Budaya Megalitik Jadi Fakta Sejarah Bagi Masyarakat Sumba

TIMESINDONESIA, SUMBA – Pulau Sumba dikenal sebagai daerah yang masih memiliki budaya megalitik hingga saat ini. Diperkirakan ribuan tahun yang lampau, kebudayaan megalitik ini sudah ada. Ini jadi fakta bersejarah bagi masyarakat Sumba.
Demikian dikatakan pemerhati sejarah Sumba Umbu Djama, Rabu (19/2/2025).
Advertisement
Menurutnya, tradisi megalitik di Sumba sangat terasa dengan konsep pemujaan leluhur yang tercermin dari upacara-upacara ritual adat yang hingga sekarang masih berlangsung. “Memang hal ini tidak dapat terlepas dari kepercayaan asli masyarakat Sumba yaitu “Marapu” sabagai pemujaan leluhur orang Sumba,” katanya.
Seperti ungkap dia, penganut Marapu masih percaya adanya dewa-dewa di sekeliling mereka. Mereka percaya bahwa arwah nenek moyang masih tetap hidup sehingga mereka memperlakukan arwah nenek moyang secara istimewa.
“Perlakuan ini diwujudkan dalam bentuk pemberian sesaji secara berkala yang dipersembahkan kepada roh atau leluhur. Seperti di atap rumah sebagai tempat sesaji untuk para dewa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, batu megalitik asal dari batu putih yang keras yang mirip dengan marmer atau batu pualam. Batu ini didirikan di atas empat tiang batu dengan tinggi kurang lebih 1,5 meter yang mirip seperti sebuah altar dengan berat kurang lebih 40 – 70 ton.
Lebih lanjut ia memaparkan, untuk mendapat potongan batu besar ini masyarakat Sumba mengadakan upacara tarik batu atau “Tingu Watu” namun sebelum upacara berlangsung awalnya mesti mendapat ijin dari Marapu (roh pemilik atau penjaga batu).
Megalitik dibuat dari batu mulai dari batu pasir, batu andesit hingga batu granit. Pemilihan batu seringkali disesuaikan dengan kepercayaan dan status sosial individu yang meninggal dunia.
“Jadi batu-batu besar itu diukir dengan berbagai motif dan simbol yang sarat makna seperti motif matahari, bulan, hewan dan tumbuhan. Motif ini dipercaya memiliki kekuatan magic yang dapat melindungi roh leluhur,” ujarnya.
Umbu Djama menambahkan, keberadaan kubur megalitik di Sumba tidak hanya menjadi destinasi wisata namun menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Sumba tetapi sayangnya tradisi megalitik ini mulai terkikis oleh pengaruh modernisasi.
“Banyak generasi muda yang mulai meninggalkan tradisi leluhur dan lebih tertarik pada budaya populer,” tuturnya.
Ia berharap, pemerintah dan masyarakat tetap melestarikan budaya megalitik ini dengan memberikan edukasi pentingnya menjaga keberadaan kubur megalitik. Dengan demikian, warisan leluhur ini dapat dilestarikan. (*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Faizal R Arief |
Publisher | : Sofyan Saqi Futaki |