Peristiwa Daerah

Pakar Komunikasi UK Petra: Tagar KaburAjaDulu jadi Alarm Keras dari Generasi Muda

Rabu, 26 Februari 2025 - 19:48 | 7.52k
Dr. Ido Prijana Hadi, M.Si., dosen Communication Science Department PCU menanggapi trending tentang #KaburAjaDulu. (FOTO: Humas UK Petra)
Dr. Ido Prijana Hadi, M.Si., dosen Communication Science Department PCU menanggapi trending tentang #KaburAjaDulu. (FOTO: Humas UK Petra)
Kecil Besar

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Belakangan ini, dunia maya dihebohkan dengan fenomena #KaburAjaDulu. Dr. Ido Prijana Hadi, M.Si., dosen Communication Science dan Wakil Dekan Faculty of Humanities and Creative Industries Universitas Kristen atau UK Petra memberi pandangan bahwa tagar ini bukan sekadar bentuk protes.

#KaburAjaDulu merupakan sebuah tagar yang mencerminkan kesedihan mendalam dari generasi muda terhadap berbagai tantangan di dalam negeri. Hashtag ini mengungkapkan kekecewaan terhadap kesempatan yang terbatas dalam pekerjaan, pendidikan, dan kesejahteraan.

Advertisement

Masyarakat, khususnya anak muda, merasa semakin sulit untuk bertahan dan berkembang di Indonesia. Karenanya, mencari peluang di luar negeri menjadi pilihan.

“Ini lebih dari sekadar tagar. Ada keresahan di generasi muda yang merasa terpinggirkan. Mereka merasa peluang yang ada semakin sempit, dan solusi yang mereka lihat adalah dengan mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri,” jelasnya.

Dari sudut pandang Ilmu Komunikasi, Ido menilai bahwa tagar ini dapat dikategorikan sebagai simbol komunikasi atau propaganda, yang berfungsi untuk menyampaikan ketidakpuasan terhadap kondisi yang ada.

"Dalam komunikasi massa, kita mengenal konsep agenda setting, di mana simbol atau pesan yang disampaikan melalui media sosial dapat mempengaruhi opini publik dan bahkan kebijakan pemerintah. Hashtag seperti ini menjadi bentuk ekspresi dan harapan masyarakat agar pemerintah lebih memperhatikan kondisi mereka," ungkapnya.

Ido melanjutkan, media sosial punya kekuatan yang luar biasa dalam perkembangan fenomena tersebut.

“Hashtag seperti ini bisa menjadi pemicu bagi perubahan agenda pemerintah. Sebagai simbol ketidakpuasan, hashtag ini berfungsi untuk memberi tahu pemerintah bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Agenda hashtag bisa saja mendorong perubahan dalam kebijakan,” ujar dosen yang juga Wakil Ketua Umum 4 Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Pusat.

Di balik munculnya tagar KaburAjaDulu, Ido menilai bahwa kemajuan teknologi menjadi faktor yang berperan penting. “Dulu, media sosial tidak sebesar saat ini. Sekarang, teknologi memungkinkan masyarakat, terutama generasi muda untuk mengungkapkan protes mereka dengan cara yang lebih terbuka,” ungkapnya.

#KaburAjaDulu adalah cerminan dari generasi muda yang merasa terpinggirkan dan mencari tempat yang lebih layak untuk berkembang. Meski banyak anak muda yang mencari peluang di luar negeri, dosen yang memiliki kepakaran dalam komunikasi massa itu mengingatkan bahwa hal ini juga dapat menimbulkan dampak negatif bagi Indonesia.

“Jika terlalu banyak generasi muda yang pergi dan tidak kembali, Indonesia bisa kehilangan potensi terbaiknya,” kata Ido yang mengkoordinasi pengembangan ASPIKOM di Wilayah Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTT dan NTB.

Dalam menanggapi fenomena ini, Ido menegaskan bahwa pemerintah perlu merespons dengan kebijakan yang berpihak pada masyarakat.

“Pemerintah harus memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk berkembang di dalam negeri. Kebijakan terkait pekerjaan, pendidikan, dan kesejahteraan harus lebih jelas, dengan akses yang lebih besar kepada mereka. Transparansi dalam pengelolaan anggaran juga diperlukan agar kepercayaan publik lebih terbangun,” imbuhnya.

Melalui fenomena #KaburAjaDulu yang semakin meluas, Ido berharap agar pemerintah bisa mendengarkan aspirasi ini dan mulai menciptakan peluang yang lebih baik untuk anak muda.

“Generasi muda tidak hanya menginginkan pekerjaan, tapi juga membutuhkan kesempatan untuk berkembang. Pemerintah harus memperhatikan hal ini, agar anak muda merasa optimis dan memiliki harapan untuk masa depan mereka di Indonesia,” pungkasnya. (*) 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES