Advertisement
Peristiwa Daerah

"Jelajah Kalikajar" Tutup Meriah Festival Gumebyar 2025 di Wonosobo

Rangkaian Festival Gumebyar 2025 resmi ditutup hari ini, Sabtu (12/7/2025), dengan kegiatan puncak bertajuk "Jelajah Kalikajar", sebuah aksi eksplorasi alam dan budaya yang menggugah semangat warga dalam menyambut Dua Abad Hari Jadi Kabupaten Wonosob

TIMES Indonesia,
"Jelajah Kalikajar" Tutup Meriah Festival Gumebyar 2025 di Wonosobo
Kepala Disparbud Wonosobo (Agus Wibowo) bersama Camat Kalikajar (Aldhiana) membuka secara resmi Jelajah Kalikajar 2025 di depan Gedung Serbaguna Desa Klowoh, Kalikajar pada Sabtu, (12/7/2025. (FOTO: Panitia for TIMES Indonesia).
A-AA+

WONOSOBO Rangkaian Festival Gumebyar 2025 resmi ditutup hari ini, Sabtu (12/7/2025), dengan kegiatan puncak bertajuk "Jelajah Kalikajar", sebuah aksi eksplorasi alam dan budaya yang menggugah semangat warga dalam menyambut Dua Abad Hari Jadi Kabupaten Wonosobo.

Acara ini diselenggarakan oleh Pemuda dan Karang Taruna Desa Klowoh, Karang Taruna Kecamatan Kalikajar, serta Pemerintah Kecamatan Kalikajar dengan didukung oleh Disparbud Kabupaten Wonosobo. 

Advertisement

Selama empat hari terakhir, Festival Gumebyar telah menyuguhkan beragam kegiatan mulai dari kesenian adat, bazar UMKM, hingga program sembako murah. Sebagai penutup, "Jelajah Kalikajar" menghadirkan pengalaman menyatu dengan alam dan sejarah lokal yang berhasil menjaring lebih dari 300 peserta dari berbagai kalangan.

Menjelajahi Warisan Alam dan Budaya

Dimulai sejak pukul 07.30 pagi, para peserta diajak menelusuri sejumlah titik penting yang merepresentasikan kekayaan alam dan nilai budaya di Kecamatan Kalikajar.

Para peserta diajak untuk mengeksplorasi Tuk Bogowonto, mata air alami yang mengalir dari lereng Gunung Sumbing. Airnya yang jernih dipercaya masyarakat memiliki khasiat awet muda dan menjadi sumber kehidupan warga selama turun-temurun.

Kemudian ada Bukit Namu-Namu, sebuah bukit keramat yang hanya boleh dikunjungi pada bulan Suro. Kepercayaan ini diyakini merupakan bentuk pelestarian alam dari generasi ke generasi. Bukit ini menarik perhatian para peneliti karena diduga menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi.

Tak lupa juga para peserta menikmati keindahan alam berupa Curug Mangku, dalam bahasa Jawa mangku berarti memangku, yaitu karena curug ini terdiri dari dua curug berjenjang yang terlihat seperti sedang memangku.

Advertisement

Jelajah-Kalikajar-di-Curug-Mangku.jpg
Suasana damai dan tenang pada Acara Jelajah Kalikajar di Curug Mangku, salah satu spot wisata potensial di Kecamatan Kalikajar, Wonosobo, Sabtu (12/7/2025). (FOTO: Panitia for TIMES Indonesia).

Hal yang menarik perhatian peserta adalah keberadaan makam-makam di tengah lahan pertanian, banyak warga yang memiliki makam pribadi untuk anggota keluarganya, mencerminkan filosofi hidup warga yang menjunjung akar sejarah keluarga dan keterikatan dengan tanah leluhur.

Perjalanan juga memperkenalkan peserta pada Dombos (Domba Wonosobo), yaitu hewan ternak khas daerah yang menjadi kebanggaan sejak era 1960-an dan masih dibudidayakan hingga kini oleh warga Klowoh.

Tujuan Mulia: Dekat dengan Alam, Kembali ke Akar

Kegiatan ini tidak sekadar berjalan kaki menyusuri alam, tetapi menyimpan pesan mendalam. Ketua Karang Taruna Kecamatan Kalikajar, Yanuar Ardiansyah atau akrab disapa Yayan, menyampaikan bahwa "Jelajah Kalikajar" bertujuan untuk mengungkap potensi wisata tersembunyi yang nantinya bisa dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat, sekaligus mengajak masyarakat menepi dari hiruk-pikuk dunia modern dan kembali menyapa akar budaya mereka sendiri. Yayan juga menegaskan bahwa kegiatan ini akan dijadikan agenda rutin.

“Ke depan, kegiatan Jelajah Kalikajar akan dilaksanakan dua bulan sekali, dengan rute-rute yang terus kami eksplorasi dan kembangkan,” ujar pria yang juga sekretaris Tim Asistensi Bupati tersebut, Sabtu, (12/7/2025).

Gotong Royong Jadi Kunci

Sementara itu Kepala Desa Kwadungan, Bagio, menyampaikan apresiasinya atas partisipasi berbagai elemen masyarakat.

“Ini adalah bentuk nyata dari semangat gotong royong. Masyarakat, pemuda, pemerintah desa hingga kecamatan semua bersatu demi menyukseskan kegiatan ini,” kata Bagio, Sabtu, (12/7/2025).

Disisi lain, Camat Kalikajar, Aldhiana, yang juga merupakan pencetus ide kegiatan ini, terlihat turun langsung mendampingi peserta sejak pagi. Dalam wawancaranya, ia berharap kegiatan ini menjadi langkah awal lahirnya ekowisata Kalikajar yang berbasis budaya dan partisipasi masyarakat.

“Kami ingin menjadikan potensi lokal sebagai tuan rumah di negeri sendiri, acara seperti diharapkan dapat berkelanjutan yang manfaatnya juga ke masyarakat sendiri," Sabtu, (12/7/2025).

Semangat Baru dari Kalikajar

Dengan semangat kebersamaan dan cinta tanah kelahiran, "Jelajah Kalikajar" menjadi lebih dari sekadar kegiatan lintas alam. Ia adalah pertemuan antara sejarah, kearifan, dan masa depan. Suatu ikhtiar sederhana namun bermakna untuk memperkenalkan Kalikajar sebagai destinasi wisata yang tidak hanya indah, tetapi juga bijak dalam menjaga warisan budaya.

Festival Gumebyar 2025 pun resmi ditutup, namun gaung semangatnya justru baru dimulai, dari langkah-langkah kecil di tanah Klowoh menuju cita besar Kalikajar yang lestari dan mandiri. Harapan ini juga sesuai dengan semboyan besar bernama Wonosobo Asri, menuju negeri yang gemah ripah loh jinawi. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Mutakim
PenulisMutakimSarjana Ilmu Tarbiyah di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Urwatul Wutsqo (2019). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2025. Meliput berbagai topik berita, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya, gaya hidup, serta isu nasional maupun internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia