: Catur Arif S /TIMES ndonesia)
Salah satu kesenian yang sudah jarang dijumpai, mencoba untuk dilestarikan dengan ditampilkan dalam acara merti desa, desa Ngadiharjo, Borobudur. (FOTO: Catur Arif S /TIMES ndonesia)
Kecil Besar

TIMESINDONESIA, MAGELANG – Magelang mempunyai banyak tradisi. Tradisi yang sudah ada sejak jaman nenek moyang adalah merti desa. Merti desa atau juga dikenal dengan sedekah bumi yaitu, sebuah tradisi budaya lokal  yang dilakukan oleh warga desa untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas karunia yang telah mereka terima.

Salah satu desa yang hingga kini masih rutin mengelar merti desa adalah Desa Ngadiharjo, Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Advertisement

Salah-satu-kesenian-2.jpg

Penampilan salah satu kesenian yang banyak memukai penonton yang menyaksikan. (FOTO: Catur Arif S / TIMES Indonesia)

Desa yang berada di sebelah barat Candi Borobudur ini, setiap tahun mengadakan merti desa sebagai ungkapan syukur atas apa yang telah mereka peroleh sekaligus doa dan harapan agar di masa mendatang, mereka memperoleh hal yang lebih baik dalam segala sisi kehidupan.

Merti desa biasanya dimulai dengan sebuah kirab budaya dan  dirangkaikan dengan kegiatan lain, yang diikuti dan dimeriahkan oleh para warga setempat.

Kepala desa, Desa Ngadiharjo Wahyu Sariyanto menjelaskan bahwa, merti desa yang digelar pada tahun ini sudah ada sejak lama. "Merti desa ini sudah ada sejak dulu, meski sempat vakum selama sekitar 20 tahun, dan mulai diadakan lagi sekitar tahun 2014, saat saya mulai menjabat Kades," terangnya pada Sabtu (23/8/2024) di sela-sala acara.

Merti Desa Ngadiharjo kali ini, menjadi satu rangkaian dengan peringatan HUT Ke-79 RI. "Biasanya kita mengadakan merti desa pada bulan Sapar, kebetulan kegiatan kali ini bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan, jadi acaranya kita buat menjadi satu rangkaian. Mulai hari Kamis, ada selamatan dan ziarah ke makam cikal bakal desa, di Kramat. Rangkaian acara merti desa ini akan berakhir pada hari Minggu, imbuh Wahyu.

Hal senada juga disampaikannya oleh Sekretaris Desa Ngadiharjo, Haidar Imama.  Haidar mengungkapkan jika merti desa ini, diramaikan oleh kirab budaya yang pesertanya berasal dari 12 dusun yang ada.

"Ada 6 kesenian, 22 kelompok kontingen dan sekitar 2.987 peserta yang meramaikan kirab budaya ini. Kelompok kesenian yang paling tua adalah, Topeng Kawedar dari dusun Bleder. Kirab ini dimulai dari, Balkondes Ngadiharjo - Sidengen - Kamertan - Karang - Genjahan - Karangtengah, dan kembali lagi ke Balkondes Ngadiharjo untuk memberikan kesempatan kepada para kelompok kesenian, untuk menunjukkan penampilannya. Sedangkan pada malamnya akan ada pagelaran wayang kulit," jelas Haidar.

"Pada hari Minggu, 25 Agustus, acara Saparan ini akan ditutup dengan sunatan massal, kemudian di malam harinya dilanjutkan pengajian akbar," pungkas Haidar. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES