Advertisement
Peristiwa Daerah

Filosofi Pakaian Adat Pacitan Jadi Simbol Kemenangan Aji-Gagarin di Pilkada 2024

Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Pacitan nomor urut dua, Indrata Nur Bayuaji dan Gagarin Sumrambah (Aji dan Gagarin), tampil mengenakan pakaian adat Pacitan saat de ...

TIMES Indonesia,
Filosofi Pakaian Adat Pacitan Jadi Simbol Kemenangan Aji-Gagarin di Pilkada 2024
Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji-Gagarin Sumrambah kompak mengenakan pakaian adat saat debat Pilkada 2024. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
A-AA+

PACITAN Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Pacitan nomor urut dua, Indrata Nur Bayuaji dan Gagarin Sumrambah (Aji dan Gagarin), tampil mengenakan pakaian adat Pacitan saat debat Pilkada 2024, Minggu (3/11/2024) malam. 

Calon bupati dan wakil bupati petahana itu tampak kompak mengenakan pakaian adat Pacitan dengan atasan warna putih dan blangkon warna hitam. Bukan hanya soal penampilan, pakaian adat ini ternyata punya makna filosofis tersendiri yang sangat mendalam. 

Advertisement

Menurut Ketua Tim Pemenangan Aji-Gagarin, Arif Setia Budi, pakaian adat ini adalah simbol dari filosofi yang kuat dalam menyatukan identitas masyarakat Pacitan.

“Budaya Jawa itu, dalam banyak hal, dipandang sebagai pusat peradaban. Lihat saja istilah kepemimpinan seperti Mangku Bumi, yang berarti pemimpin itu bagaikan penjaga bumi. Orang Jawa yang beradab adalah mereka yang bisa mengarahkan kehidupan ke arah yang maslahat,” jelas Arif.

Dalam budaya Jawa, sambung Arif, nilai kepemimpinan sudah tertanam kuat dan sarat filosofi. Ajaran seperti ‘Aja Adigang, Adigung, Adiguna’ misalnya, mengingatkan pemimpin untuk selalu rendah hati.

“Budaya ini adalah cerminan makro kosmos, dan kita sebagai orang Jawa adalah pelaku mikro kosmosnya. Makanya, kepemimpinan Jawa itu punya sisi spiritual, yang dalam konsep Sangkan Paran Dumadi berarti kembalinya kita ke asal,” ujar Arif.

Arif juga mengingatkan kembali ajaran Ki Hajar Dewantara yang sangat relevan dalam politik, yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha (di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah memberi semangat), dan Tut Wuri Handayani (dari belakang memberi dukungan). 

Advertisement

“Nilai-nilai ini adalah bukti bahwa politik dalam budaya Jawa itu ada,” tambahnya.

Menurut Arif, Pacitan sendiri punya kekuatan budaya dan spiritual yang kental. Daerah yang dulu disebut sebagai Wengker Kidul ini, lanjutnya, punya posisi geografis yang strategis bagi para pemimpin besar untuk bersemedi dan mencari ketenangan. 

“Banyak kisah folklore di Pacitan yang menunjukkan hal ini. Contohnya, ada legenda Sentono Genthong, masjid tiban di Nanggungan, semua itu menunjukkan bagaimana Pacitan punya aura spiritual,” paparnya.

Dorongan Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Pacitan

Selain mengangkat filosofi budaya, Aji-Gagarin juga berkomitmen untuk membangun Pacitan yang lebih kuat secara ekonomi. 

Calon Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji, menyatakan bahwa upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pasca pandemi adalah prioritas utama mereka.

“Setelah COVID-19, pertumbuhan ekonomi mulai membaik, dan kami ingin mempercepat serapan anggaran daerah agar perputaran ekonomi ini lebih terasa di masyarakat,” ujar Indrata.

Ia juga menyebut bahwa sektor pariwisata akan menjadi sorotan, di mana kunjungan wisata diharapkan bisa menambah pemasukan masyarakat.  Selain itu, Indrata juga menegaskan pentingnya perhatian lebih kepada sektor pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Pacitan.

PDRB terbesar Pacitan dari pertanian, dan banyak petani sukses di sini, mulai dari tembakau, kopi, sampai kakao. Karena itu, kebutuhan seperti pupuk dan bibit harus terus kita dukung,” tegasnya.

Indrata Nur Bayuaji menambahkan, tujuan utama pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Pacitan, Aji-Gagarin adalah mewujudkan Pacitan yang lebih sejahtera dan bahagia.  “Kami ingin lanjutkan kepemimpinan ini untuk membawa Pacitan ke arah yang lebih baik,” tutupnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Yusuf Arifai
PenulisYusuf ArifaiMagister Ilmu Hukum (MH) Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Wartawan Madya Nomor 21969-Unitomo/Wdya/DP/X/2024/21/10/93, Editor Bahasa Arab dan Penulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2021.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia